Kritik Sastra Cerpen "Blokeng" Karya Ahmad Tohari | UNY COMMUNITY
Home / Sastra / Kritik Sastra Cerpen “Blokeng” Karya Ahmad Tohari

Kritik Sastra Cerpen “Blokeng” Karya Ahmad Tohari

   Bagi saya sastra itu adalah suatu wadah untuk menuangkan refleksi hidup paling total yang bercermin pada kehidupan sosial pencipta karya sastra. Sastra bisa menjadi wadah yang paling relevan untuk mengkritisi kehidupan sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat. Potret sosial yang tidak sesuai dan tak mengenakan hati bisa dituliskan dalam bentuk karya sastra. Itulah hal yang unik dari salah satu cerpen Ahmad Tohari yang berjudul Blokeng. Di cerpen ini bagaimana dipaparkan keblingsatan sebuah kampung yang terjadi karena adanya sebuah keanehan yang dialami blokeng. Ketika Blokeng hamil tanpa jelas siapa yang menghamilinya kampung menjadi ramai dengan pembicaraan banyak orang mempertanyakan pria mana yang begitu tega melakukannya kepada Blokeng. Blokeng ini wanita yang mengalami keterbelakangan mental tetapi secara biologis masih normal sebagaimana wanita biasanya. Itulah yang menjadi pertanyaan ketika seorang wanita yang memiliki keterbelakangan mental mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh. Lelaki mana yang begitu keji melakukan hal tersebuta pada Blokeng.

Baca Juga  Ajari Aku Mencintaimu dari Awal

   Disini saya melihat bagaimana potret sosial masyarakat mudah begitu ramai dengan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Rasanya peristiwa seperti ini tidak sukar kita temui di Indonesia. Kenapa tidak sukar? Anggapan saya karena budaya Indonesia yang mengenal gotong royong itulah yang menyebabkan suatu permasalahan bisa menjadi besar. Belum lagi dalam cerpen ini saya melihat sebuah citra buruk yang diberikan masyarakat kepada Blokeng. Kehamilan Blokeng memuncukan pergunjingan yang sangat ramai.

   Tetapi tidak sedikit pula karya sastra yang mewujudkan sebuah pengangkatan martabat masyarakat. Jadi bukan hanya pengkritikan saja. Kalau kita lihat dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa karya sastra itu memiliki sifat yang multifungsi. Mungkin karena disebabkan Blokeng itu wanita pasar menyebabkannya mendapatkan sinisme dari segelintir masyarakat yang melabelinya dengan wanita tidak baik. Pemecahan masalah dari cerpen ini adalah ketika akhirnya Pak Lurah Hadining memutuskan untuk menganggap anak yang dilahirkan Blokeng menjadi anaknya statusnya. Untuk mengurangi desas-desus dan pergunjingan yang menyelemuti masyarakat dalam sembilan bulan kebelakang ini. Ada hal unik pada pemecahan masalah disini. Dimana pak lurah Hadining memutuskan untuk semua warganya keluar menuju rumah Blokeng melihat kelahiran bayi Blokeng. Hal unik disini adalah ketika seluruh pria pada keluar untuk mengurang tuduhan kepadanya sebagai pelaku yang menghamili Blokeng.

Baca Juga  Puisi - Seimbang Tidak ???

   Latar yang dibuat Ahmad Tohari pada cerpen ini bagi saya adalah latar yang sangat mapan untuk menceritakan alur yang terjadi pada cerpen ini. Tetapi kepongahan yang ada pada kampung ini mengingatkan kita akan latar tempat dengan masyarakat perkotaan. Rasanya Tohari benar-benar dengan gamblang menjelaskan konteks kepongahan yang ada disini. Bentuk kepongahan yang ada adalah ketika Blokeng mengalami kejadian seperti itu. Tanggapan masyarakatnya yang pongah berdasarkan pada asas norma yang berlaku didalamnya. Walaupun bentuknya masih laten tetapi apa yang terjadi benar-benar terasa senyatanya.

   Cerpen Blokeng rasanya cocok untuk mengkritik sebuah bingkai masyarakat sosial yang penuh dengan kasak-kusuk, desas-desus, dan pergunjingan yang murahan tidak berlandaskan bukti yang kuat. Hanya disandarkan kepada kecurigaan dan soudzon yang dimiliki masing-masing warga. Potret yang sangat lumrah kita temui ketika kita berada di daerah pedesaan-pedesaan Indonesia. Dimana disana kepedulian akan sesama masih ada. Dan segala bentuk individualis rasanya masih sangat minim didapati. Ini adalah bentuk kepedulian yang berlebihan dalam menanggapi peristiwa yang terjadi. Kita semua sangat mengetahui bahwa segala apapun itu yang berlebihan tidaklah baik untuk kemaslahatan.

Baca Juga  Cerpen : Cantik di Berkas Waktu

   Perlu diketahui bahwa kritik saya pada cerpen ini sangatlah minim. Itu disebabkan karena kesukaan saya akan karya-karya Ahmad Tohari. Kesukaan tersebut menimbulkan sedikit fanatisme dalam diri saya yang dengan begitu memunculkan sebuah penilaian kurang yang minim. Dan bentuk kritik sastra saya akhirnya tidak benar-benar ditemukan. Atau kritik sastra saya pada karya Ahmad Tohari hanyalah semu belaka.

About Khairul Ma'Arif

Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2016 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta

Check Also

Terimakasih Bis UNY Kehadiranmu Sungguh Berjasa

Kampus UNY adalah kampus biru. Kampus yang sudah lebih dari setengah abad berdiri ini memiliki …