OpiniPojok #UNYu

Antara Penerus dan Pembaru

TRANSISI dari sekolah menuju universitas dapat disikapi dengan beragam cara, tergantung dari sudut, resolusi, maupun jarak pandang. Pada taraf yang elementer mahasiswa tak lagi terbedakan menurut identitas eksternal berupa seragam putih-biru.

Formalitas semacam itu, di bangku kuliah, tak dianggap penting karena heterogenitas seyogianya terbuka lebar agar keanekaragaman terekspresikan secara menyeluruh tanpa terkecuali, bukan malah tertutupi dengan kain berwarna sama.

Identitas, baik ditandai oleh seragam maupun instrumen luar lain, betapapun, akan menyentuh persoalan esensial bila melihat dari lapisan hakikat. Bila di sekolah menengah diajarkan mengejar nilai numerik, maka di bangku perkuliahan cenderung diajak mencari sesuatu yang bernilai.

Angka gemilang memang berlaku sebagai nilai ketuntasan minimal yang dibuktikan pada IP/IPK. Namun, di balik deretan angka tersembunyi seperangkat pengetahuan yang akan binasa bila tak diterapkan.

Karena itu, dalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1768-1820) terkenal piwulang ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara yang menekankan “laku”–perbuatan, gerak-gerik, tindakan, dan praktik–sebagai kunci utama terbukanya cakrawala ilmu.

Terdapat perbedaan yang kontras antara “ilmu” dan “pengetahuan”. Pengetahuan hanya sebatas informasi jika tak dilakukan penghayatan dan pengamalan. Oleh sebab itu, ilmu adalah hasil dari proses eksplorasi terus-menerus pengetahuan sehingga membuat subjek (pelaku) mampu meraih kebijaksanaan hidup.

Baca Juga  PMB UNY 2018

Dengan kata lain, “mengetahui” adalah proses “pengetahuan”, sedangkan “memahami” adalah konsekuensi logis dari “ilmu”.

Dalam konteks mahasiswa baru, pelbagai kegiatan di kampus sudah semestinya diposisikan sebagai proses pencarian ilmu. Tanpa rasa kesadaran itu ia hanya menjadi “robot” dari instruksi jadwal perkuliahan.

Padahal, fasilitas dan kesempatan untuk mengembangkan diri (personalitas) yang disediakan universitas terbuka lebar bagi siapa saja tanpa membedakan suku, ras, agama, bahkan kepercayaan pesonal.

Babak Baru Generasi Milenial

ANAK muda yang jumlahnya lebih besar ketimbang generasi tua diakui membawa angin segar bagi peradaban. Generasi baru tersebut digadang-gadang mampu memutus rantai keterpurukan tatanan ekonomi, pendidikan, politik, budaya, dan sosial yang telah menganga sebagai akibat dari perilaku generasi silam.

Mahasiswa baru kini adalah angkatan baru yang diharapkan memutus problematika sosial. Posisi mereka telah diprediksi Karl Manheim melalui hasil risetnya pada 1927 berjudul The Problem of Generations. Dengan dua pisau dedah, diwujudkan melalui pendekatan naturalistik plus positivistik, Mannheim meneropong hari depan dengan kedatangan generasi X, Y, dan Z.

Kita akrab dengan istilah generasi milenial.

Baca Juga  Food Court Plaza UNY: Tempat Makan Enak, Nyaman, dan Murah yang Perlu Kamu Coba

Hipotesis sosiolog yang mendalami filsafat Eropa Timur itu meliputi perbandingan dua generasi, yakni terdapat kontras yang jelas antara karakteristik anak muda di masa pra dan pasca Perang Dunia.

Atas pernyataan demikian, ilmuan sosial keturunan Anglo-Saxon mulai menguji dugaan Mannheim, meski jamak akademikus menyanggahnya dengan tulisan tandingan.

Di situ Mannheim berhasil membangkitkan polemik berlandaskan rasio yang sempat mandek karena dampak industralisasi Eropa yang memposisikan manusia sebagai objek pembangunan yang mati sebagaimana mesin industri.

Orwell, penulis novel 1984 yang terbit tahun 1949 itu, banyak terpengaruh pemikiran Mannheim, walaupun buah pikirannya acap mengulik persoalan hegemoni ketimbang perubahan sosial. Tapi bukankah dua ranah itu saling berkelindan?

Hari ini generasi milenial mendominasi tempat-tempat strategis di dunia. Jumlahnya mengalahkan generasi pra-X. Mereka cenderung hidup di ruang digital dengan dan melalui telepon pintar yang tak absen ia kantongi.

Generasi 90-an, betapapun, adalah anak zaman yang diprediksi Mannheim lebih dari seabad lampau. Ramalan itu kini terwujud dan berpeluang untuk diteliti seluas-luasnya. Di situ pelbagai disiplin ilmu akan tersuburkan oleh wacana klasik generasi milenial. Termasuk berpeluang besar bagi mahasiswa baru sebagai pelaku sekaligus objek angkatan milenial.

Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Related Articles

Back to top button
Close
X