Mi Ayam Ciamik Sekitar UNY | UNY COMMUNITY
Home / Jogjaku / Mi Ayam Ciamik Sekitar UNY

Mi Ayam Ciamik Sekitar UNY

SELAMA studi di UNY kamu jangan hanya kuliah dan organisasi semata, tetapi juga perlu wisata kuliner. Sebagai hasil kebudayaan, kuliner, betapapun, menempati posisi strategis dalam peradaban manusia. Bayangkan bila manusia hidup tanpa makan. Barangkali ia cuma hidup tapi tak menikmati kehidupan.

Beruntungnya kita lahir dan hidup di Nusantara. Tanyakan kepada siapa pun, baik orang tua maupun tetanggamu, negara mana yang bisa melampaui Indonesia dalam hal kuliner? Bukankah beda dusun beda sambal?

Saking banyaknya makanan di Indonesia, duta mancanegara tertarik bukan karena sistem politik yang rumit, melainkan keanekaragaman jajanan pasar. Karenanya, pelbagai jenis sajian legit itu kini disimbolkan sebagai identitas bangsa.

Kalau menyoal nasi goreng niscaya para bule itu teringat pada negeri mooi indie bernama Indonesia. Dengan demikian, tak heran bila kuliner merupakan alat strategis dalam diplomasi antarnegara.

Pada kesempatan ini saya tak mengulas tuntas sisi historis dan peluang kuliner Nusantara. Namun, atas dasar pengalaman empiris sewaktu kuliah di UNY (2011-2015), saya ingin berbagi salah satu jenis kuliner yang populer selama bertahun-tahun di Indonesia.

Baca Juga  Mides; Mie Lezat khas Pundong Bantul

Makanan itu tiada lain dan tiada bukan adalah mi ayam. Sejenis kuliner gurih dengan kuah dominan beserta mi, brambang goreng, salad, wortel, kubis, sawi, suiran ayam, dan pelbagai variasi tambahan lain.

Mi Ayam Pak Slamet

PERTAMA kali mencecap kuah mi ayam buatan Pak Slamet membuat saya jatuh cinta pada kenikmatan perdana. Tempatnya tak jauh dari UNY. Sekitar 50 meter belakang Indomaret Point, dengan melewati labirin Samirono, kita langsung menemukannya hanya karena bau minyak menusuk manja.

Harganya cocok bagi mahasiswa perantauan. Cukup mengeluarkan kocek Rp 8.000,- kita bisa menikmati semangkuk mi ayam biasa. Tapi, bila kamu maniak porsi, belilah mi ayam jumbo dengan harga Rp 12.000,-

Saya sepakat bahwa harga tak selalu menentukan rasa. Semahal apa pun makanan itu belum tentu cocok di lidah. Jadi, saya kurang sepakat dengan istilah ono rego ono rupo dalam konteks kuliner Nusantara. Tatkala mengajak beberapa teman kampus, sebagian dari mereka, seingat saya, pernah mengatakan kurang lebih begini:

Baca Juga  5 Wisata Embung di Yogyakarta, Wajib kamu Kunjungi

“Jangan kau dustai kuliner ini. Setiap sruputan beserta gulungan mi kuningnya sontak membuatmu melayang ke langit 7. Kalau kau mengunyah pangsit goreng, usahkan belum terlalu basah, mulutmu bisa mengeluarkan bebunyian kriuk-kriuk-kriuk yang menambah gairah dahar.”

Komentar dia membuat kawan lain tertawa. Walaupun Mi Ayam Pak Slamet tak menyediakan bakso, teman saya itu berinisiatif lain, yakni membeli bakso tusuk sendiri. Kolaborasi bakso tusuk ala Paijo dan mi ayam itu kemudian melahirkan tuturan berikut.

“Belum lagi empuknya bakso urat khas Paijo. Ia mampu menggoyang lidahmu. Bila kau cecap tubuhnya yang empuk itu, secara otomatis, kaldu di dalamnya, sedikit demi sedikit, menyembur keluar sampai terasa kental-kebasahan. Juga, yang tak kalah penting, kolaborasi micin beserta bumbu lainnya menambah kelezatan mi ayam.”

Mi Ayam Depan FIK

Kuahnya menyegrak kerongkongan pada suapan pertama. Ini tanda bumbu lada dan bawang goreng begitu kuat. Apalagi tambahan micin membuat cecapan kedua semakin melayang. Mi ayam dengan harga Rp 7.000,- ini saya pesan dengan porsi sawi yang fantastis.

Baca Juga  Uji Nyali Menantang, Naik Gondola di Pantai Timang

Konon, kata seseorang, bejibun dedaunan yang ikut direbus bersama mi justru membuat aroma kuliner menguat. Bau sedap ini menaikan gairah saat mengunyah sawi yang acap kali berbunyi krenyes-krenyes-krenyes.

Seketika saya berhenti mengunyah dan melihat sekitar. Tempat mi ayam ini begitu strategis karena berada di pinggir Jalan Colombo. Selanjutnya kumulai lagi ibadah menyantap kuliner ini di waktu yang berbeda. Selang beberapa hari saya mencoba variasi baru dengan kolaborasi ceker, kerupuk rambak, dan tentunya menu utama: mi ayam.

Cekernya nendang tapi dipatahkan kelenturan mi kuning agak gurih keasam-manisan. Kuahnya kental pekat dengan dominasi micin yan paripurna. Suiran daging ayamnya kurang asam-asin bagi lidah orang Yogyakarta. Mi ayam ini mengobati kekesalan saya sehari sebelumnya manakala pesan mi ayam di Garden Cafe tapi ternyata serasa mi rebus khas burjo. Kalau tak salah rasanya mirip Sarimie era 90-an.

About Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Check Also

Inilah Titik-Titik Misteri Di Kampus UNY

SETENGAH abad lebih tiga tahun Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memisahkan diri dari UGM karena kebijakan …