AplikasiKisah InspiratifPojok #UNYu

Aplikasi Jual Beli “Sampah” Asal Yogyakarta, Rapel.id

Sampah merupakan salah satu permasalahan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Volume peningkatan sampah sebanding dengan meningkatnya tingkat konsumsi manusia. Aktifitas manusia dalam upaya mengelola sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semakin beragam seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Pertumbuhan jumlah penduduk telah mengakibatkan perubahan yang besar terhadap lingkungan hidup. Jumlah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin meningkat dari tahun ketahun.

Foto : www.rapel.id

Berdasarkan data BPS pada tahun 2018 jumlah penduduk DIY sebanyak 3,802.872 jiwa dan meningkat menjadi 3.942.932 jiwa pada tahun 2019 (BPS Daerah Istimewa Yogyakarta, 2019).  Peningkatan jumlah penduduk tersebut sebanding dengan peningkatan jumlah konsumsi yang mempengaruhi besarnya peningkatan volume sampah di kota yogyakarta. Bahkan data terbaru yang dikutip dari harianjogja.com mengatakan bahwa kota Yogyakarta menghasilkan 300 ton sampah tiap harinya.  Fakta tersebut mendorong beberapa pecinta lingkungan untuk mengembangkan sebuah aplikasi yang dapat mengurangi sampah sekaligus berguna bagi banyak masyarakat.

Aplikasi ini bekerja dengan sistem mempertemukan orang yang mempunyai sampah dan ingin menjual sampah dengan kolektor sampah yang akan menjemput dan membeli sampah dari user sesuai dengan map yang tertera di aplikasi. Dengan adanya aplikasi ini, para pendiri mempunyai cita-cita sosial yaitu merubah mindset masyarakat tentang sampah itu sendiri. Mereka ingin mengajarkan kepada masyarakat untuk mulai memilah sampah karena sampah mempunyai nilai komersil jika dikelola dengan baik. Terlebih Rapel memiliki mimpi besar yaitu dapat mengelola sampah menjadi bahan energi yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan negara.

Foto : news.detik.com

Ide aplikasi ini berawal dari 2015 – 2016 ketika team membantu pemerintah DIY melakukan survei tentang perda pengelolaan sampah. Pada awalnya, team yang terbentuk ini merupakan konsultan, khususnya dalam bidang lingkungan. Saat itu ditemukan fakta bahwa masyarakat DIY sebagian telah memilah sampahnya dari rumah, tapi saat dilakukan pengambilan, petugas sampahnya mencampur kembali sampah tersebut.  Jadi masyarakat kecewa dan tidak mau memilah lagi. Kemudian tahun 2018, setelah membaca journal dari Jenna Jambeck yang menyatakan bahwa negara kita menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di laut.  Akhirnya team mendapatkan ide untuk menciptakan sistem edukasi pilah sampah dan menyediakan pengambilan yang sistemnya terpilah. Pada April 2019 lah akhirnya rapel (Rakyat Peduli Lingkungan) di Yogyakarta terbentuk dibantu dan disupport dari berbagai pihak termasuk PT Wahana Anugerah Energi (yang berkantor pusat di Tangerang), dan memasukkan kegiatan rapel ini sebagai salah satu program kerja dalam divisi lingkungan di perusahaannya. Dipilihnya Yogyakarta bukanya tanpa pertimbangan. Masyarakat Yogyakarta dinilai paling siap untuk menerima perubahan. Termasuk menerima kehadiran Rapel, sebagai solusi milenial pengelolaan sampah.

Baca Juga  Keuntungan Tersembunyi dari Email Student UNY

Rapel sampai sejauh ini dapat diunduh di playstore. Saat Ini rapel baru melayani sampah yang bisa didaur ulang,  jadi sampah akan dibeli oleh kolektor. Karena muatannya edukasi, rapel menyebut harga sampah adalah rewards bagi masyarakat / user yang memilah dan merapelkan sampahnya. Karena bagaimanapun sampah adalah sampah, harus dikelola dengan baik. Kalau kita bilang diperjualbelikan, maka orang akan cenderung menghasilkan sampah. Bukan malah mengurangi.

