MotivasiPojok #UNYu

Karakter Positif Masa Kecil Yang Layak Diperjuangkan Hingga Sekarang

Dunia kanak-kanak memang menyimpan kisahnya tersendiri. Umumnya anak-anak, yang belum memiliki tanggung jawab tertentu atas suatu hal. Bermain-main adalah cara menyikapi hidup. Tidak jarang pula hal itu membuat kaum dewasa merasa ingin kembali ke masa kecil saja yang tidak memiliki tugas tertentu selain main-main. Meskipun begitu, sesungguhnya jika dicermati lebih dalam, terdapat karakter positif masa kecil yang layak diperjuangkan hingga sekarang. Mengapa layak diperjuangkan? Satu alasan di antaranya adalah untuk menjadi pribadi yang lebih luwes menyikapi keadaan. Berikut adalah karakter positif masa kecil yang layak diperjuangkan hingga sekarang. Simak.

1. Gairah Semangat yang Dimiliki Anak-anak dalam Menjalani Hari-hari. Kita yang Dewasa, Bagaimana?

balap-karung
pic : satujam.com

Jarang rasanya anak-anak berkeluhkesah, kecuali jika sedang sakit. Keluhan anak-anak juga sangat simpel dan langsung kembali menemukan gairah semangat untuk menjalani hari-hari. Kalau diibaratkan warna, gairah semangat anak-anak itu ibarat warna hijau pupus. Ranum-ranum nggemesin. Hehe. Nah, karakter yang begini ni yang perlu diperjuangkan oleh manusia-manusia dewasa biar awet muda.

Sifat Polos dan Lugu pada Anak-anak, Umumnya Berbanding Lurus dengan Kejujuran. Kita yang Dewasa, Sudah Seberapa Tinggi Menjunjung Nilai Kejujuran?

Bertanyalah pada anak kecil, karena di sanalah muncul sebenar-benarnya jawaban. Cara anak-anak menjawab pun dibalut dengan bahasa yang kadang sedikit membingungkan, namun terasa sangat jujur, polos, lugu, dan membutuhkan perhatian khusus untuk mendengarnya. Karakter tersebut sudah sangat jarang ada pada orang dewasa. Untuk itu, tidak ada salahnya jika mulai memperjuangkan karakter kejujuran itu. Bukankah, kejujuran itu mata uang yang berlaku di mana-mana?

Baca Juga  Daya Tampung dan Peminat SBMPTN Universitas Negeri Yogyakarta 2019

2. Anak-anak Sangat Sederhana Memaknai Kebahagiaan, Misal dengan Berkumpul Bersama dan Bisa Main Apa Hari Ini. Tapi Orang Dewasa Sering Merasa Tidak Cukup.

Anak-anak Sangat Sederhana Memaknai Kebahagiaan
pic : satu-1-satu.blogspot.com

Oke, sama-sama sepakat jika beban yang dimiliki anak-anak bukanlah persoalan berarti pada umumnya. Bisa bertindak ini itu, main bersama teman sebaya misalnya adalah satu contoh memaknai kebahagiaan. Berbeda dengan orang dewasa yang kompleks menghadapi problema hidup. Tapi begini. Karakter positif masa kecil yang perlu diperjuangkan hingga sekarang adalah tentang cara memaknai kebahagiaan, yaitu dengan merasa cukup. Dengan begitu, rasa syukur akan tercipta dan makna bahagia jadi makin adem dan sederhana.

3. Menjadi Berbeda dan Unik Bisa Lebih Percaya Diri Dilakukan oleh Kebanyakan Anak-anak. Tapi Hukum Itu Tidak Berlaku pada Orang Dewasa

Berbeda dan Unik Bisa Lebih
pic : fimela.com

Terkadang, setelah menjadi dewasa, orang-orang sering lupa bahwa dulu di masa kanak-kanak ia pernah menjadi berbeda tapi tetap percaya diri dan selalu ditemani ceria. Hanya sedikit yang berani menjadi berbeda setelah dewasa. Padahal, menjadi berbeda itu tentang keberanian dan percaya diri.

Baca Juga  Ini Dia Animo Pendaftar PMB UNY 2017, CAMABA Wajib Baca

4. Bersama Orang Tua dan Keluarga, Anak-anak Bisa Sangat Dekat. Setelah Dewasa, Ada Jarak yang Membuatnya Tak Lagi Erat

Orang Tua dan Keluarga
pic : ceritamu.com

Ini tentang intensitas komunikasi. Baiklah, sewaktu kecil, anak-anak jelas menjadi tanggungan orang tua sepenuhnya. Hal itulah yang membuat hubungan anak dan orang tua emang dekat. Karakter kedekatan dengan orang tua dan keluarga itulah yang mesti diperjuangkan. Setelah dewasa, bukan berarti tak bisa dekat. Karena kedekatan fase dewasa bukan lagi soal intensitas pertemuan tatap muka melainkan kualitas hubungan dan penguatan yang dijalin meski itu via telepon dan semacamnya.

5. Anak-anak Menjalani Hidup dengan Santai. Tidak Semua Orang dewasa Bisa Lebih Rileks Menjalani Hidup.

santai
pic : ggpht.com

Jika hidup bisa dengan mudah dan santai dijalani layaknya karakter anak-anak, buat apa berpikir terlalu keras? Toh, makin dewasa mestinya makin bijak bersikap dan tepat menentukan langkah hidup, ya kan?

So, lets go ahead, gaes. 

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X