kisah Prihatin Suryaningtyas guru SM3T | UNY COMMUNITY
Home / Kabar Kampus / ” BAJAWA TEMPATKU MENGABDI ” kisah Prihatin Suryaningtyas salah satu guru SM3T

” BAJAWA TEMPATKU MENGABDI ” kisah Prihatin Suryaningtyas salah satu guru SM3T

Batara merupakan sebutan untuk kecamatan Bajawa Utara Kabupaten Ngada, Kepulauan Flores. Menurut cerita, nama kota Bajawa memiliki makna piring yang berasal dari Jawa. Ba dalam bahasa Bajawa berarti piring dan Jawa adalah salah satu pulau di Indonesia. Batara berbatasan dengan kecamatan Manggarai timur. Tambang pasir, pohon-pohon kering yang tumbang berserakan, abu-abu hitam hasil kebun yang terbakar dan semakin gundul, rumah-rumah berhalaman luas yang saling berjauhan, bak-bak biru penampung air, pohon-pohon kemiri dan jambu monyet yang kokoh berdiri, jalan belok naik turun di antara bukit-bukit adalah pemandangan pertama saat pertama kali dijemput bapak kepala sekolah.

Inilah kisah Prihatin Suryaningtyas, salah satu guru SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) Universitas Negeri Yogyakarta Angkatan IV yang bertugas sejak Agustus 2014 dan ditempatkan di SMKN Bajawa Utara. Gadis yang akrab dipanggil Attin tersebut mengatakan bahwa di sekolah ini memiliki bidang studi keahlian agribisnis dan agroteknologi. Sekolah yang terletak di tepi jalan raya Desa Perawea tersebut berdiri sejak 2009 dan pada tahun ajaran 2014—2015 ini memiliki siswa berjumlah kurang lebih 110 siswa dan 25 tenaga pendidik dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan dari kota Bajawa.

Baca Juga  Mahasiswa UNY Menjadi Perenang Terbaik di Kejuaraan Renang Antar Mahasiswa

10850189_868865646479668_6099223274237834060_n

Alumni prodi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut tinggal di asrama putri dekat sekolah. “Ada 3 orang guru termasuk saya dan 9 siswa penghuni asrama putri,” kata Attin. Pada zaman yang maju seperti sekarang, kecamatan Bajawa Utara merupakan salah satu daerah yang belum memiliki listrik. Hanya ada tiang dan kabel listrik yang baru saja didirikan. Begitu pula SMKN Batara. Saat malam datang, lampu sehen menjadi pelita di ruang tamu asrama putri. Lampu sehen merupakan lampu yang bersumber dari tenaga surya. “Listrik menyala dengan tenaga diesel pada pagi hari,” ungkap Attin, “saat itulah saya mengisi ulang baterai telepon genggam dan laptop.”

Menurutnya, harga solar di Bajawa Utara cukup mahal, yaitu lima puluh ribu rupiah per jirigen isi 5 liter. Jarak tempuh rumah ke sekolah sangatlah jauh, sehingga tinggal di asrama menjadi solusi mereka untuk tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Semangat mereka tidak pernah luntur untuk sepotong ilmu di bawah gunung. Pelita sebagai penerang sekaligus sahabat malam mereka belajar. Teriakan yel-yel saat latihan pramuka menambah semangat mereka untuk terus maju.

Baca Juga  Sebanyak 4.772 Mahasiswa UNY Siap Mengikuti KKN

Batara mengajarkan banyak hal baru. Menapis beras, menanak nasi, memasak sayur, menghemat air, menyetrika baju dengan setrika tradisional menggunakan bara api, melihat betapa indah alam ciptaan-Nya, saling berucap salam saat bertemu. Minum kopi dan teh bersanding biskuit saat pagi dan malam menjadi rutinitas setiap hari. “Pesiar ke rumah warga dan minum kopi di sore hari itu adalah salah satu cara untuk meredam rindu ingin pulang ke kampung halaman,” tutup Attin. (dedy)

Sumber : uny.ac.id

About admin

UNY COMMUNITY - Komunitas Mahasiswa dan Alumni UNY - kirim artikel menarik kalian ke redaksi@unycommunity.com, syarat dan ketentuan baca  Disini 

Check Also

Lowongan Guru Sekolah Eka Tjipta

Sekolah Eka Tjipta merupakan sekolah yang dikelola oleh Eka Tjipta Foundation (ETF) di lokasi perkebunan kelapa …