Pojok #UNYu

Perjuangan Nisa Meraih Beasiswa Telah Sampai pada Titik Penghabisan

Memiliki status mahasiswa yang melekat pada remaja yang baru lulus SMA adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Mengapa? Untuk menjadi mahasiswa tidaklah mudah, karena butuh perjuangan ‘habis-habisan’ hingga mampu meraih hal yang ingin diinginkan.

Tidak jauh berbeda dengan sekolah, kuliah pun juga perlu biaya. Seperti pepatah Jawa bahwa ‘jer basuki mawa bea’, yang berarti untuk mendapatkan apa yang diinginkan, manusia harus mengeluarkan biaya atau berkorban demi mendapatkan hal tersebut. Benar sekali kuliah sangat membutuhkan biaya. Mulai dari proses pendaftaran, proses ospek untuk membeli pernak-pernik dan segala macam aksesoris, hingga proses perkuliahan yang mewajibkan mahasiswa untuk membeli buku, print makalah, dan lainnya.

Hal ini membuat Nisa, dara cantik yang menyukai pantai ini sadar betul bahwa permasalahan ekonomi seorang mahasiswa terus membayanginya. Tidak heran bila ia pun juga sangat ingin mendapatkan beasiswa agar dapat meringankan beban kedua orang tuanya. Perjuangan Nisa untuk mendapatkan beasiswa pun tidak mudah. Seperti yang ia ceritakan bahwa sejak masuk kuliah, Nisa sangat ingin mendapatkan beasiswa karena ia sadar dari keluarga yang biasa-biasa saja (cenderung kurang). Dara cantik kelahiran bulan Februari ini merupakan mahasiswa jurusan sastra Indonesia yang kini menginjak semester enam. Pada semester satu, ia ingin mendaftar beasiswa bidikmisi, tetapi kuota sudah penuh dan tidak dapat mendaftar lagi.

Nisa Karina Widhiastuti/Mahasiswa Peraih Beasiswa PPA 2017

Lanjut ke perjalanan semester dua. Pada semester ini pun ia tertarik dengan beasiswa Supersemar yang infonya tertempel di papan pengumuman. Sayang, beasiswa tersebut ternyata untuk mahasiswa semester tiga, alhasil ia pun tidak jadi mendaftar. Pada akhirnya, semester tiga pun berlanjut. Sayang seribu sayang kembali, beasiswa Supersemar yang dulu ia impikan tidak ada lagi saat semester itu. Ia sudah berusaha mencari info, searching di laman internet juga, namun hasilnya nihil.

Baca Juga  Hai, Maba! Semoga Hari Awal Kuliahmu Mempesona!

Tidak hanya mencari beasiswa, Nisa pun mencoba untuk mendaftar penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena UKT yang ia dapatkan sekarang cukup tinggi dan tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat kedua orang tuanya. Meskipun sudah mencoba hal tersebut, ternyata hasilnya pun juga nihil.

Setelah itu berlanjut ke semester empat dan lima. Tuturnya, antara semester empat dan lima tersebut ada informasi beasiswa PPA dan BBP. Beasiswa yang cukup digandrungi oleh mahasiswa itu ternyata informasinya tidak menyebar secara merata, sehingga Nisa tidak mampu memenuhi persyaratan sampai batas yang ditentukan. Sebelumnya, ia juga telah mencoba mencari informasi tentang beasiswa tersebut, akan tetapi memang tidak ditemukan informasi apa-apa. Tiba-tiba saat ada info beasiswa PPA dan BBP sudah mau ditutup, hati Nisa sangat tergerus dan berpikir tidak mungkin mengumpulkan persyaratan pada waktu yang mendesak itu.

Pada akhirnya di semester enam ini ada tawaran beasiswa PPA lagi. Nisa senang sekali dapat informasi jauh-jauh hari, sehingga ia mampu menyiapkan berkas-berkas yang harus dikumpulkan. Dari proses seleksi yang dilakukan tingkat fakultas, ia lolos mendapatkan beasiswa PPA.

Baca Juga  Hai CAMABA, Fasilitas Berikut Ini Akan Membuatmu Semakin Tertarik Kuliah di UNY

Dari perjananan panjang Nisa untuk mendapatkan beasiswa itu sebenarnya tidak sulit. Semuanya butuh keuletan, ketelatenan, niat, aksi nyata, semangat dan pantang menyerah. Menurutnya, orang yang berusaha maksimal pasti akan mendapatkan hasil yang baik pula.

“Sebenarnya untuk dapat beasiswa itu tidak sulit. Semuanya tergantung pada diri kita sendiri, mau terus berusaha atau tidak. Yang penting sih harus selalu update info tentang beasiswa, meskipun belum dapat harus tetap berusaha sampai dapat. Harus maju terus dan nggak manja. Karena pada dasarnya perjuangan itu hanya untuk orang-orang yang mau rekoso”, tuturnya dengan sangat riang.

Nisa yang baru pertama kali mendapatkan beasiswa di bangku kuliah ini juga memberikan tips menarik untuk mengelola uang beasiswa. Menurutnya, uang beasiswa itu tidak digunakan untuk foya-foya. Akan lebih berguna apabila uang beasiswa tersebut digunakan dalam hal-hal yang menyangkut akademik, misalnya untuk membeli buku yang menunjang pendidikan. Kalau misalnya belum punya laptop dan uang beasiswa masih banyak, bisa juga untuk membeli laptop yang kecil, toh mahasiswa memang memerlukan laptop untuk mengerjakan tugas. Uang beasiswa baginya juga penting untuk beli kuota, asalkan kuota internet digunakan untuk hal-hal yang menunjang proses perkuliahan, misalnya untuk mengunduh ebook. Selain itu, baginya uang beasiswa itu perlu disisihkan atau ditabung, tidak langsung dihambur-hamburkan, karena uang kalau tidak dikelola dengan baik lama-lama juga akan cepat habis.

Bekti Renggani

Sastra Indonesia | 2014 | Mahasiswi yang suka nonton anime dan makan makanan Jepang

Related Articles

Back to top button
Close
X