Passion: Antara Realitas dan Harapan bagi Mahasiswa | UNY COMMUNITY
Tuesday , 16 October 2018
Home / Pojok #UNYu / Passion: Antara Realitas dan Harapan bagi Mahasiswa

Passion: Antara Realitas dan Harapan bagi Mahasiswa

Passion will drive awesome performance (Rene Suhardono dan Impact Factory: 2016). Dalam bukunya Passion without Creation is Nothing, Suhardono dan tim Impact Factory mengatakan bahwa kinerja yang optimal hanya dapat dilakukan dengan kegembiraan yang luar biasa dalam menjalankannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah satu kata yang sepadan dengan kata passion adalah gairah. Arti gairah dalam KBBI yaitu keinginan yang kuat atau semangat. Contoh penggunaannya yaitu dalam kalimat ‘Gairahnya dalam bekerja menginspirasi orang lain untuk bekerja seperti dia’. Dari hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa definisi passion adalah gairah atau semangat seseorang yang sangat tinggi dalam menjalankan suatu hal. Dengan demikian, passion memberikan pengaruh yang besar terhadap masa depan seseorang. Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting untuk mengubah dirinya dan lingkungannya menuju perubahan yang lebih baik dengan passion yang ia miliki.

Dalam memilih jurusan, jurusan yang dipilih sesuai passion mampu memberikan luaran yang positif terhadap kegiatan perkuliahan mahasiswa. Secara psikologis, mahasiswa tidak mudah stress ketika dihadapkan dengan mata kuliah yang diambil dan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini penting sebab dengan keadaan psikologis yang baik, tugas-tugas kuliah dapat diselesaikan dengan baik pula. Mahasiswa akan bangga dan percaya diri dalam mengerjakan tugas dan mengaktualisasikan diri di kelas. Mahasiswa juga akan menikmati segala kegiatan selama perkuliahan dan merasa tidak terbebani. Dari sisi jasmani, mahasiswa juga tidak mudah terserang penyakit. Buruknya keadaan psikologis mahasiswa dapat berdampak pada kesehatan. Misalnya ketika mahasiswa stress, hal tersebut dapat memicu naiknya asam lambung seperti yang dikemukakan dalam www.alodokter.com. Sehingga ketika mahasiswa jatuh sakit, ia tidak bisa sepenuhnya mengikuti kegiatan perkuliahan dan akan ketinggalan materi. Namun dengan baiknya kondisi psikologis, kondisi jasmani mahasiswa pun juga akan baik. Dalam hal ekonomi, mahasiswa juga akan lebih mudah mengeluarkan uang untuk membeli buku yang dibutuhkan. Buku-buku yang ia beli dapat dijadikan sebagai sarana penunjang kelancaran studinya.

Baca Juga  Hadiah Wisuda Anti Mainstream dengan Harga Terjangkau
pic : twenty19.com

Dalam realitasnya, tidak semua mahasiswa memahami pentingnya passion dan memilih jurusan sesuai dengan passion-nya. Kurangnya pemahaman terhadap passion disebabkan oleh kurangnya mahasiswa dalam mengenali potensi diri. Di sisi lain, mahasiswa acuh tak acuh terhadap keputusan yang diambil. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak semua jurusan yang dipilih mahasiswa sesuai dengan harapan masing-masing atau biasa disebut dengan istilah ‘salah jurusan’, yang akan berdampak pada kehidupan perkuliahan mahasiswa. Dilansir dari https://news.okezone.com , sebanyak 87% mahasiswa Indonesia di tahun 2014 salah jurusan. Fenomena salah jurusan ini tentu berdampak pada bertambahnya pengangguran di suatu negara, sebab adanya ketidakcocokan profesi pekerjaan mahasiswa yang akan dijalani dengan jurusan yang telah diambil.

Beberapa faktor terkait passion dan mahasiswa dalam memilih jurusan diantaranya disebabkan oleh pilihan orangtua, pengaruh teman, dan seleksi masuk perguruan tinggi yang cukup ketat. Seorang mahasiswa bisa saja menghendaki pilihan jurusan tertentu, namun orangtua menyarankan atau menginginkannya untuk memilih jurusan lain yang dianggap lebih sesuai. Misalnya ketika orangtua beranggapan bahwa jurusan ekonomi lebih bergengsi, sebab nantinya mahasiswa tersebut dapat terjun dalam dunia bisnis yang menjanjikan. Namun, belum tentu mahasiswa tersebut sepenuhnya sependapat dengan mereka. Namun, karena desakan orangtua, akhirnya mahasiswa tersebut tetap memilih jurusan yang dikehendaki oleh orangtua daripada keinginannya sendiri.

Permasalahan yang lain yaitu, terkadang mahasiswa mendaftar jurusan tertentu karena faktor dari teman, terutama teman dekatnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri sebab seseorang yang memiliki kedekatan terhadap orang lain cenderung mudah terpengaruh oleh orang tersebut. Oleh karena itu, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa kemungkinan mahasiswa memilih jurusan tertentu hanya sebatas ‘ikut-ikutan’ bukan dengan mempertimbangkan passion yang dimiliki. Tidak masalah jika jurusan yang ia pilih atas dasar ikut-ikutan bisa diikuti dengan baik. Namun, akan menjadi masalah ketika ia tidak bisa bertahan dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi selama kegiatan perkuliahan.

