AsmaraOpiniPojok #UNYu

Fenomena Ghosting dan Kale Effect yang Terus Berputar Dalam Kehidupan

Di sosial media sampai hari ini masih berseliweran persambatan mengenai ghosting dan kale effect. Twitter, Instagram, WA story, Line, isinya masih banyak curahan hati para korban ghosting dan kale effect ini. Apa sih sebenernya ghosting ini? Kok banyak banget yang ngaku jadi korban ghosting. Oh ya, kalo kale effect adalah istilah yang barusan saya buat sendiri, dan kedua topik tentang anak muda dan asmara ini akan saya bahas satu-satu.

  1. Ghosting

Kata ghosting ini ramai digunakan pada akun-akun menfess di twitter dan draft kampus di line. Nah dua jenis sosial media tersebut menjadi sumber utama saya dalam mengulik tentang fenomena ghosting ini. Biasanya si pengirim curhatan tentang ghosting pada akun menfess atau draft kampus adalah korban dari ghosting itu sendiri.

foto : elitedaily. com/Kylah Benes-Trapp

Nah, ghosting itu apa sih? Menurut beberapa responden berdasarkan hasil riset kecil-kecilan saya nih, ghosting itu seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan yang umumnya terjadi pada hubungan tanpa status, kayak hantu, atau pemberi harapan palsu a.k.a PHP. Diperkuat oleh artikel Aprilia Kumala dalam magdelene.co, definisi ghosting adalah bentuk kekejaman emosional, membuat korban clueless hingga tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Jadi kalau kamu sedang “dekat” dengan seseorang, lalu dia ngilang dan pergi gitu aja tanpa ngasih kode atau tanda-tanda “aku mundur alon-alon”, fix doi pelaku ghosting dan selamat kamu jadi korbannya.

Baca Juga  3 Hal Sederhana yang Membuat Liburan Semestermu Jadi Nggak Tenang

Sakit hati? Iya lah! Sedih? Ho oh! Nangis? Keluarin aja seluruh emosimu. Gak papa, it’s normal! Tapi jangan berkelanjutan, life must go on katanya. Ada hasil dari beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa sakit hati akibat di-ghosting ini ternyata bisa mengaktifkan saraf sakit yang sama ketika badan merasakan sakit fisik. Iya, rasa sakitnya itu hampir sama kayak sakit fisik, kayak sakit kepala, sakit gigi, linu-linu, dsb.

  1. Kale Effect

Kalau kale effect ini sebenarnya istilah yang saya buat sendiri sih. Yaa karena banyak juga yang sambat menjadi korban seseorang yang kelakuannya mirip Kale dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Tokoh Kale dalam film tersebut adalah seorang laki-laki muda yang bekerja sebagai manajer sebuah band. Ia berteman dengan Awan, seorang perempuan muda yang baru saja keluar dari zona aman dan nyamannya. Jadi singkatnya si Kale ini ngajakin Awan masuk ke dunianya. Lalu si Awan bertanya pada Kale “Sebenernya kita nih apa sih?” dan Kale pun menjawab “Emang kamu maunya apa?”. Ada lanjutannya sih, penjelasan tentang si Kale, doi nggak bisa berkomitmen lah intinya, takut bahagianya orang lain jadi tanggung jawabnya doi.

foto : wikihow com

Nah, banyak nih cewek-cewek di menfess twitter yang ngerasa diginiin juga sama gebetan atau mas-crush-nya. Saya nggak tahu ya kenapa banyak cewek-cewek akhirnya curhat di twitter perkara doi dengan gebetannya, ya kenapa nggak diselesaikan dengan gebetannya aja gitu biar nggak digantungin kayak di film itu hehehe. Fenomena banyaknya curahan hati di menfess ini lah yang saya sebut kale effect, dan Awan – Kale yang menjadi representasi keadaan mereka. Sehingga jika ada satu orang mengirim di menfess, maka kolom reply akan penuh dengan “aku juga sama nder.” “kamu nggak sendiri nder!” lalu cerita masing-masing yang mirip kasusnya dengan si sender menfess.

Baca Juga  Kegalauan yang Pasti Dirasain Mahasiswa Setelah Wisuda

Dua hal diatas akan terus terjadi dan berputar selama masih ada manusia. Menurut logika saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang manusiawi. Dimana ghosting adalah tindak kejahatan emosional pada manusia dan kale effect adalah suara-suara yang muncul akibat ketidakmampuan seorang manusia dalam berkomitmen dan menjalin hubungan asmara dengan manusia lainnya. Hal itu hanya terjadi ketika kita masih menjadi manusia yang diberi kemampuan berpikir dan berperasaan. Sebagai manusia, kita boleh sakit hati akibat hal-hal tersebut, tapi kita juga harus menyadari, tentu ada penyebab mengapa pelaku melakukan hal tersebut kepada kita. Pasti ada sesuatu yang salah, entah pada diri pelaku atau pada diri kita, dan untuk keluar dari keadaan di-ghosting ataupun terkena kale effect kuncinya adalah komunikasi, selesaikan atau lanjutkan.

Related Articles

Back to top button
Close
X