Mahasiswa BangetPojok #UNYu

5 Perbedaan SNMPTN dan SBMPTN, Calon Mahasiswa Baru Wajib Tahu!

Bulan Januari-Februari biasanya merupakan waktu bagi para mahasiswa untuk menikmati liburan setelah bergelut dengan pembelajaran semester gasal. Tapi hal itu tidak berlaku bagi para pelajar SMA yang duduk di kelas 12. Apalagi bagi siswa yang punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Lebih-lebih melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ya, bulan ini adalah bulan yang cukup ribet dan akan menjadi menegangkan jika sudah memasuki masa pengumuman. Seandainya bisa masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN, pasti akan menjadi hal yang membanggakan. Tapi akan mengecewakan juga jika belum bisa lolos. Meskipun belum bisa lolos dalam seleksi jalur undangan tersebut, masih ada jalur lain yang bisa dilakukan kok. Yaps, jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) jawabannya.

Sebenarnya, apa sih perbedaan kedua seleksi masuk perguruan tinggi tersebut? Secara penamaan, keduanya mirip banget, bahkan cuma beda satu huruf. Nah, kali ini kita akan bahas apa perbedaan kedua jalur seleksi tersebut. Yuk kita simak!

1. Waktu Pelaksanaan

SNMPTN biasanya dilaksanakan terlebih dahulu dibandingkan SBMPTN. Untuk persiapan, proses seleksi, sampai tahap pengumuman biasanya dilakukan pada bulan Desember-Maret. Momen pengumuman merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu sekaligus menegangkan bagi para siswa maupun sekolahnya. Nah, bagi siswa yang mengikuti seleksi jalur ini dan berhasil lolos, mereka tidak diperbolehkan mengikuti SBMPTN. Jadi, program studi apa yang akan dipilih nantinya harus dipikirkan matang-matang sehingga kedepannya tidak ada istilah “salah jurusan”.

Untuk SBMPTN, biasanya dilakukan antara bulan Februari-Juni mulai dari registrasi akun LTMPT, pelaksanaan UTBK, dan pengumuman SBMPTN. Di tahun 2022 ini, pelaksanaan UTBK akan dilaksanakan pada bulan Mei. Meskipun pelaksanaannya di bulan Mei, para pejuang UTBK harus mempersiapkan fisik, mental, dan pikiran jauh-jauh sebelum mengerjakan ujian. Jadi, untuk kalian para pejuang UTBK, sudah sampai mana persiapan kalian?

2. Biaya Pelaksanaan

Mengikuti SNMPTN itu ibarat semut menemukan bongkahan gula yang sangat besar alias gratis. Semut kan perlu pengorbanan untuk bisa mengangkat bongkahan gula yang besar. Tapi setelahnya, mereka akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki, apalagi cara mendapatkannya gratis. Sama seperti SNMPT, perlu perjuangan dan pengorbanan untuk bisa lolos sehingga bisa menikmati hasilnya dan bisa didapatkan secara gratis. Gratis disini dalam artian saat proses seleksinya saja, ya. Adapun untuk uang kuliah tetap ada sendiri, hehe.

Baca Juga  Merenungkan Ulang Makna Tri Dharma Untuk Mahasiswa ; Sekadar Konsepkah ?

Nah, kalau SBMPTN, kita perlu mengikuti ujian tertulis terlebih dahulu sehingga diperlukan biaya sekitar Rp200.000 – Rp300.000. Terdapat 3 jenis ujian yang terdiri dari dua materi, yaitu Tes Kemampuan Akademik (TPA) dan Tes Potensi Skolastik (TPS). Untuk ujian Saintek dikenakan biaya Rp200.000; ujian Soshum Rp200.000; dan Rp300.000 untuk ujian campuran (gabungan Saintek dan Soshum). Selain itu, biaya yang sudah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali.

3. Syarat Yang Harus Dipenuhi

Secara singkatnya, peserta SNMPTN harus memiliki NISN dan nilai rapor semester 1-5 yang sudah diisikan di PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa). Biasanya, peserta yang masuk dalam kuota SNMPTN adalah siswa  dengan grafik nilai yang tetap atau meningkat setiap semesternya.

