Sky Castle : Drama Yang Membuka Mata Tentang Gilanya Sistem Pendidikan | UNY COMMUNITY
Monday , 24 June 2019
Home / Motivasi / Sky Castle : Drama Yang Membuka Mata Tentang Gilanya Sistem Pendidikan

Sky Castle : Drama Yang Membuka Mata Tentang Gilanya Sistem Pendidikan

Akhir tahun 2018 sampai awal 2019 lalu dunia per-drakor-an dihiasi oleh drama komedi keluarga yang berjudul Sky Castle. Sky Castle merupakan perumahan elite yang dihuni para dokter dan pengacara. Dari latar tempatnya, penghuni disini jelas para elite dengan ambisi menjadi dokter tiga turunan! Sky Castle digambarkan dihuni oleh empat keluarga, tiga keluarga dokter dan satu keluarga pengacara.

Diawal cerita, kehidupan keempat keluarga ini terlihat baik-baik saja dan aman tentram. Namun semua berubah setelah kejadian bunuh diri, seorang ibu/istri dari salah satu keluarga dokter. Misteri demi misteri terbuka setelah si ibu/istri ini meninggal. Salah satu misteri yang menjadi poin utama dari drama ini adalah pendidikan bisa menghancurkan. Kok bisa???

Jadi gini, drama dengan dua puluh episode ini memiliki jalan cerita yang cukup rumit, menurut saya sih. Si ibu yang meninggal ini ternyata bunuh diri setelah membaca catatan harian anaknya yang mendapatkan tekanan yang sangat gila dari orang tuanya saat menempuh pendidikan sejak SD hingga SMA. Ia pernah dilarang tidur gara-gara mendapatkan peringkat kedua dikelasnya. Meski penuh tekanan, si anak berhasil masuk kampus kedokteran sesuai harapan orang tuanya dengan bantuan pelatih/tutor. Namun yang menjadi masalah bukan hanya itu, si anak yang mendapat banyak tekanan akademik dari orang tuanya, tidak mendapatkan kesempatan menikmati masa remaja dengan baik. Ia jatuh cinta pada anak pembantunya, orang tuanya mengetahui itu dan mengusir anak pembantu ini. Si anak marah, dendam, dan mengalami gangguan psikologis karena kejadian itu.

Sayangnya, dendam si anak itu malah dimanfaatkan tutornya untuk memompa semangat si anak dalam meraih harapan orangtuanya. Tutornya menanamkan “lakukan balas dendam” setelah orang tuamu mendapatkan apa yang mereka harapkan, yakni si anak yang masuk di kampus kedokteran. Balas dendam yang dilakukan si anak ini dengan cara kabur dari rumah, tidak melanjutkan kuliahnya di kampus kedokteran, mendatangi rumah anak pembantunya, dan memutus hubungan dengan keluarganya. Yang terjadi selanjutnya adalah ayahnya marah besar, ayahnya bertengkar dengan ibunya, kedua orang tua saling menyalahkan, dan ibunya memilih untuk bunuh diri.

Tutor ini dianggap sebagai sumber masalah, padahal menurutku bukan hanya dia sih sumber masalahnya. Keluarga ini memang sudah bermasalah dari awal, namun gunung es tadi memang tidak terlihat. Semuanya muncul dan menjadi konflik setelah si ibu meninggal dunia, si ayah pergi ke hutan, dan si anak entah pergi kemana. Keluarga dokter yang kedua menjadi sorot setelah keluarga dokter yang pertama hancur. Keluarga dokter yang kedua ini memiliki dua orang putri, salah satu diantaranya, sang kakak merupakan anak yang pintar dan ambisius. Sang kakak ini juga mendapatkan tutor yang sama dengan si anak yang ibunya bunuh diri tadi. Bedanya sang kakak ini, dia memang benar-benar suka belajar, ambisius, dan egois. Sang ibu dan ayahnya juga sangat mendukung dia, sehingga nasib yang menimpa keluarga ini tidak semalang keluarga dokter yang pertama tadi. Namun, justru ceritanya sangat complicated disini. Si ibu yang ternyata mendapat tekanan dari ibu mertuanya untuk mewujudkan generasi dokter ketiga. Si ayah yang sangat menginginkan anaknya untuk mendapatkan juara pertama nasional. Singkatnya keluarga ini ambis, tapi di akhir cerita masih bisa sadar akan kenyataan, masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Baca Juga  Suka Duka Menjadi Mahasiswa Jurusan Bahasa Asing

