ArtikelPojok #UNYu

Mengenal Tradisi Islam Jawa Menyambut Bulan Puasa, “Megengan”

Bulan Suci Ramadhan mulai berjalan. Bulan yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh seluruh umat islam di dunia. Tak terkecuali masyarakat muslim Indonesia. Ada banyak hal atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam menyambut bulan suci ramadhan. Seperti halnya masyarakat Islam yang berada di Suku Jawa, mereka menyambut Ramadhan dengan tradisi turun temurun yang biasa disebut “Megengan”

Sumber : islam.nu.or.id

Dalam budaya Jawa, Megengan merupakan budaya yang dikenal dengan upacara yang disakralkan secara tradisi. Dalam Islam terdapat delapan bulan yang dinyatakan sebagai bulan suci, yaitu bulan Muharram (Suro), Shafar (Sapar), Rabi‟ul Awwal (Mulud), Rajab (Rejeb), Sya‟ban (Ruwah), Ramadhan (Poso), Dzulqa‟dah (Selo), dan Dzulhijjah (Besar). Pada bulan-bulan tersebut umat Islam Indonesia (Jawa) melakukan banyak ritual atau perayaan untuk memperingatinya, dan memang dalam delapan bulan tersebut mempunyai arti penting sehingga harus diperingati. Melalui peringatan atau perayaan itu keterkaitan dengan identitas sebagai Muslim diekspresikan melalui simbol-simbol tertentu. Pemaknaan filosofis bulan-bulan tersebut, lebih mudah apabila digunakan pendekatan sejarah Islam daripada kitab suci (al-Qur‟an) dan hadist sebagai rujukan utama pengambilan hukum Islam selain daripada ijma‟, qiyas, dan lain sebagainya. Pola umum peringatan banyak dengan kombinasi multi ritual, seperti berpuasa, berdoa, sholat sunnah, bersholawat, membaca Al-Qur‟an, membaca riwayat tokoh muslim atau mauizhah al-hasanah menyangkut kemuliaan bulan-bulan tersebut, menyedahkan makanan atau benda-benda lain sebagai symbol perayaannya

Baca Juga  JOGJA: Kota dengan Aneka Ragam Keramah-Tamahannya

Adapun kegiatannya sangat bermacam-macam sesuai dengan adat daerah setempat, tapi umumnya masyarakat Jawa biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur, membersihkannya serta menaburi bunga diatasnya dan tidak lupa mendoa’akannya serta ada juga yang membacakan yasin dan tahlil, kemudian Masak besar untuk dibagikan kepada sanak famili dan pada malam harinya mengadakan selamatan atau kenduri dengan mengundang para tetangga untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal, ada juga yang selamatan atau kendurinya diadakan bersama-sama oleh seluruh warga setempat dilanggar/mushola.

Sumber : Abdul Halim

Mungkin, saat ini tradhisi ini mulai ditinggalkan khususnya bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota, namun masih berjalan hingga saat ini bagi masyarakat yang tinggalnya di pedesaan. Tak jarang, momen ini selalu ditunggu tunggu karena identik dengan “Panen Berkat” yang pasti akan banyak lauk dan jajannya hehe

Baca Juga  Mengenal Lebih Dekat Jurusan Pendidikan Teknik Boga Busana UNY

Kita harus memahami bahwa megengan berada dalam ranah sosial-kultural (kemasyarakatan dan ke budayaan) yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid’ah. Orang sedekah dengan membawa ambeng (beragam jenis makanan) itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup, dan do’a-do’a sangat bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia, jadi megengan tidak hanya bermanfaat bagi yang masih hidup tapi juga bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia. Islam Jawa memang memiliki banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam, tradisi megengan ini sungguh merupakan salah satu tradisi khas yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain.

Tradisi ini adalah warisan leluhur yang sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan. didalamnya mengandung nilai-nilai yang sungguh sangat luar biasa seperti cara berhubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dangan alam ghaib serta manusia dangan tuhannya. Yang terpenting, tetap hargai nilai budaya dan jangan tinggalkan ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa.

Elza Dian Siswanto

Accounting 2018 Yogyakarta State University

Related Articles

Back to top button
Close
X