Cerpen : BERANI PEDULI | UNY COMMUNITY
Home / Cerpen / Cerpen : BERANI PEDULI

Cerpen : BERANI PEDULI

Matahari sudah bertengger tepat di atas kepala. Langit bagaikan permukaan laut. Biru. Hanya sedikit bercak awan putih yang berkeliaran. Suasana cerah juga terlihat jelas di raut muka kondektur bus antarkota. Dari tempat Parno berdiri, wajahnya seolah memancarkan semburat cahaya yang menyilaukan orang lain. Mungkin karena bus yang ia bawa sudah hampir penuh atau karena cuaca cerah yang membuatnya tampak bahagia sekali.

“Ayo… ayo… kurang satu lagi penuh. Ayo… ayo…!!” teriak kondektur saat perlahan namun pasti bus yang dibawa menepi. Sang kondektur langsung melompat dan menuju warung pinggir jalan. Tak lupa sang supir pun ikut turun untuk sekadar minum kopi atau menghilangkan penat setelah menyupir sekian jam tanpa berhenti. Hal demikian sudah menjadi kebiasaan mereka setiap kali melakukan perjalanan jauh, sehingga lambat laun membuat mereka akrab dengan pemilik warung.

Tanpa disuruh dan tanpa minta izin kondektur atau supir bus, para asongan langsung masuk ke dalam bus yang sudah berhenti untuk menjajakan daganganya; mulai dari gorengan, minuman, makanan ringan hingga rokok mereka tawarkan. Cara mereka menjajakan dagangan pun bermacam-macam, ada dagangan yang ditawarkan seperti biasanya, ada pula yang ditawarkan dengan menyodor-nyodorkan dagangannya, dan ada pula yang membagikan barang dagangannya ke seluruh penumpang sehingga seolah-olah dagangan itu diberikan secara cuma-cuma. Namun ini hanyalah trik dari si penjual. Jika ada yang membuka bungkusan itu, maka mau tidak mau orang itu harus membayar harga barang yang dibukanya.

Sambil melangkah kedalam warung pinggir jalan, kondektur berkata kepada Parno.

“Ayo Mas masuk, kurang satu lagi berangkat” bujuk kondektur.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menaiki tangga bus. Parno tidak mau tiba di Jogja nanti, hari sudah gelap. Semakin cepat semakin baik, pikir Parno.

Pic: rizqifahma.com

Parno adalah mahasiswa jurusan teknik di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jogja. Ia pulang lantaran harus membeli bahan dan alat praktik di daerahnya. Sengaja ia membeli di daerahnya karena harganya yang lebih murah. Serta sekalian liburan. Mungkin dulu karena berangkatnya tergesa-gesa sehingga barang-barang tersebut bisa tertinggal.

Kondektur dan supir ternyata tidak mampir makan atau minum kopi. Si sopir hanya menuju toilet kecil di belakang warung untuk cuci muka. Terlihat dari mukanya yang masih basah. Sementara si kondektur ternyata hanya sekadar memberikan pajak kepada pemegang tempat itu. Di setiap pemberhentian bus pinggir jalan, biasanya selalu terdapat orang yang berkuasa disitu. Setiap bus yang sekadar lewat atau istirahat, harus membayar pajak preman di tempat itu.

Belum tuntas Parno menaiki tangga bus, kondektur langsung menyusul dari belakang sambil berteriak, “Masuk Mas, masuk. Tolong kasih jalan Bu! Biarkan masuk dulu!” ucap kondektur. Parno kebingungan mau berdiri dimana. Seisi bus penuh oleh penumpang. Dari raut mukanya, terlihat mereka kepanasan.

Dari tempat Parno berdiri, terlihat jelas seorang ibu bersama anaknya yang digendong sedang berhimpit-himpitan dengan penumpang lain. Ibu tersebut tidak mendapat tempat duduk. Seluruh kursi sudah penuh terisi penumpang. Parno berdiri tidak jauh dari sopir bus tersebut.

Baca Juga  Jaga Kita Sampai Nanti, Sampai Mati

Perlahan-lahan bus kembali berjalan. Sang kondektur mulai menagih tarif kepada penumpang yang baru saja masuk, termasuk Parno. “Mau kemana Mas?” tanya kondektur sambil menengadahkan tangan kepada Parno.

“Jogja Pak,” jawab Parno seraya memberikan uang pas 35 ribu. Sang kondektur langsung menghitung uang tersebut. Setelah sepersekian detik, akhirnya kondektur mengangguk sebagai tanda pembayarannya pas.

Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah kepala manusia. Mau tidak mau mereka harus beradu badan dengan penumpang lainnya. Dengan keadaan demikian, sang kondektur sangat kesulitan mencari celah untuk berjalan menuju penumpang yang baru saja masuk.

