Pojok #UNYuTips

Menjadi Mahasiswa Itu Harus Sadar Gender

Apa itu gender? Apa bedanya dengan jenis kelamin? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali saya menyebutkan kata ‘gender’ di setiap forum diskusi baik formal ataupun non formal. Begitu selalu di ulang-ulang dengan pertanyaan yang tanpa sadar terstruktur begitu saja.

Sebenarnya jika kita membuka internet atau buku untuk mencari pengertian gender, maka akan banyak ditemukan berbagai pengertian gender yang sangat lengkap di sana. Walaupun begitu, saya memiliki pengertian yang sederhana tentang gender. Gender adalah pembeda antara laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada konstruksi atau budaya masyarakat yang mengarah pada sebuah peran. Biasanya hasil dari konstruksi tersebut muncul istilah Maskulin dan Feminin.

gender
pic : fysopgenderfocus.wordpress.com

Berbeda dengan gender, jenis kelamin adalah pembeda antara laki-laki dan perempuan yang didasarkan atas bawaan alamiah yang sudah ada sejak lahir. Seperti laki-laki yang ditandai dengan penis dan buah jakung, serta perempuan yang ditandai dengan vagina dan buah dada.

Jika sudah memiliki pemahaman tentang konsep gender, alangkah lebih baiknya jika kita memiliki pemahaman yang lebih tentang kesadaran gender. Yaitu, suatu sikap yang peduli tentang isu gender yang selama ini ada di sekeliling kita. Mulai dari isu dari lingkup paling kecil sampai dengan besar, seperti:

  1. Larangan laki-laki untuk bermain boneka, dan larangan anak perempuan bermain bola.
  2. Larangan anak laki-laki untuk menangis.
  3. Membiasakan perempuan untuk menjadi sekretaris dan laki-laki sebagai ketua.
  4. Konstruksi bahwa pemimpin harus adalah seorang laki-laki.
  5. Konstruksi bahwa laki-laki yang harus bekerja, dan wanita mengurus rumah.
  6. Konstruksi bahwa wanita harus mengenakan rok, bukan celana.
  7. Diskriminasi dan marginalisasi terhadap perempuan dengan tidak mengijinkan mereka memperoleh haknya untuk mengekspresikan dan mengembangkan diri di sektor publik.
  8. Kasus pelecehan, sampai dengan pemerkosaan.
  9. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) baik yang dilakukan oleh suami kepada istri atau sebaliknya, dan lain sebagainya.
Baca Juga  Pakaian mahasiswa PPL vs Pakaian Guru

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya agar isu gender tersebut berkurang di negara dengan budaya patriarkhi yang sangat dijunjung tinggi ini? Terlepas dari tinjauan agama, yang sebaiknya kita lakukan sebagai seorang mahasiswa adalah dengan peka terhadap isu-isu gender yang sedang berkembang itu dan mencoba merekonstruksi budaya yang dinilai menimbulkan ketidakadilan itu menjadi budaya yang realistis dengan mengapresiasi akan kompetensi dan kapabilitas seseorang. Terlepas apakah dia laki-laki atau perempuan. Sehingga resiko diskriminasi dan kekerasan berbasis gender yang terjadi di negeri ini pun dapat diminimalisasi.

Kalau bukan mahasiswa, siapa lagi yang bisa menggerakkan kesadaran gender di Indonesia. Sudah cukup banyak kasus diskriminasi, pelecehan, dan kekerasan terjadi di Indonesia setiap harinya. Apakah hati kita tak tergerak melihat permasalahan yang terpampang jelas di depan mata kita itu? Mengingat, setiap manusia memiliki hak yang sama untuk membuat hidupnya lebih baik.

Baca Juga  Meradarkan Rumus Eksakta Kehidupan? Cuma Anak FMIPA Yang Bisa Begini

Bukan masalah dia perempuan atau laki-laki, lalu perempuan tidak bisa melakukan apa yang bisa laki-laki lakukan, begitu pula sebaliknya. Yang terpenting adalah mereka melakukan segala hal atas dasar kemampuan mereka masing-masing dan tidak saling merugikan keluarga, dan satu sama lain.

Libriana Candra

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi |Menulis, Backpacking |amarisdaren.blogspot.com

Related Articles

Back to top button
Close
X