CerpenSastra

Cerpen – Sehari Berhujan

Aku terbangun, sebab lelehan hujan begitu ramah menyapa jendela kamar. Pagi yang tak biasa. Tak pernah kutemukan pagi seperti ini. Biasanya ada saja aktivitas yang kulakoni saat pagi berganti. Dan tidak untuk pagi ini. Benar-benar tak biasa. Terkutuk kurasa. Aku nyinyir, mengutuk pagi yang mungkin salah datang. Aku hambar, mengumpat kesendirian beku di apartemen 12 ini.

“Selamat pagi, Nona Key. Jangan lupa sarapan, sudah kusiapkan. Dan panaskan mesin mobilmu, ya.”

Itu suara Byan yang telah lebih dulu menunaikan aktivitas pagi di kantornya. Mataku basah lagi. Byan tidak membangunkanku. Itu berarti, pagi terkutuk ini bersebab ketiadaannya di ranjang kami saat aku bangun dari lelah panjangku. Kemarin pekerjaan kantor cukup melelahkan dan menyita perhatianku untuk Byan. Mestinya, Byan tidak balas dendam. Mestinya, ia menyapaku di ranjang seperti biasa. Agar pagiku menjadi biasa.

Yang lebih menggetirkan, Byan lupa bahwa hari ini aku libur. Pekerjaanku sudah kutunaikan dengan baik kemarin. Aku sangat berharap hari ini ia pun libur. Tapi gagal prediksiku. Ia bahkan akan pulang malam. Bisa apa aku seharian di apartemen ini sementara pagi ini pun berhujan?

Berbasah di derasnya air shower dan membayangkan tiba-tiba Byan masuk dan membalutkan handuk di tubuhku? Menyenangkan bukan berfantasi seperti itu? Atau seharian di ranjang menunaikan aktivitas cinta lewat pagutan asmara yang menyala. Gila! Apakah hidup sesederhana itu?

Aku sudah mandi dan mataku tidak lagi basah. Aku menelpon Byan.

“Akan sangat sibukkah kamu hari ini, By?”

“Aku pulang malam, Key. Ya, proyek ini agak memusingkan. Kamu rindu padaku?”

“Aku ke kantormu ya? Menemanimu. Nanti aku akan sibuk dengan garapanku. Aku janji.”

“Sayang, harus seperti itukah? Ini hujan.”

“Tunggu aku beberapa waktu lagi, please.”

“Baiklah, Nona Key.”

Aku nekat karena aku ingin. Belum pernah hal ini terjadi sebelumnya. Maka dari itu, aku pun bersemangat. Byan begitu suka puding semenjak kami menikah. Aku sudah membuatkannya. Begitu aku sampai di ruangannya, ia menyambutku hangat dengan sebuah kecupan kening.

Baca Juga  Puisi : Payung Teduh Kasih Sayang

“Untuk camilan kerjamu. Aku akan menempatkan diri di sudut sana agar kamu mudah mencuri pandang, By.”

Byan tertawa renyah dan kembali menciumku. Tapi tidak di kening, melainkan di perut yang saat ini tengah bernyawa itu. Aku sedang mengandung buah cinta kami. Buah pernikahan manis yang sebelumnya tanpa restu. Tapi kami bahagia. Bahagia, meski awalnya tanpa restu keluarga dari masing-masing pihak. Faktornya klasik sekali, bak skenario sinetron-sinetron murahan yang kini makin marak beredar. Perkara perbedaan status sosial ekonomi keluarga. Byan terlahir sebagai putra tunggal dari keluarga kaya raya sedangkan kehidupanku sangat sederhana. Tapi yang jelas, setelah melalui proses panjang melelahkan untuk mendapat restu keluarga, kami sudah mampu berdiri di ragam perbedaan dan satu cinta yang menyatukan.

Kusibakkan sedikit kaca jendela untuk mempersilakan keramahan suara deras hujan yang makin menghujam. Aku tidak berani menggoda Byan saat dia tengah asik dengan pekerjaannya seperti ini. Bahkan, berucap sepatah kata pun aku tidak berani kecuali ia yang memulai.

