Semalam Bersama Bu Sumirah | UNY COMMUNITY
Home / Pojok #UNYu / Semalam Bersama Bu Sumirah

Semalam Bersama Bu Sumirah

Pada 28 dan 29 April lalu, saya dan temanku mendapat pengalaman yang berharga. Kejadian ini bermula ketika seorang nenek renta sedang kebingunan lagi kesusahan agar bisa pulang.

***

Seperti biasa saya ke Indomaret Point Gejayan untuk menggarap tugas. Sangat kebetulan dan sedikit terkejut ketika menjumpai kenalan saya, Harris. Ia mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan. Ya, berbeda denganku, dari Fakultas Ilmu Sosial. Tapi kami dipersatukan dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama. Sehingga kami sudah cukup mengenal.

Harris sedang menggarap UTS take home-nya. Saya ikut bergabung dengannya. Ya, sekedar menanyakan kesibukannya dan tanggungan deadline yang belum lunas.

Sambil menunggu laptop booting, saya mengamati sekitar. Ada yang menggarap tugas seperti kami, sekedar nongkrong sambil merokok, dan yang bikin sakit, mereka yang berkencan.

Namun di antara mereka, ada yang membuat iba. Di sebelah kanan kami, tidur seorang perempuan tua. Memakai dua kursi sekaligus untuk menumpu badannya. Badannya pendek dan gemuk. Di sampingnya tas tenteng hitam yang sudah kusam. Di mejanya, sebungkus roti kasur.

Baca Juga  Hanya Mahasiswa Asal LAMPUNG yang Merasakan Hal Ini

Sebelumnya, Harris sudah berinteraksi dengannya. Ia mengatakan padsaya bahwa nenek itu berasal dari Kendal, Jawa Tengah. Namanya Sumirah. Niatnya untuk menemui anaknya tapi tidak bertemu. Sudah sampai di Jogja, anaknya tidak dapat dihubungi. Perasaan kecewa dan sedih nampak dari wajah keriputnya. Bahkan kami tidak tega menatapnya. Ia juga sudah menghubungi suadaranya di Wirobrajan, namun mereka sedang di luar kota. Tidak ada yang menjemputnya. Membuatnya harus menetap.

Malangnya, tak ada uang yang tersisa untuk pulang. Untuk makan pun tidak ada. Roti kasur di mejanya merupakan pemberian. Harris mengatakan sudah memberinya sepuluh ribu rupiah.

Nenek itu terbangun. Suara mencekik dari knalpot motor racing mungkin membangunkannya. Saat itu juga Harris pamit ingin ke kosnya. Katanya buku materinya tidak ketinggalan.

“Semangkanya manis, ya?” Seolah menanyaiku yang saat itu mengunyah semangka.

Kupalingkan muka ke arahnya, “Iya Nek. Mau?” sambil menyuguhkan. Kemudian diambilnya bagian yang paling besar. Ia juga menawari roti kasurnya. Saya menolaknya karena kenyang.

Baca Juga  Tentang Cinta dan Kemelut yang Selanjutnya Disebut Perpisahan

Saya kembali ke kursi. Melanjutkan tugas kuliah yang baru sampai bab satu. Menghiraukan ia yang sedang mengunyah semangka. Ia menanyaiku perihal asal, kuliah di mana, semester berapa, dan lainnya. Kujawab dengan singkat dan seadanya.

Harris kembali. Ia membawa sebungkus nasi goreng dan langsung diberikan kepadanya. “Terima kasih,” balasnya singkat dengan sedikit senyuman. Harris tahu bahwa ia tidak suka roti, inginnya nasi.

Habis sudah nasi goreng itu. Ia lanjut tidur. Begitu juga dengan kami yang masih dengan tugas perkuliahan.

Setelah Harris selesai, ia pamit lagi untuk paling. Kali ini tidak kembali. Tinggal diriku dengan Bu Sumirah. Saya sudah biasa saya bermalam di situ, menyelesaikan tugas kuliah atau deadline tulisan yang dipaksa harus selesai tepat waktu.

Jam demi jam dilalui dengan mengetik hingga pagi. Sekitar jam lima pagi, Bu Sumirah bangun. Saya masih bermain dengan Ms.Office Word.

“Jam berapa, Nak?”

“Jam lima.”

“Saya tidak punya uang untuk balik,” curhatnya memelas.

Saya sontak mendatanginya. “Butuh berapa, Bu?”

Baca Juga  Dear MABA, Berbanggalah Kamu Telah Berhasil Diterima Sebagai Mahasiswa UNY

Ia mengeluarkan dompetnya, sambil menghitung uangnya. Dua receh lima ratus, lima ribu, dan sepuluh ribu. Saya memberinya sepuluh ribu.

“Apakah cukup, Nek?”

Ia menceloteh lagi, “Nggo Trans Jogja telu setengah, bis e telung puluh, engko nek arep neng Kendal, butuh akeh maning,” dengan wajah resah. Saya memberinya dua puluh ribu lagi. Itu yang kupunya, kuberikan semuanya.

Diriku berpikiran lebih baik ia diantar menggunakan motor. Kasihan, bahkan untuk jalan kaki saja terlihat kesusahan. Belum lagi ia harus menemukan halte Trans Jogja terdekat.

Saya menghubungi Harris agar dapat mengantarnya langsung ke stasiun. Namun, Bu Sumirah alot. Ia mengatakan lebih baik naik Trans Jogja saja. Sekitar jam enam Harris datang. Bu Sumirah tidak ada pilihan lain selain mengikutinya.

Sedikit kesusahan ketika ia menaiki motor. Butuh beberapa menit hingga berhasil duduk. Pergilah mereka ke Terminal Jombor. Semoga Bu Sumirah sampai rumah dengan selamat.

Saya dan Harris bertemu dua hari kemudian di Student Center. Ia mengatakan memberinya tiga puluh ribu rupiah lagi.

About Yonky Munandhar

Mahasiswa Ilmu Sejarah yang membutuhkan makanan tiga kali sekali

Check Also

Mengenal 5 UKM Bidang Penalaran di UNY, Sudah Menelurkan Banyak Prestasi Loh!

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) sudah dimulai. Ini merupakan ajang calon mahasiswa untuk bersaing dengan calon …