Mahasiswa BangetPojok #UNYu

5 Tantangan Mahasiswa Dalam Menulis Skripsi

Jika menyebut kata Skripsi, yang ada di pikiran kita adalah sebuah beban tanggung jawab yang terasa sangat berat untuk dikerjakan. Beruntunglah kalian yang justru menjadi termotivasi untuk segera mengerjakan dan menyelesaikan skripsi. Turut prihatin bagi kalian yang justru menjadi bad mood, pusing, bahkan tidak bersemangat jika kata Skripsi disebut.

skripsi

Lalu, apa yang membuat kejelekan itu terus mucul saat berhubungan dengan skripsi? selain faktor kesehatan, ada faktor lain yang paling umum dimiliki oleh hampir sebagian besar mahasiswa tingkat akhir ini, yaitu Malas. Ya, malas juga merupakan tantangan terberat mahasiswa dalam menulis skripsi. Yang mana, malas tersebut juga masih memiliki banyak kategori untuk dijabarkan.

1. Lapar dan Kantuk

Ada saja alasan untuk mahasiswa untuk kehilangan inspirasi atau kehilangan mood untuk menulis skripsi. Mereka adalah si Lapar dan si Kantuk. Dua hal manusiawi yang juga merupakan salah satu media yang digunakan setan untuk menggoda manusia agar menunda-nunda pekerjaannya, termasuk pengerjaan skripsi. Maka, untuk menghindari kedua virus ini adalah dengan menyediakan camilan di dekat laptop atau komputer, atau bisa juga dengan secangkir kopi atau cokelat penghilang rasa kantuk. Tapi ingat, jangan berlebihan. Karena kopi jelas mengandung kafein yang tidak baik bila dikonsumsi terus-menerus.

2. Transkrip dan Olah Angket

Bagi kalian yang menggunakan metode kualitatif, jelas transkrip hasil wawancara adalah salah satu hal yang paling menjengkelkan, memusingkan, dan menghilangkan nafsu mengerjakan skripsi. Kenapa? Karena saat transkrip kalian harus mendengarkan rekaman wawancara beberapa kali untuk bisa dituliskan dalam bentuk transkrip. Yang mana, record wawancara jelas tidak hanya dilakukan dengan waktu yang singkat. Tak cukup sampai disitu, hasil wawancara pun tidak hanya terdapat satu rekaman, namun bisa lebih sampai belasan. Dengan kata lain, kalian harus mengubah rekaman audio (hasil wawancara) menjadi tulisan dengan rentan waktu per informan rata-rata 30 menit sampai 1 jam. Bisa dibayangkan jika informan ada lebih dari 5 atau 10?

Baca Juga  PMB UNY 2018

Begitu pula dengan yang menggunakan metode kualitatif yang harus mengolah data dari angket yang tak hanya puluhan, tapi bisa sampai ratusan dan memasukkannya pada aplikasi pengolahan data yang tidak membutuhkan waktu sebentar. Terlebih lagi bagi yang skripsi dengan model proyek akhir. Itu juga membutuhkan waktu lama dalam prosesnya.

baca juga :Seputar Pertanyaan “Nyeleneh” yang Berpotensi Diajukan Dosen Saat Sidang Skripsi

3. Lelah

Alasan klasik jika kalian masih memiliki aktivitas lain diluar skripsi. tantangan terberat kalian adalah lelah. Jika lelah menyerang, sudah hampir pasti kalian tidak akan mau menyentuh skripsi dan lebih memilih istirahat atau tidur.

4. Sibuk

Sibuk adalah kondisi kita memiliki aktivitas tiada henti dalam kurun waktu yang cukup lama sehingga minim waktu untuk istirahat. Dalam kasus ini, kebanyakan mahasiswa yang memiliki masalah kesibukan adalah mahasiswa yang sudah memiliki pekerjaan ber-uang. So, mahasiswa pada tingkat ini memiliki dilema yang sangat besar karena mereka sudah tahu pekerjaan dan uang. Akibatnya, skripsi yang terlihat sebagai beban sangat sering ditinggalkan. Tak jarang, mahasiswa pada tingkat ini seringkali Drop Out dari kampus karena terlalu sibuk dan nyaman bekerja dan lupa dengan skripsi.

baca juga :  Haruskah, Nama Pasangan Ada di Halaman Persembahan Skripsi?

5. Pusing atau Sakit Kepala

Ini tandanya kalian mengalami stress dan kurang mengistirahatkan kepala. Cobalah untuk tidak memforsir diri pada suatu hal yang dapat membuat kepala kita sakit. Membuat kepala rileks itu sangat perlu dan penting, lho. Karena kalian bukan adalah manusia biasa yang bisa sakit kepala, bukan robot yang bisa dipekerjakan kapan saja sampai jebol.

Saya rasa tak ada mahasiswa yang menganggap skripsi itu hal yang enteng dan mudah. So, daripada menganggap itu beban, tak ada salahnya kok meminta tolong teman untuk membantu dalam proses kalian mengerjakan skripsi. Bukan disuruh mengerjakan skripsi kalian, tapi lebih pada hal-hal seperti pemberian semangat, masukan, sampai dengan kritikan. Jangan semuanya dipikir menjadi beban seorang diri.

Libriana Candra

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi |Menulis, Backpacking |amarisdaren.blogspot.com

Related Articles

Back to top button
Close
X