Adapun untuk peserta SBMPTN, terlebih dahulu harus membuat akun pada portal LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi) yang nantinya digunakan untuk mengikuti UTBK. Selain itu, akun LTMPT juga dapat digunakan untuk melihat pengumuman hasil UTBK serta informasi lainnya. Untuk lebih detailnya, kalian bisa membuka website LTMPT supaya lebih jelas.

4. Kuota Penerimaan

Kuota yang disediakan untuk mahasiswa baru jalur SNMPTN sebanyak 20%.  Dalam proses penyeleksian, setiap sekolah diberikan kuota sebesar 5-40 persen tergantung dengan akreditasi masing-masing sekolah. Untuk sekolah dengan akreditasi A mendapatkan kuota yang bisa mengikuti SNMPTN sebanyak 40% siswa terbaik di sekolahnya; sekolah berakreditasi B mendapatkan 25% dari siswa terbaik di sekolahnya; dan sekolah berakreditasi C mendapat 5% dari siswa terbaik di sekolahnya.

Sedangkan kuota mahasiswa baru yang diberikan pada peserta SBMPTN sebanyak 40%. Memang lebih banyak dibandingkan kuota SNMPTN. Namun, peserta SBMPTN bukan hanya siswa kelas 12 yang lulus pada tahun itu, melainkan siswa kelas 12 yang tidak lolos SNMPTN di tahun 2020, 2021, dan 2022. Itulah alasan mengapa jalur SBMPTN merupakan seleksi yang lebih ketat dibandingkan seleksi lainnya.

Baca Juga  Ini Lho Letak Gedung PKM fakultas-fakultas di UNY
5. Sistem Penyeleksian

Seperti yang sudah dibahas  sebelumnya, untuk bisa mengikuti SBMPTN kita perlu mengikuti ujian tertulis atau UTBK. Nah, sebelum hasil UTBK diumumkan, biasanya peserta SBMPTN diberikan waktu untuk mulai registrasi dan memilih program studi yang diminati. Ini lah tahap yang paling membingungkan ketika mengikuti SBMPTN, peserta belum mengetahui berapa nilai UTBK nya. Dengan kemampuan mengerjakan ujian saat itu, apakah memungkinkan untuk memilih program studi yang diinginkan. Karena hasil UTBK sangat menentukan proses penyeleksian lolos atau tidak, momen menunggu pengumuman inilah titik pasrah para peserta. Hanya doa dan pertolongan Yang Maha Kuasa yang bisa diandalkan saat itu.

Adapun untuk SNMPTN, beberapa guru dan siswa masih belum bisa memastikan bagaimanan proses penyeleksiannya karena hasil yang sering tak terduga. Ada siswa yang dari semenjak semester 1-5 mendapatkan ranking 1 paralel berturut-turut namun tidak lolos dalam SNMPTN. Ada juga siswa yang setiap semester masuk dalam 30 besar paralel tapi bisa lolos. Jadi, proses penyeleksian jalur SNMPTN ini masih dipertanyakan sampai sekarang.

Jika dilihat dari berbagai sisi, SNMPTN memang lebih penak dibandingkan SBMPTN dan jenis seleksi lainnya. Tapi, untuk bisa menjadi bagian dari peserta SNMPTN perlu perjuangan sejak awal masuk SMA. Sebab, nilai rapor semester 1-5 dan prestasi akademik sangat berpengaruh pada proses penyeleksian. Meskipun siswa yang bisa masuk perguruan tinggi jalur SNMPTN dipandang sebagai orang yang cerdas dan pintar, hal itu tidak seratus persen berpengaruh pada proses belajar mengajar dan kesuksesan. Apapun jalur seleksi yang diikuti, kita semua tetap sama, gais. Jadi, tetap membaur dan terus kompak, ya!

Zahra Radhiyya M

Mahasiswi S1 Pendidikan Teknik Boga

Related Articles

Back to top button
X