Foto : Dokumentasi Pribadi

Sampai saat ini, rapel telah mampu menjangkau daerah kota di DIY, Kota Wates serta sebagian daerah Surakarta. Serta memiliki satu gudang yang berukuran kurang lebih 500m2 di Jl.Magelang serta office diwilayah Maguwoharjo,Sleman,DIY. Kolektor sendiri tersebar diwilayah kota Yogya 24 kolektor, Di wates 1 kolektor, serta 3 kolektor di wilayah Surakarta. Pengguna Apilikasi Rapel saat ini terdiri dari 600 pengguna aktif serta sekitar 4000 an pengguna pasif. Cita-cita dari rapel sendiri ingin mampu untuk mengolah sampah-sampah tersebut menjadi energi yang langsung bisa digunakan. Namun, saat ini rapel masih terus mewujudkan cita-cita tersebut, karena sebuah tujuan yang besar membutuhkan proses yang panjang pula untuk meraihnya. Meskipun demikian, sampah-sampah yang telah dikumpulkan tersebut, rapel telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk membawa atau mendistribusikan sampah tersebut ke pabrik pengolahan kembali limah. Tentu tanpa melibatkan broker. Jadi, rapel terus berupaya untuk meyakinkan perusahaan-perusahaan untuk mau bekerja sama dengan rapel sendiri dengan cara-cara yang jujur dan baik, tanpa ada permainan kotor didalamnya. Untuk kedepannya, rapel terus berupaya melebarkan sayap ke seluruh nusantara. Program kerja bagian pemasaran rapel saat ini sedang menggencarkan pemasaran dan sosialisasi mengenai sampah di berbagai TK yang tersebar di wilayah Bantul, dengan harapan akan mampu lebih banyak merangkul konsumen dipangsa tersebut.

Proses akuisisi rapel.id dalam permodalannya diperoleh dari perusahaan induk PT Wahana Anugrah Energi di Tangerang. Seluruh permodalan bersumber pada perusahaan induk dan rapel.id hanya menjalankan ide yang telah dijual. Peralatan serta bangunan kantor diperoleh yang digunakan untuk operasional rapel.id adalah milik pribadi pemilik. Kantor rapel.id berupa bangunan gedung seluas 250m² yang terdiri dari ruang tamu, dapur, ruang kerja, ruang meeting dan garasi motor terletak di Ringinsari, Maguwoharjo, Depok, Sleman DIY.  Dalam kegiatan operasional sehari-hari, Rapel.id juga menggunakan 1 unit sepeda motor dan 1 unit mibil pick up Jumlah seluruh karyawan di rapel.id adalah 11 orang dengan kemampuan mumpuni di bidang masing-masing.

Baca Juga  Menyikapi Corona dengan Sudut Pandang Berbeda

Terdapat 5 devisi yang saling bekersama, diantaranya devisi IT yang bertugas mengelola database dan mengembangkan aplikasi. Devisi pemasaran bertugas mensosialisasikan rapel.id ke masyarakat luas dan mencari mitra untuk perkembangan bisnisnya. Devisi administrasi bertugas melakukan pembukuan setiap transaksi yang terjadi di Rapel.id. pembukuan dilakukan secara berkala dan rutin. Devisi akuntansi berhubungan langsung dengan devisi keuangan dalam pengelolaan keuangan Rapel.id. semua transaksi yang telah dicatat akan dijadikan bahan pelaporan keuangan di devisi keuangan. Selanjutnya adalah Devisi Konsultasi yang bertugas memberikan masukan mengenai masalah-masalah yang terjadi di Rapel.id dan memberikan solusi yang tepat atas pemecahan masalah tersebut.

Dalam perolehan persediaan sampah, Rapel.id melakukan pembelian dari kolektor sampah yang kesulitan dalam menjual kembali sampahnya menjadi bahan baku. Selama 1 x 24 jam, rapel.id akan memonitor sampah-sampah tersebut tersedia untuk dijual atau akan disimpan di gudang penyimpanan Rapel.id.

Rapel.id menggunakan platform online dan offline sebagai media pemasaran serta iklannya. Situs resmi rapel.id adalag https://www.rapel.id yang menyediakan berbagai macam informasi mengenai rapel.id. penggunaan platform online ini diharapkan mampu menarik perhatian para milenial mengenai produk-produk yang di tawarkan Rapel. Rapel.id juga sering mengadakan seminar serta sosialisasi di daerah-daerah dalam memasarkan produknya. Untuk saat ini cakupan pasar yang dapat dijangkau oleh Rapel.id adalah siswa taman kanak-kanak untuk mengajarkan tentang peduli sampah sejak dini.

Dalam penjualan barang persediannya, Rapel.id akan mendistribusikannya ke pabrik-pabrik industri pengolahan sampah. Pembayaran dilakukan secara tunai tanpa ada piutang usaha. Rapel.id melakukan pembayaran gaji karyawan setiap bulan dengan nominal yang telah disetujui saat wawancara penerimaan karyawan. Pembayaran gaji termasuk dengan pemotongan pajak penghasilan dari setiap karyawan yang dilakukan oleh Devisi Keuangan. Informasi mengenai gaji serta pajak penghasilan karyawan merupakan rahasia perusahaan.

Elza Dian Siswanto

Accounting 2018 Yogyakarta State University

Related Articles

Back to top button
Close
X