Pada layar laptopku, kubuka foto-foto manis masa pacaran kami. Seperti cerita-cerita klasik umumnya tentang masa KKN. Ya, seperti itulah awal kisah cinta ini dimulai. Kami mengalami fase cinlok (cinta lokasi) di usia 45 hari masa KKN itu. Waktu itu, kami berbeda kampus dan latar belakang pendidikan. Ia seorang calon insinyur, sementara aku seorang calon editor naskah. Tidak ada foto yang tidak menyenangkan pada masa pacaran kami. Semua tampak sangat manis dan akan membuat para jomlo makin mlongo. Makanya, kunikmati sendiri saja.

Mungkin semua sudut di kota J ini sudah pernah terkena jepretan kamera Byan. Kami cukup percaya diri bergaya di depan kamera di setiap tempat yang pernah kami kunjungi. Itu sebabnya, setiap momen adalah berharga untuk kami dan tidak ada satu peristiwa pun tak terabadikan melalui kamera Byan. Kami pun memiliki beberapa back-up data untuk meyimpan foto-foto agar kemungkinan hilang itu menjadi terminimalisasi. Jika menyimak betapa harmoninya kami sebelum bersama-sama mengikrarkan sakral ijab kabul itu, rasanya aku ingin mengulangnya kembali. Tapi, bukankah kehidupan akan terus berlangsung?

Baca Juga  Cinta, Apakah Jodoh?

Masa pacaran dua tahun memutuskan kami mengakhiri masa lajang di usia yang nyaris sama. Tentunya saat itu, kami sudah mendapat restu dari keluarga masing-masing. Aku tidak ingin menyimak foto-foto pernikahan kami karena jumlahnya lebih sedikit dari foto masa pacaran kami. Dan tidak ada tantangan lebih untuk mengingat tanggal berapa kejadian itu berlangsung. Sementara jika memandang foto masa pacaran kami, aku bisa gregetan mengingat kapan kejadian itu berlangsung. Menarik bukan mempersulit diri sendiri saat mengulas kenangan melalui foto-foto manis itu?

Sehari berhujan ini memang aku tidak sedang hidup di masa lalu. Tapi entah mengapa, nuansa hujan selalu memiliki alasan tersendiri untuk beraktivitas seperti ini. Mengingat masa lalu, yang menyenangkan atau menyedihkan. Kupergoki Byan yang tengah ruwet menatap layar laptopnya. Ia seorang insinyur yang kini sedang dihadapkan pada proyek pembangunan salah satu daerah di kota J. Aku buta dalam hal itu. Maka, sesungguhnya aku tidak memiliki solusi atas proyeknya itu. Mungkin tebaran dukungan, doa, dan cinta saja yang bisa kuberikan jika sudah begitu.

“Ke toilet dulu, Key. Panggilan alam menghadang.”

Kekonyolan Byan memecah keheningan. Aku terbahak mendengar izinnya. Di balik wajahnya yang serius, ternyata sifat konyolnya yang tiba-tiba itu mampu memecah berbagai suasana, apa pun namanya.

Tak lama kemudian, ia perlahan mendekatiku dan mengertilah ia bahwa selama aku berada di ruangan itu bersamanya aku sedang beraktivitas mengingat masa lalu melalui dokumen foto di laptop.

“Aku selalu ingin menciummu jika memandang foto siluet ciuman di sunset pantai.”

“Dasar modus. Bilang saja kamu tidak hanya sekedar ingin membuat siluet. Tapi sebuah kenyataan.”

“Apa kamu tidak bosan jika kulakukan ini setiap hari?”

Dan bibir kami kembali berpagut cukup lama. Kami mengulanginya terus menerus. Tanpa kata. Tanpa desahan panjang seperti di ranjang. Tanpa ada seseorang mengganggu kesakralan ciuman itu. Masih di hujan yang seharian ini lembap membasahi dinding jendela.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X