Alun-alun Kidul: Sepenggal Surga di Selatan Keraton Yogyakarta | UNY COMMUNITY
Wednesday , 14 November 2018
Home / Cerpen / Alun-alun Kidul: Sepenggal Surga di Selatan Keraton Yogyakarta

Alun-alun Kidul: Sepenggal Surga di Selatan Keraton Yogyakarta

“Aku tidak ingin mengekangmu. Terserah. Bebas kemana engkau pergi! Asal aku ikut” ucap Marni kepada Jono.

Jogja memang tak pernah habis-habisnya dalam menyuguhkan berbagai tempat wisata.  Hampir di setiap jengkal waktu, ada saja wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Tidak percaya?

Pagi? Kita bisa melihat indahnya sunrise di Puncak Suroloyo, Gunung Api Purba, atau bisa juga di Kebun Buah Mangunan. Siang? Ada Malioboro dengan beragam pernak-perniknya: kerajinan tangan, baju, dan lain-lain. Sore? ada suguhan indahnya senja di Pantai Parangtritis, pantai Wediombo dan masih banyak lainnya. Malam? Ada Bukit Bintang, Tugu Jogja,  Malioboro, juga Alun-alun kidul dan masih banyak lagi.

So, jangan gundah apalagi gelisah ketika sampai di kota gudeg ini. Karena setiap waktu, selalu ada tempat yang menarik untuk dikunjungi di kota ini.

Sayangnya, semua kisah pengalaman indah itu akan terasa pahit bagi pasangan yang kandas di tengah jalan menuju pelaminan.

Hal seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Jono, pemuda dua puluh tahun yang sedang gigih melupakan bekas pacarnya.

Sebenarnya malam minggu ini ia berencana akan mengurung diri dalam kamar ditemani tugas dan buku-buku sastra kesayangannya. Namun, ia harus mengurungkan niatnya itu, sebab, selepas magrib ia di datangi oleh seorang teman sekelasnya. Susah mati ia mengelak ajakan temannya itu. Ia menolak bukan tentang jalan-jalannya, tetapi lebih ke tempat tujuan jalan-jalannya.

Kali ini, temannya mengajak Jono jalan-jalan ke Alun-alun Kidul Yogyakarta. Sebuah tempat yang saat ini sangat membosankan bagi pemuda yang sehari-hari menjalani profesi sebagai aktivis jomblo. Selidik demi selidik, ternyata Jono menolak ajakan temannya karena banyak kisah indah bersama mantan kekasihnya. Kisah yang berakhir dengan kesedihan. Karena itu, ia menolak dengan keras ajakan itu agar tidak teringat dengan kisah itu.

Baca Juga  Menikmati Indahnya Alam Puncak kosakora

Namun sayang, rupanya teman kelasnya lebih mati-matian membujuk untuk jalan-jalan ke alun-alun kidul. Alhasil, dengan di iringi rasa belas kasihan beserta rasa iba dalam dada, Jono akhirnya mau.

Dalam perjalanan menuju alun-alun kidul, Jono selalu terbayang-bayang kisah ketika masih berpacaran dengan Marni–perempuan yang telah resmi menyandang gelar “Marni, Ia.PJO” (Ikatan Alumni Pacar Jono).

Banyak pengalaman-pengalaman yang muncul begitu saja tanpa perlu di ingat-ingat oleh Jono. Misalnya bayangan ketika Marni mencoba “Masangin” (Melewati dua pohon beringin dengan mata tertutup), yang sontak memeluk Jono ketika ia bisa melewati dua beringin kembar di tengah alun-alun. Mengenai yang ini, Jono juga teringat saat Marni langsung menunduk dan berdoa lalu menangis. Entah karena apa ia menangis, Jono tak tahu menahu. Yang jelas, menurut selentingan-selentingan yang beredar di masyarakat, apabila kita bisa melewati pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup, maka doa kita akan terkabul. mungkin Marni terharu, atau entahlah.

Mengenai Masangin, ada beberapa orang yang mencobanya tanpa penutup mata. Mereka hanya menutup mata lalu berjalan berusaha melewati sela-sela kedua pohon beringin itu. Jono masih ingat betul, waktu itu Marni lebih memilih untuk menyewa penutup mata. Waktu itu masih seharga Rp. 5.000 sepuasnya, tetapi Marni justru membayar sepuluh ribu kepada bapak-bapak penyedia jasa sewa penutup mata. Maklumlah, mungkin saking senengnya bisa melewati pohon beringin itu.

Pengalaman tentang naik odong-odong dengan Marni juga muncul dalam benak Jono. Buliran keringat di kening Marni yang mengkilat terkena pancaran lampu-lampu hias, barisan gigi putih yang berubah menjadi warna-warni ketika tersorot lampu hias odong-odong ketika tertawa, rambut yang tergerai dengan indah yang terombang-ambing oleh hembusan angin malam, membuat hati Jono sangat tentram, damai dan bahagia karena bisa berpacaran dengan gadis lugu ini.