Baca Juga  Dear Maba ; Inilah Perjuanganmu Setelah Menyandang Gelar Mahasiswa

Di sisi lain, mahasiswa terkadang memilih jurusan tertentu karena seleksi masuk perguruan tinggi yang cukup ketat. Perguruan tinggi yang ia pilih tidak menerimanya, dan ia diterima di perguruan tinggi lain yang jurusannya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Kemungkinan lain yaitu ia juga mendaftar di dua jurusan dari suatu perguruan tinggi, namun ia tidak diterima di jurusan yang sesuai dengan pilihannya yang biasanya terdapat pada pilihan pertama. Misalkan seseorang memilih jurusan matematika sebab ia memiliki ketertarikan yang tinggi dengan sesuatu yang berhubungan dengan angka dan logika. Namun, pada kenyataanya dia diterima di jurusan hukum sebagai pilihan kedua. Hal ini bisa jadi karena mahasiswa kurang mempertimbangkan apakah jurusan tersebut sesuai dengan kapasitas dan passion-nya atau tidak. Sehingga, mau tidak mau daripada tidak melanjutkan kuliah, maka ia tetap memilih jurusan tersebut. Hal tersebut tentu dapat menghambat kegiatan perkuliahan yang dijalani.

Berdasarkan permasalahan tersebut, tidak semua keputusan yang telah diambil berterima satu sama lain. Namun ada beberapa pertimbangan yang bisa dijadikan sebagai solusi dalam menyikapi pilihan yang telah diambil. Ketika mahasiswa sudah terlanjur salah jurusan, hal yang harus dilakukan yaitu memahami pentingnya passion. Dengan memahami pentingya passion, maka mahasiswa diharapkan mampu mengambil langkah terhadap kegiatan perkuliahan yang dijalani. Mahasiswa harus mempertimbangkan apakah selama ini jurusan yang diambil dapat dijalani dengan baik atau tidak. Dengan demikian, ketika mahasiswa memahami passion-nya, ia dapat mengembangkan passion yang dimiliki tidak hanya di ranah kampus, tetapi juga bisa di masyarakat, organisasi, komunitas di luar kampus.

Setelah memahami pentingnya passion, maka mahasiswa perlu mempertimbangkan untuk resign atau mengundurkan diri dari universitas yang dipilih. Mengundurkan diri sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Mengundurkan diri mungkin akan terdengar kurang ‘sedap’ bagi kalangan masyarakat. Namun, hal tersebut dapat menghindarkan mahasiswa dan orangtua dari beberapa dampak buruk seperti kerugian materi, jasmani, waktu, dan lain-lain. Setelah mengundurkan diri, mahasiswa dapat kembali menentukan pilihan terhadap kehidupannya, apakah dia akan melanjutkan untuk kuliah lagi di lain jurusan atau memilih untuk bekerja dengan bekal ijazah yang sudah didapat di sekolah formal sebelumnya. Sehingga kehidupannya akan lebih fokus dan terarah.

Baca Juga  Tips Merangkul Kehidupan Sosial Untuk Mahasiswa

Pilihan lain yaitu mahasiswa bertahan untuk tetap kuliah di jurusan yang tidak sesuai dengan passion-nya dengan segala risiko yang ada. Mahasiswa harus lebih banyak meluangkan waktunya untuk mempelajari mata kuliah yang berhubungan dengan jurusan tersebut untuk meningkatkan kapasitasnya. Hal ini tentu saja tidak mudah, namun harus tetap dilakukan. Bisa jadi, ketika kapasitasnya sudah meningkat, maka bukan tidak mungkin kegiatan perkuliahan yang ia jalani dapat sesuai dengan harapan dan realitasnya. Bisa jadi juga, mahasiswa tersebut dapat menemukan passion lain yang dulu tidak dimilikinya melalui kapasitas diri yang ia tingkatkan. Risiko yang lain yaitu mahasiswa harus siap untuk lulus tidak tepat waktu yang akan berdampak pada bertambahnya pengeluaran biaya kuliah, waktu, tenaga, dan pikiran untuk tambahan semester.

Dari penjabaran tentang passion dan jurusan yang dipilih oleh mahasiswa, dapat disimpulkan bahwa, mahasiswa harus memiliki passion sebagai pendorong utama kinerja dalam melakukan sesuatu dalam hal ini kegiatan perkuliahan. Sebab kegiatan perkuliahan merupakan salah satu fase dimana masa depan akan ditentukan. Mahasiswa perlu memilih jurusan sesuai passion, serta dibarengi dengan meningkatkan kapasitas diri, dan rasa ingin tahu terhadap disiplin ilmu yang ditekuni. Dengan demikian kegiatan perkuliahan mahasiswa dapat berlajan dengan lancar. Sehingga pada saat lulus, ia dapat mendapat pekerjaan yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan mengamalkan ilmu yang telah ia dapat selama kuliah.

About Retna Ikawati

Pengagum Bau Hujan, Se-Bar Nada-Nada dan Aroma Buku Baru

Check Also

Mengenal Lebih Dekat dengan Jurusan Pendidikan Kimia UNY

Menilik transformasi dari IKIP Yogyakarta menjadi UNY, fakultas hingga jurusan di bawah naungan universitas ini …