AsmaraPojok #UNYu

Untukmu yang Galau Dirundung Perjodohan

Ini semua bukan kesalahanmu, kekasihku. Praktis, nuraniku menyimpulkan bahwa ini memang ketetapan Tuhan yang baik untukmu dan keluargamu, mungkin juga aku. Kurasa, tak ada yang salah jika kamu menuruti pinta orang tuamu dengan menerima dia yang saat ini asing bagimu. Toh, ujung dari ini semua tetap sebuah kebahagiaan bersama meski dirimu harus berkorban terlebih dulu. Bukan tentang mengorbankan perasaanmu, tapi berusahalah mengerti mereka, orang tuamu, yang tak bisa membuka tangan terbuka pada hubungan kita dengan restu.

jodoh

Kamu pasti masih ingat, dulu, akulah yang mencintai kamu duluan. Makin dijalani, kamu bisa juga mencintaiku perlahan-lahan. Lantas, apa bedanya dengan sekarang? Dia dan kamu malah bersama-sama memulai belajar mencinta dengan perlahan. Dia juga pasti menjadi sebaik-baiknya pilihan. Semua hanya masalah waktu saja buat kalian. Waktu yang bisa mengantarkan kalian pada jalan bersama dan beriringan.

Baca Juga  Kunamai Kau Dengan Rindu

Toh, kupahami makin ke sini, cintaku padamu makin pudar. Ini bukan inginku, tapi keadaan yang tak wajar. Aku juga tak akan naif melanjutkan perasaan tanpa restu yang berpendar. Di sisi lain, setelah kamu bersamanya, kita tak pernah lagi bertukar kabar. Mungkin kamu sibuk, atau sengaja menguji hatimu sendiri dengan bersabar. Dan selanjutnya, perasaanku padamu makin hambar. Tuhan memang hebat karena telah membuat perasaanku dengan singkat berputar.

baca juga : Apapun yang Dilepas Dengan Ikhlas, Akan Diganti Dengan yang lebih Pantas

Pada akhinya, kamu tetap lebih memilihnya yang tak kukenal. Bukan masalah bagiku menerima kenyataan bahwa kisah kita memang telah gagal. Pilihan orang tuamu jelas baik dan bukan asal. Berbahagialah sayang, dengan berbagai doa yang setiap hari kau rapal. Terima kasih, kemarin kamu telah bisa tegas meninggalkanku dengan pelukan dan senyuman tanpa aral. Kamu juga berusaha menyeka air mataku dengan tanganmu, tapi kuhalangi karena aku merasa bisa melakukannya dengan handal.

Baca Juga  Kisah Perjuangan Era Septiyani,  Mahasiswa Berprestasi (Mapres) UNY 2018

Keputusanmu menerima perjodohan dari orang tuamu, kuanggap sebagai wujud bakti. Aku tau masa lalumu dulu, sebelum kita bertemu, yang selalu dikhianati berkali-kali. Tapi kamu tetaplah lelaki yang baik hati. Lelaki sepertimu sudah sepantasnya menjemput kebahagiaan dengan wanita yang siap berbagi. Aku memang terluka, tapi sekarang sudah tidak lagi. Tenanglah, aku baik-baik saja di sini.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X