Ceritanya sangat panjang, tapi saya nggak sanggup lagi untuk nyeritain. Jadi ke poin intinya aja, tentang Sky Castle ini. Pendidikan disini digambarkan sebagai lahan bisnis, pendidikan juga masih dianggap sebagai suatu hal yang prestise. Saling sikut dan praktek nepotisme berawal dari pendidikan hingga ke pekerjaan. Tentang orang tua yang ingin anaknya sukses sesuai standar kemauan mertua. Tentang anak miskin yang berusaha mendapatkan keadilan pendidikan dengan cara yang nggak baik, karena saking brutalnya sistem pendidikan. Taruhlah si anak miskin tadi sebagai pahlawan, nggak banget jadinya drakor ini. Si anak miskin ini menggunakan kemampuan intelektualnya untuk ancaman kepada orang lain. Bener emang dia melawan ketidakadilan, tapi caranya itu lho yang nggilani. Satu hal yang saya pelajari dari sini, bahwa pendidikan formal pun nggak bisa membuat anak yang pinter pake banget jadi orang yang baik. Kemudian guru sebagai pendidik di kelas, kurang dianggap dalam drama ini. Semuanya berfokus pada tutor saja, menunjukkan bahwa guru tidak ada apa-apanya dibandingkan tutor. Oh ya, ternyata tuh ada kongkalikong antara guru dengan sang tutor. Pokoknya semua berkejar dan berpusat pada nilai sempurna untuk mendapatkan tiket menuju kampus nomor satu.

Baca Juga  Cara Memilih Jurusan Kuliah Sesuai Potensi

Hal itu terjadi nggak cuma di drama korea aja, di kehidupan nyata kita, di Indonesia ini pun sama terjadi seperti itu, tapi nggak segila itu juga sih. Paling cuma bu ibu yang masukin anaknya di bimbel karena anaknya nggak pinter-pinter amat, atau sengaja dilesin karena belajar buat SBMPTN itu susah, materinya ada yang nggak diajarin di sekolah. Berdasarakan video yang saya lihat dari kumparan.com, ternyata ada lho bimbel macem drama korea gitu. Harganya puluhan juta nih, tapi emang sebanding dengan fasilitas dan jaminan yang didapatkan. Tapi sadar gak sih ketika calon dedek-dedek maba ini bergantung segitunya dengan bimbel tapi ternyata pas kuliah malah zonk? Di dunia perkuliahan, sejauh ini nggak ada bimbel yang ngajarin kita tentang Filsafat Ilmu, dulu kalo kesusahan di mapel Sosiologi, ya tinggal nanya aja di grup bimbel, ntar tutornya bantu jawab. Poinnya, setelah ada bimbel di masa peralihan dari SMA/SMK ke universitas, nggak ada lagi bimbel dari universitas ke dunia kerja. So, be wise guys! Menurut saya nih ya, bimbel adalah babysitter yang tugasnya bantu nyuapin anak untuk makan. Jangan terus-terusan disuapin gengs! Kalian kudu bisa makan sendiri. Perbedaannya kerasa kok bagi kalian yang fighter PTN/PTS dengan bimbel dan tanpa bimbel.

By the way, tentang pendidikan yang menghancurkan di Sky Castle tadi, itu lebih ke praktek komersialisasi pendidikan aja sih. Seharusnya bukan hal yang tabu untuk dibahas, tentang uang-uang dalam pusaran pendidikan. Kayaknya dulu ada deh himpunan mahasiswa atau komunitas diskusi di UNY yang bahas tentang Pendidikan Populis dan Elitis, tapi lupa yang mana hehehe. Boleh di-up lagi nah… Selama masih ada uang, komersialisasi pendidikan itu masih relevan sepertinya. Bimbel ga pernah sepi ‘kan? Label sekolah favorit masih ada ‘kan? Atau udah kehapus sistem zonasi? Kuliah masih bayar ‘kan? Ya kali di Jerman sana kuliah gratis, heuu.

Apa sih ini sebenernya?! Mau review drama korea apa opini tentang pendidikan?! Dua-duanya, ehehehe…

About Safira Faiz Indarti

Check Also

Kamu Alumni UNY? Kini Legalisir Ijazah Bisa Online Lho, Begini Caranya

Mas-mas, mbak-mbak alumni UNY apa kabar? Masih sering srawung ke kampus nggak? Kami mau membagi …

X