OpiniPojok #UNYu

Pergeseran Makna Hijab Pada Mahasiswi

Mana yang lebih efektif? Meminta seorang untuk memakai hijab baru memperbaiki keimanan, atau sebaliknya? Disini saya akan mencoba menguraikan realita sosial yang terjadi di sekitar kita, termasuk yang terjadi pada mahasiswi  mengenai hijab.

Hijab sejatinya adalah suatu penutup kepala dan bagian yang disebut “aurat” untuk melindungi para perempuan muslim dari zina termasuk dosa. Selain itu, hijab jug sebagai simbol seseorang perempuan muslim yang taat. Ini yang saya tahu selama ini. Lalu, bagaimana dengan realita di lapangan?

10174904_570940296341314_5288986280768487401_n

Di Indonesia, banyak sekolah yang menuntut siswinya yang beragama Islam untuk wajib mengenakan hijab, meskipun sekolah tersebut adalah sekolah negeri. Tak jarang juga ditemui sekolah yang juga sampai menuntut siswi yang beragama selain Islam untuk mengenakan baju dan rok pajang walaupun tanpa kerudung. Lebih parah, pernah saya temui seorang guru yang mewajibkan semua siswinya mengenakan hijab saat berada di kelasnya. Jika tidak, maka siswi tersebut dipaksa keluar kelas. Tragisnya, siswa tersebut ternyata bukanlah seorang muslim.

Maka dari itu, tak jarang kita temui banyak perempuan yang melepas kerudung atau hijab selepas sekolah ataupun kuliah. Bahkan mereka bebas mengenakan hotpant atau tanktop kemana-mana, dan hal itu kini pun menjadi sangat biasa. Bahkan perempuan berhijab melakukan pencurian pun menjadi berita yang biasa. Termasuk juga perempuan berhijab yang melakukan pacaran dengan berpegang tangan, berpelukan, sampai dengan berciuman dengan pasangannya. Lalu, bagaimana nasib kehormatan wanita berhijab yang selama ini dijaga?

Semua hilang dan sirna begitu saja karena konstruksi yang kurang tepat. Image perempuan berhijab tak ada bedanya dengan yang tidak berhijab. Bahkan semakin banyak yang merusak image itu. Karena apa? Kembali lagi karena konstruksi yang kurang tepat dalam berhijab.

Baca Juga  Kamu Lelah dengan Rutinitas Kuliah? Coba Baca Beberapa Tips Berikut

Bukan menyuruh mereka berhijab lalu berharap mereka untuk beriman, tapi sebaliknya. Orang yang beriman dari dalam dirinya, sudah pasti suatu saat akan berusaha untuk memperbaiki diri menuju yang lebih baik. Jika belum juga dibukakan pintu hatinya untuk berhijab, maka bukanlah suatu hal yang merugikan kaum muslim lainnya, termasuk dengan dia belum menggunakan simbol-simbol agama seperti hijab itu. Maka, dengan itu hijab pun tak ternodai.

Jadi, jangan salahkan jika banyak orang yang menganggap hijab pada saat ini adalah mode atau fashion belaka. Lebih frontalnya, bisa dikatakan hijab adalah hanya sebatas setelah baju saja. Memang kenyataannya adalah begitu. Maka, tidak seharusnya kita menutup mata dan telinga atas realita sosial yang ada di depan kita ini, terkhusus adalah para perempuan muslim.

Baca Juga  JOGJA: Kota dengan Aneka Ragam Keramah-Tamahannya

Daripada “arabisasi”, lebih baik kita mengajak sesama untuk selalu berbuat baik pada orang lain, menebarkan kebaikan serta cinta, dan lainnya yang kesemuanya adalah proses perbaikan hati dan iman. Jika sudah, tanpa diminta pun seorang perempuan muslim yang beriman akan dengan sendirinya menyempurnakan diri dengan penampilannya, yaitu dengan mengenakan hijab dan pakaian yang sesuai tuntunan agama. Semua hanya tergantung pada waktu. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, “Siap dan sabarkah kita sesama umat muslim menunggu teman kita untuk benar-benar beriman dan berhijab dengan benar?” Tak hanya hijab di kepala tapi juga di hati tentunya.

Libriana Candra

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi |Menulis, Backpacking |amarisdaren.blogspot.com

Related Articles

Back to top button
Close
X