Pojok #UNYu

Festival Watu Giring, Mengingatkan Pada yang Terlupakan

Setiap insan memiliki urusan dan tanggung jawab yang harus mereka tuntaskan, seperti pekerjaan. Rutinitas sehari-hari, menjadi salah satu pemicu kebosanan dan kejenuhan dalam beraktifitas, sehingga banyak orang berbondong-bondong mengunjungi tempat wisata di saat mereka memiliki waktu atau saat liburan tiba.

Wisata bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok dengan tujuan rekreasi dan hiburan serta memiliki persiapan tentang kegiatan perjalanan tersebut dengan jangka waktu tertentu. Secara etimologi, pariwisata berasal dari bahasa sansekerta, “pari” yang berarti banyak atau berkeliling dan “wisata” berarti perjalanan dan berpergian. Pariwisata menjadi salah satu sektor andalan Indonesia, mengingat negara ini memiliki begitu banyak potensi wisata yang tersebar dalam berbagai kategori, baik wisata alam, religi, edukasi bahkan budaya. Hal tersebut selaras dengan tujuan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata Indonesia dan memperkenalkannya ke dunia luar.

Tidak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah pun juga melakukan berbagai upaya untuk memajukan industri pariwisata di daerahnya. Seperti yang dilakukan Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, dengan membangun Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang dinilai mampu mendongkrak wisatawan untuk berkunjung ke destinasi wisata di Gunungkidul.

Baca Juga  Menjadi Jomblo Elegan, Why Not !!!
Wisata Watu Giring (Dika, 2020)

Dari begitu banyak destinasi wisata di Gunungkidul, ternyata belum seluruhnya dikelola dan dikembangkan dengan maksimal. Hal tersebut terlihat pada sebuah destinasi wisata unik yang berlokasi di Jelok, Pacarejo, Semanu. Dahulu daerah ini merupakan lahan yang digunakan untuk bercocok tanam masyarakat sekitar. Seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan iklim, daerah tersebut mengalami kekeringan yang menyebabkan masyarakat kesulitan melakukan cocok tanam, karena hanya mengandalkan air hujan. Karena situasi yang dinilai tidak kunjung membaik, masyarakat berinisiatif untuk mencari jalan keluar untuk bertahan hidup. Mereka melakukan penambangan batu yang ada di lahan tersebut untuk membangun rumah dan diperjual-belikan.

Festival Watu Giring (Dika, 2020)

Penambangan yang berlangsung terus menerus mengakibatkan kualitas batu yang diperoleh menurun. Sehingga masyarakat mencoba mencari lokasi penambangan yang lain, yaitu terletak sekitar 100 meter di sebelah barat lokasi penambangan yang sekarang dikenal sebagai tempat wisata Watu Giring. Bentuk bekas tambang yang unik dan menyerupai pura merupakan daya Tarik wisatawan. Terlebih dari tempat ini wisatawan dapat menyaksikan sunset saat sore hari dengan sangat jelas saat cuaca mendukung.

Setelah menjadi destinasi wisata sekitar tahun 2018 dengan berbagai fasilitas umum seperti tempat parkir, area foto dan toilet, tempat ini sempat vakum karena kurangnya pengelolaan dan promosi. Selain itu, saat wisatawan berkunjung di siang hari, panas matahari yang terik membuat wisatawan tidak dapat menikmati keindahan Watu Giring dengan leluasa. Sehingga diperlukan pembaharuan dan pengemasan baru terhadap wisata tersebut.

Baca Juga  Penasaran dengan Laboratorium PAUD UNY ? Berjelajah Bisa Jadi Solusimu
KKN Kolaborasi UNY 2020

Tercetus dari kerjasama antara Mahasiswa KKN Kolaborasi UNY 2020 bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rukun Lestari, tercetuslah sebuah inovasi baru yaitu Festival Watu Giring. Festival Watu Giring menyajikan suguhan wisata Watu Giring di malam hari, sehingga wisatawan dapat menikmati suasana bersama keluarga tanpa ketidaknyamanan akan terik matahari. Tujuan kegiatan ini adalah sebagai wadah untuk membuka peluang usaha dalam meningkatkan perokonomian masyarakat sekitar wisata Watu Giring. Acara dimeriahkan dengan aksi anak-anak Dusun Jelok yang menampilkan tarian-tarian tradisional, membaca puisi dan bernyanyi. Lagu-lagu kekinian juga dialunkan dengan melodi akustik. Sentuhan artistic pun tak ketinggalan untuk membuat objek Watu Giring terlihat berbeda dengan kemasan lampu halogen seperti panggung Ramayana. Festival Watu Giring dihadiri oleh perangkat Kelurahan setempat dan warga masyarakat dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan yang berlaku demi keselamatan bersama.

Dika Andri Pradana

Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Jerman

Related Articles

Back to top button
Close
X