Menguak Makna “Nyeker” Abdi Dalem Kasultanan Yogyakarta
K.R.T. Jatiningrat juga menuturkan bahwa dari pangeran sampai abdi dalem, ketika memakai peranakan (busana Karaton), tidak memakai alas kaki ketika memasuki Karaton. Dalam hal ini, “nyeker” di area Kraton Yogyakarta merupakan bentuk dari demokratisasi bahwa manusia itu adalah saudara dan setara. Semua manusia itu berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi.
G.B.P.H. Yudhaningrat mengatakan bahwa selain untuk menghormati tempat yang dianggap suci, “nyeker” juga dimaksudkan untuk menjaga kesehatan para abdi dalem karena tanah berpasir yang ada di lingkungan Keraton Yogyakarta akan menjadi terapi syaraf tersendiri bagi para abdi dalem.
R.Ay. Sri Kusmiatun selaku keturunan dari Hamengku Buwono ke VII juga menjelaskan bahwa selain itu “nyeker” juga dilakukan untuk menghormati tempat yang dianggap suci seperti halnya ketika di masjid ada tempatnya untuk melepas sandal disebut juga dengan batas suci, jika dilihat untuk kesehatan juga bertujuan untuk menjaga kesehatan para abdi dalem karena tanah berpasir yang ada di lingkungan Keraton Yogyakarta akan menjadi terapi syaraf tersendiri bagi para abdi dalem. Tidak menggunakan alas kaki itu bermakna bahwa para abdi dalem itu juga dalam keadaan suci atau bersih dan datang dengan maksud baik ketika memasuki area Kasultanan Yogyakarta.
Abdi dalem yang bertugas di tempat lain seperti Gunung Merapi, Parangkusumo, Makam Raja Imogiri, dan Makam Raja Kotagede pun tetap melaksanakan budaya “nyeker” saat melaksanakan tugasnya. Mas Penewu Surakso Asihono, juru kunci Merapi yang merupakan anak dari Alm. Mbah Maridjan, menuturkan bahwa pada saat melaksanakan upacara labuhan baik di Gunung Merapi maupun Parangkusumo, abdi dalem tetap melaksanakan budaya “nyeker”. Padahal, medan yang ada di Gunung Merapi cukup terjal dan pasir Pantai Parangkusumo terasa panas di siang hari. Hal ini menandakan bahwa “nyeker” merupakan bentuk loyalitas abdi dalem terhadap Kasultanan Yogyakarta. Mereka rela tetap “nyeker” dalam keadaan apapun ketika menjalankan tugasnya.
Dari data yang sudah dikumpulkan dalam penelitan di atas, dapat disimpulkan bahwa “nyeker” selain sebagai aturan juga merupakan budaya yang sudah ada sejak zaman dulu dan masih berlangsung sampai sekarang ini. “Nyeker” bukan sesuatu yang asing bagi lingkungan Keraton Yogyakarta karena setiap apa yang dilakukan di Lingkungan Keraton baik bangunan atau upacara adatnya selalu memiliki makna dibaliknya. Seperti halnya “nyeker” yang mengingatkan bahwa sebagai manusia, kita harus ingat bahwa manusia itu menginjak bumi, berasal dari tanah, makan dan minum pun juga berasal dari tanah dan bersikap lemah lembut (lembah manah) terhadap sesama manusia yang lain. Selain itu, “nyeker” juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada tempat yang dianggap suci seperti Karaton Yogyakarta, menjaga kesehatan. “Nyeker” juga merupakan suatu bentuk loyalitas abdi dalem terhadap Kasultanan Yogyakarta karena dilaksanakan baik dalam keadaan panas maupun hujan ketika mereka menjalankan tugasnya.
“Mungkin di Dunia ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan, sebab semuanya terjadi karena suatu alasan”
-Silvers Rayleigh-
Penulis : Fahmi Marinda/ PGSD/ 2013




