Inilah Titik-Titik Misteri Di Kampus UNY | UNY COMMUNITY
Home / Misteri / Inilah Titik-Titik Misteri Di Kampus UNY

Inilah Titik-Titik Misteri Di Kampus UNY

SETENGAH abad lebih tiga tahun Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memisahkan diri dari UGM karena kebijakan otonomi kampus era Soekarno pada era 60-an. Beragam kisah terus bergulir. Generasi baru konstan berdatangan tiap tahun.

Alumni tersebar ajek ke pelbagai penjuru Nusantara dan mancanegara. Tapi ada yang luput dari ceritera itu. Kita acap kali abai terhadap masyarakat tak kasatmata yang hadir di sekitar. Alih-alih disapa, malah justru diacuhkan. Apalagi diusir.

Tulisan ini kususun untuk merawat ingatan itu. Tiga setengah tahun menempuh studi di kampus Karangmalang tak sekadar pengalaman akademik semata yang kudapatkan, tetapi juga ceritera klasik di luar nalar, baik dialami sendiri maupun dikisahkan teman-teman mahasiswa. Aku anggap rentetan peristiwa mistis—bila boleh dikatakan demikian—terjadi bukan karena kebetulan, melainkan tersirat pesan khusus.

Tentu pesan tertentu itu dianggap sebagian orang sebagai hoaks, angin lalu, bahkan dusta. Semula aku berpikiran demikian. Dulu aku berpikir rasional oleh karena didikan kampus yang cenderung mewacanakan realitas faktual sebagai kajian ilmiah.

Sedangkan kisah misteri tak pernah didedah karena hanyalah peristiwa fiksi. Yang terakhir itu dianggap hal remeh-temeh dan tak perlu digagas terlalu serius. Akan tetapi, asumsi tersebut berubah manakala kami melihat kejadian aneh sebagaimana kesaksian berikut.

Baca Juga  Kegiatan yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Sahur

Perempuan Murung di Stage Tedjokusumo FBS

SORE itu aku belum pulang ke rumah. Bersama teman-teman Ormawa FBS aku sudah berada di gedung lawas utara Pendopo Tedjokusumo. Kami punya hajatan malam itu, yakni gotong-royong mendekorasi panggung dan sudut lain agar terlihat artistik.

Beginilah cara kerja Ormawa kampus ungu: turun bersama, bahu-membahu, tak peduli ketua atau anggota, sebab bagi kami proses berkesenian tak mengenal identitas.

Gedung itu, menurut kami, menyimpan memori sendiri. Lintas generasi semenjak tahun 70-an pernah pentas di sini. Menurut sejarah gedung itu mulanya milik Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) yang kini telah melebur di bawah Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Beragam ceritera mengalir, baik disampaikan alumni maupun pengalaman pribadi. Di tengah gladi resik kami memperbincangkannya sebagai selingan.

Temanku menuturkan perempuan berambut panjang dengan baju putih kusut sering menampakkan diri manakala pentas berlangung. Ia dianggap sebagai salah satu penunggu setia Stage Tari. Perempuan itu bernama Utari.

Menurut pengakuan sebagian orang, pada tahun 80-an, perempuan itu adalah mahasiswi yang gantung diri karena depresi. Setidaknya ada dua sumber lokasi gantung diri: di Samirono dan Stage Tari. Keduanya memiliki bukti kuat yang hingga hari ini masih menjadi misteri.

Baca Juga  Resolusi 2016 Untuk Kampus UNY Tercinta

Apa betul perempuan berwajah layu dan pucat itu benar-benar Utari seperti halnya dituturkan khalayak? Tak ada yang tahu. Temanku bilang kalau ia bukan Utari asli, melainkan jin yang menyerupainya semata.

Sementara itu, bagi sahabatku lain, ia benar-benar Utari karena arwahnya belum sempurna sehingga masih bergentayangan. Kedua pendapat itu aku terima sebagai bagian dari keanekaragaman perspektif yang justru memperkaya kisah mengenainya.

Utari, bila betul dirinya, ingin menunjukan eksistensinya melalui pelbagai kesempatan pentas. Pernah pula ia tiba-tiba hadir di salah satu drama. Bejibun penonton tak menyadari kehadiran Utari pada salah satu adegan dialog.

Sosoknya dianggap pemain asli, meski di skenario tertulis tujuh tokoh, namun kenyataannya ketambahan satu pemain. Begitu pula tatkala pentas koreografi. Semula empat orang penari. Tapi sontak hadir salah seorang penari yang tak dikenal. Anehnya tak semua pentonton menyadari itu.

Selain Utari, “warga tak kasatmata lain” juga menghuni FBS berpuluh-puluh tahun lamanya. Pola penampakannya sama, yaitu melalui kontak fisik, suara, maupun penciuman. Beda tempat, beda penghuni (karakteristik). Yang lain tak seramah Utari. Silakan cek penunggu Pendopo Tedjokusumo, GK IV, Lab. Karawitan, PKM, dan Ruang Piano Gedung Seni Musik.

Bocah Riang antara FE dan FIS

Baca Juga  Buat Kamu Calon Guru, Lakukan 5 Hal Penting Berikut Untuk Menciptakan Suasana Kelas Kondusif

TERNYATA bukan aku saja yang melihat para bocah berlarian girang di jalan antara FE dan FIS itu. Padahal azan magrib baru saja selesai. Langit belum begitu hitam pekat. Siapa anak-anak itu?

Kok tampaknya senang betul dan berani bermain di lingkungan kampus yang sudah sepi. Pertanyaan-pertanyaan itu kupendam sendiri saat melewati lorong barat gedung utama FIS. Keesokan harinya kukonfirmasikan pengalaman itu kepada kerabatku Jurusan Sejarah.

Sudah kuduga. Ia membenarkan pengalamanku dan sambil mengernyitkan dahi tanda mengingat pertama kalinya merasakan pengalaman serupa. Bocah itu, katanya, memang sudah lama berada di situ. Sering kali mereka menunjukan wujud aslinya dengan suara cekikian khas anak kecil.

Sebagian mahasiswa, terutama aktivis, tak berani berjalan sendirian di sana bila hari bertambah malam. Mereka lebih baik memilih jalan alternatif, meskipun harus memutar jauh. Yang penting tidak bersua rombongan bocah gundul itu.

Kalau ditelusuri jejaknya secara diam-diam mereka biasanya lari ke arah selatan. Mungkin tujuan mereka di depan rektorat. Tepatnya di area tower dengan air mancur di sekelilingnya. Tapi belum aku tanyakan kenapa mereka ke sana. Apa mungkin mereka ikut demonstrasi menuntut UKT seperti sebagian kecil aktivis mahasiswa itu? Entahlah.

About Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Check Also

Mi Ayam Ciamik Sekitar UNY

SELAMA studi di UNY kamu jangan hanya kuliah dan organisasi semata, tetapi juga perlu wisata …