Mahasiswa BangetPojok #UNYu

Mahasiswa Hobi Nonton Anime Tidaklah Childish

Halo mahasiswa! Pernahkah kamu menemukan seorang mahasiswa yang lagi di kampus dan dengan asyiknya dia sedang menatap layar laptop, tetapi pas di-cek ternyata lagi nonton anime? Hahaha kena tipu deh. Mereka para mahasiswa yang nonton anime aja nontonnya serius, sehingga menimbulkan mahasiswa lain berpikir “Halah mungkin sedang baca berita terhangat atau nonton film bersejarah, tetapi ternyata nonton anime”. Status boleh saja mahasiswa, usia boleh saja dikatakan tua karena sudah menempuh kepala dua, tetapi hobi nonton anime masih saja dilakukan. Banyak orang beranggapan kalau mahasiswa yang nonton anime itu childish. Gampangannya anime itu kan seperti film animasi gitu yang biasanya ditonton anak kecil, jadi kalau orang dewasa masih suka nonton anime apakah bisa disamakan dengan anak kecil yang memiliki sifat kekanak-kanakan? Belum tentu lho. Sesungguhnya kami para mahasiswa yang suka nonton anime tidaklah childish lho. Mengapa?

1. Justru kami banyak belajar pengalaman kehidupan dari anime

    Stand By Me Doraemon

Meskipun banyak orang sekadar nonton anime hanya untuk hiburan semata, tetapi jika orang tersebut benar-benar menghayati anime yang ditontonnya, maka akan ada pengalaman kehidupan dari anime yang didapatkan. Kebanyakan orang beranggapan bahwa menonton anime hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat, eitz jangan salah justru kami mendapatkan pesan moralnya. Contohnya saja setelah kita menonton “Stand By Me Doraemon”, kita akan mendapatkan pesan moral yang cukup banyak, salah satunya bahwa kita harus berusaha dengan usaha kita sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan malah mengandalkan alat-alat ajaib. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa menonton anime ada keuntungannya kan?

2. Kami suka heboh sendiri, tetapi kami tidaklah childish

Aoharu X Kikanjuu

Misalnya ada anime yang baguuuuus banget dan cukup booming, terus ada season 2-nya, tetapi kami harus menunggu lama banget karena rilisnya masih tahun depan misalnya. Setelah anime itu rilis kami akan bahagia bahkan terkadang terkesan berlebihan bagi orang lain. Tetapi reaksi itu bagi kami tidaklah berlebihan karena hal tersebut merupakan ekspresi dari kegembiraan kami setelah sabar menanti begitu lama. Tidak beda jauh dengan orang yang menanti film (contohnya Superman). Orang yang benar-benar menyukai film tersebut, kebanyakan juga mengekspresikan dengan cara yang sama seperti kami. Yang membuat orang beranggapan bahwa kami terlihat childish bukan karena tindakan kami, tetapi karena STEREOTYPE yang menganggap bahwa anime adalah film yang dibuat untuk anak kecil, sedangkan film (seperti Superman) adalah film untuk semua kalangan. So, jangan sebut kami childish  lagi ya.

Baca Juga  Ini Lho, Suka Duka Kuliah Daring

3. Hobi nonton anime dapat dikatakan sebagai “otaku” yang identik dengan anti sosial dan pemalas, tetapi kami tidaklah seperti itu

Komunitas Jepang Rinjin-bu
(Komunitas Jepang Rinjin-bu Universitas Negeri Yogyakarta)

Yup begitulah. Hobi nonton anime identik dengan perilaku otaku. Dilansir dari web wikianimegz.com, pengertian otaku sendiri adalah istilah bahasa jepang yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang sangat mencintai dalam menekuni hobi mereka. Otaku dikenal dalam berbagai bentuk, seperti otaku anime atau manga, cosplay, game dan lain sebagainya. Otaku sering dipandang buruk oleh sebagian masyarakat, karena sering dipandang sebagai orang-orang yang tidak memiliki kehidupan layak, lebih sering diam diri di rumah dan tidak memiliki kehidupan bersosialisasi yang baik dalam lingkungan masyarakat. Dengan kata lain bahwa otaku identik dengan sifat anti sosial dan pemalas. Loh justru hubungan sosial kami baik-baik saja lho. Kami terbiasa bergabung dengan komunitas jejepangan, atau tiba-tiba menemukan teman baru di sosial media yang sama-sama suka nonton anime lalu kami melanjutkan hubungan pertemanan dan nggak terasa banyak teman di sosial media yang hobinya sama. Tiap ada event kami juga selalu menyempatkan waktu untuk saling bertemu. Itu merupakan bukti bahwa hubungan sosial kami baik-baik saja dan kami tidaklah anti sosial karena kami terbuka dengan siapa saja. Selain itu kami juga tidak pemalas kok. Kami masih menyempatkan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, untuk menyelesaikan skripsi, dan paling penting kami juga masih menyempatkan waktu untuk beribadah. Karena anime itu ibarat teman hidup kami, tetapi kami juga tetap memprioritaskan kebutuhan utama kami seperti belajar contohnya.

4. Membuat kami semakin kreatif

4
pic : lshinku.deviantart.com

Kreatif disini yang pertama berkaitan dengan karya handmade. Kan ada juga tuh mahasiswa yang saking sukanya dengan anime yang sedang ditontonnya hingga ia ikut kompetisi cosplay (itu lho kompetisi yang memperagakan kostum yang sama seperti di anime). Nah berbicara soal cosplay, hal ini bisa menjadi ajang kreasi kami. Sekalipun kami mengkonsumsi produk anime dari Jepang, tetapi rasa cinta terhadap budaya Indonesia tidaklah pudar. Kami bisa berkreasi dengan mencampurkan budaya Indonesia dengan Jepang pada kostum yang kami buat, misalnya ditambah dengan sentuhan batik atau wayang-wayang gitu. Kurang kreatif apa coba?

Baca Juga  Tipe mahasiswa seperti apa kamu ???

Dan yang kedua berkaitan dengan ilmu pengetahuan. To the point aja ya, maksudnya berkaitan dengan kasus skripsi pada jurusan kuliah tertentu, misalnya jurusan bahasa. Jika mau cari kasus untuk penelitian di skripsi kelak, bisa jadi anime menjadi sarana informasi atau objeknya. Mungkin bisa analisis struktur kebahasaannya. Nah keren kan? Bisa menjadi ide yang menarik untuk skripsimu kelak hihi. Tapi jangan lupa tanyakan dulu ke dosen pembimbingmu hehehe.

5. Belajar budaya negara lain dan menambah kosakata bahasa asing

5

Kalau poin yang terakhir ini bisa dikatakan bonus ya. Yup, sangat jelas kami mengkonsumsi produk anime dari Jepang. Otomatis anime tersebut juga menggambarkan budaya Jepang. Secara tidak langsung kan kami juga bisa belajar budaya Jepang melalui anime, yang baik kami serap, yang buruk tidak kami aplikasikan ke kehidupan sehari-hari. Selain itu juga menambah kosakata bahasa asing. Sekalipun kami belum begitu fasih menyusun kalimat dalam bahasa Jepang, tetapi setidaknya kami mempunyai kosakata bahasa Jepang yang cukup banyak, dan itu menambah wawasan kami.

Jadi, masih pantaskah kami, mahasiswa yang hobi nonton anime disebut childish? Hmm pikir kembali ya kalau mau mengkritik hobi orang lain. Bacanya santai aja lhoooo.

Bekti Renggani

Sastra Indonesia | 2014 | Mahasiswi yang suka nonton anime dan makan makanan Jepang

Related Articles

Back to top button
Close
X