Pojok #UNYu

Toxic Productivity, Apa Itu?

Kehidupan mahasiswa sering kali dibanjiri oleh tekanan yang memaksa mereka untuk menjadi seseorang yang produktif tanpa henti. Namun, terkadang kita terjebak dalam perangkap “toxic productivity” yang dapat merugikan kesejahteraan kita. Mari kita bahas apa itu “toxic productivity,” apa penyebabnya, beberapa contoh, dan cara mengatasinya.

Apa itu Toxic Productivity?

Toxic productivity adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang produktivitas yang meracuni diri kita. Fenomena di mana seseorang merasa terus-menerus harus bekerja dan berkinerja tinggi tanpa henti. Hal ini dapat membuat individu merasa bersalah saat beristirahat, merasa tidak puas dengan hasil kerja mereka, dan seringkali berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental.

foto : blog.klob.id

Penyebab Toxic Productivity

Ada beberapa faktor yang dapat memicu toxic productivity, salah satunya adalah tekanan sosial. Mahasiswa sering merasa terdorong untuk bersaing dan mencapai standar yang tinggi. Media sosial dan komparasi dengan teman-teman juga dapat memperburuk perasaan ini. Selain itu, ketakutan akan kegagalan dan perasaan tidak berharga jika tidak produktif juga bisa menjadi pemicu toksisitas ini.

Baca Juga  Kamu Suka Hal-Hal Berbau Otomatisasi? Kuliah di Teknik Mekatronika UNY Saja

Contoh Toxic Productivity

Contoh konkret toxic productivity adalah saat mahasiswa merasa perlu belajar hingga larut malam tanpa istirahat, mengabaikan kesehatan fisik dan mental mereka. Mereka mungkin juga mengabaikan kebutuhan sosial dan rekreasi. Intinya, mereka mengorbankan banyak hal demi menjadi produktif.

Cara Mengatasi Toxic Productivity

1. Self-awareness: Langkah pertama adalah menyadari bahwa toxic productivity merupakan pola yang tidak sehat. Kenali tanda-tanda stres berlebih dan tekanan, seperti insomnia, perasaan cemas, dan kelelahan.

2. Tetap Realistis: Tentukan tujuan yang realistis dan seimbangkan pekerjaan dengan waktu istirahat. Ingatlah bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari produktivitas kita saja.

3. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental: Prioritaskan kesehatanmu, dari segi fisik maupun mental. Makan dengan baik, tidur cukup, berolahraga, dan jangan ragu untuk mencari dukungan jika merasa tertekan.

Baca Juga  Solusi Anti Jomblo buat kamu para jomblowan

4. Pegang Prinsip Diri: Tidak apa-apa untuk mengatakan “tidak” pada tumpukan tugas yang tidak bisa kamu tangani. Tetapkan batasan yang jelas untuk dirimu sendiri agar tidak memicu toxic productivity.

5. Koneksikan dengan Orang Lain: Jangan mengisolasi diri. Berbicaralah dengan teman, keluarga, atau konselor ketika kamu merasa tertekan.

6. Hargai Istirahat: Waktu istirahat dan rekreasi adalah hal yang penting. Jadwalkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bisa kamu nikmati dan yang membuatmu merasa rileks.

Kesimpulannya, toksisitas produktivitas adalah masalah yang perlu diperhatikan. Keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan adalah kunci untuk menjalani kehidupan mahasiswa yang sehat. Jadilah pemberani untuk mengakui bahwa kadang-kadang kita perlu istirahat dan menjaga diri. Seiring berjalannya waktu, kita akan menyadari bahwa keseimbangan ini akan membuat kita lebih produktif, bahagia, dan sehat.

Lusiana Indriani

Mahasiswi Sastra Indonesia 2016 | Menyenangi semua hal yang menyenangkan

Related Articles

Back to top button
X