Baca Juga  Coklat Monggo Rasa Indonesia Kualitas Belgia

Ketika terdengar alunan musik keroncong dari perut, Jono tak perlu khawatir, sebab banyak pedagang kaki lima berjejer-jejer di pinggir alun-alun. Ia bisa menikmati kuliner khas Jogja sambil lesehan dengan di suguhi kerlap-kerlip bintang di atas kepala, juga kerlap-kerlip lampu hias odong-odong yang melaju pelan mengelilingi alun-alun, dan yang paling indah ialah orang yang sangat istimewa yang sedang duduk persis di depannya.

Tak hanya sampai di situ, bayangan ketika duduk berdua diatas tikar di lapangan alun-alun juga muncul di benak Jono. Untuk tikar, Jono tak perlu susah-payah membawa tikar dari kos, sebab ada beberapa orang yang menyewakan tikar dengan harga Rp. 5.000 untuk sepuasnya. Sayangnya, banyaknya pengamen yang datang silih berganti, menurut Jono, sedikit mengganggu kesyahduan malam kasmarannya.

Jono tersadar dari lamunannya ketika motor sudah dekat dengan alun-alun. Secepat kilat,  semua kenangan indah itu berubah menjadi menyakitkan. Ia sebenarnya tidak rela harus berpisah dengan Marni, tetapi karena perbedaan agama itu, mereka tidak bisa melanjutkan hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Semua kisah itu kandas, menyisakan puing-puing asmara yang dibangun selama dua tahun lebih dengan susah payah.

Jono yakin, jalan-jalan malam minggu ini tak sedikitpun membantu menghilangkan kejenuhan Jono setelah seminggu berkecimpung dengan tugas. Jono menuruti ajakan temannya hanya untuk melihat apakah ada yang berubah dari alun-alun ini. Sebuah alun-alun yang ketika masih berpacaran dengan Marni, mereka menganggap tempat ini sebagai, “Sepenggal Surga di Selatan Keraton Yogyakarta”. Itu dulu, sekarang sudah lain ceritanya.

Baca Juga  Menjadi Sephia Lelaki A

Setelah memastikan motor sudah terparkir dengan rapih, teman Jono langsung mengajak menuju pohon beringin kembar itu. Jono berpikir pasti temannya ingin mencoba Masangin, hal yang dulu pernah dicoba oleh Marni.

Jalanan sangat sesak dipenuhi kendaraan bermotor yang berjejalan dengan kerlap-kerlip odong-odong. Jono dan temannya berdiri sebentar di pinggir jalan. Mata Jono terbelalak, ketika melihat beberapa meter ke arah timur. Tepat pada sebuah odong-odong berhiasan kerlap-kerlip lampu berwana merah, sesosok perempuan dengan buliran keringat dikening, barisan gigi putih rapih yang berubah menjadi warni-warni terpapar lampu hias, dengan tawanya yang sangat khas, sedang asyik bercengkerama dengan seorang pria. Jono merasa seperti pernah mengenal perempuan itu.

Ia menarik lengan temannya yang hendak menyebrang. Ia meminta untuk menunggu sebentar. Temannya penasaran, ada perlu apa harus menunggu, padahal jalanan sedang macet-macetnya, jadi bisa menyelip di sela-sela kendaraan. Jono tidak peduli reaksi penasaran temannya itu. Matanya hanya terfokus ke arah timur dimana seorang perempuan sedang bercengkerama dengan seorang pria di dalam odong-odong.

Pelan namun pasti odong-odong itu mendekat. Dalam jarak kurang dari dua meter dari posisi mereka berdiri, akhirnya Jono bisa mengenali siapa perempuan itu. Perempuan yang dahulu menangis ketika berhasil melewati pohon beringin kembar. Perempuan yang dahulu selalu mengucapkan, “Aku tidak ingin mengekangmu. Terserah. Bebas kemana engkau pergi! Asal aku ikut” kini sedang asyik bercengkerama dengan seorang pria di sampingnya.

Jono mematung. Tubuhnya tak berkutik. Tatapannya kosong. Dan parahnya lagi, sepertinya permpuan itu tidak melihat ada seorang pria sedang berdiri mematung memperhatikannya di pinggir jalan.

About Andan Prayoga

Kutu Buku yang suka makan makanan pedas|

Check Also

Yuk Intip, Gimana Sih Jurusan Teknik Sipil itu?

Banyak orang yang bertanya-tanya mengenai teknik sipil. Termasuk saya pun awalnya bertanya-tanya apa yang dipelajari …