Posisi matahari berada tepat di atas kepala. Suasana dalam bus sangat panas dan gerah. Sementara kondektur setelah menagih uang pembayaran, langsung mencari-cari penumpang dengan berteriak “Ayo…ayo…!! kurang satu lagi penuh. Ayo ayo…!!” Ia tidak memikirkan keadaan dalam bus seperti apa. Yang ada dalam benaknya ketika melihat seseorang berdiri di samping jalan raya adalah pundi-pundi uang yang sayang jika dilewatkan begitu saja.

Namun bagi penumpang, setiap kali kondektur mendapatkan penumpang baru maka bertambah berat penderitaan yang harus mereka rasakan. Sesak. Parno yang semula berada di belakang supir, perlahan-lahan terdesak ke belakang.

Macam-macam suara dilontarkan penumpang dengan tujuan menyadarkan kondektur supaya sadar bahwa kondisi bus sudah penuh dan tidak sepantasnya menambah penumpang lagi. Akan tetapi umpatan tersebut lirih sehingga kalah dengan suara knalpot bus serta kendaraan di luar. Sang kondektur tetap pada keadaan semula, terus mencari-cari penumpang baru di samping jalan.

Tepat di belakang Parno berdiri, ada ibu-ibu gendut yang tidak kebagian kursi. Ia menumpang lebih duluan dari Parno. Jika Parno baru menumpang bus sekitar setengah jam, ibu tersebut mungkin sudah lebih dari satu jam. Terlihat dari bajunya yang basah kuyup akibat keringat bercucuran serta muka yang sudah pucat.

Mbokyaojangan memasukkan penumpang lagi Pak, sudah sumpek banget kok!!” ucap ibu tersebut. Parno yang tepat berada di depannya, hanya bisa tersenyum miris.

Awal tahun membuat jalanan ramai macet. Bunyi klakson motor dan mobil seakan menjadi alunan musik yang tak henti-hentinya berdengung di telinga. Di bawah lampu merah terlihat sesosok pengemis meringis kepanasan. Sementara botol yang digunakan untuk menampung uang belas kasihan terlihat kosong. Tepat di seberang pengemis tersebut, terdapat gerombolan pemuda-pemudi dengan pakaian almamater universitas menggembor-nggemborkan aksi solidaritas. Di antara mereka ada yang berjalan mengedarkan kardus untuk meminta sumbangan.

“Ayo… ayo…, kurang satu lagi penuh! Ayo… ayo…!!” teriak kondektur memanggil penumpang yang berdiri di samping jalan itu. Mata sang kondektur sangat jeli membedakan mana calon penumpang bus maupun bukan. Terbukti dengan banyaknya orang di tepi lampu merah, sang kondektur bisa mendapatkan satu penumpang lagi. Kursi yang seharusnya untuk 2 atau 3 orang, sekarang sudah melebihi kapasitas tersebut. Bahkan ada yang lebih memilih berdiri di depan kursi lantaran terlalu sesak.

Baca Juga  Menjinjing Takdir

Di belakang, terlihat seorang pemuda beranjak dari kursinya. Hendak turun. Sebelum turun ia memastikan apakah tidak ada barangnya yang ketinggalan. Ia melihat sekeliling tempat ia duduk, membuka-buka tasnya, dan juga meraba-raba saku di kantong celananya. Dan tak lama kemudian ia berteriak, “Wah dompetku hilang!! siapa yang melihat dompet?” keluh pemuda tersebut. Namun Orang-orang tidak memperdulikan keluhan pemuda tersebut. Hanya beberapa orang yang berada dekat pemuda tersebut yang ikut panik.

“Lah tadi ditaruh di mana Mas? Kok bisa hilang?” tanya bapak yang berada di samping pemuda tersebut.

“Saya taruh di saku belakang Pak, tapi sekarang sudah tidak ada,” ujar pemuda tersebut sambil meraba-raba lagi kantong celananya.

Tidak jauh dari pemuda tersebut, samar-samar ada penumpang yang ngomong, “Wah kena copet tuh Mas. Lain kali dompetnya jangan ditaruh di saku belakang. Riskan!”

Parno yang berada jauh dari pemuda tersebut, merasa aman-aman saja dan tidak terlalu peduli.

“Dompetnya Mas ditaruh di mana Mas? Hati-hati mbok kecopetan kaya pemuda itu, Mas.” Ucap ibu-ibu yang berada di samping Parno.

“Wah dompet saya ditaruh di dalam tas Bu, jadi aman hhe,” sahut Parno.

Dengan keadaan yang sedemikian parah, ternyata kondektur bus tidak peduli. Ia tidak berusaha membantu, justru dengan suara nyaring ia berteriak, “Kiri… kiri… kiri…!!” dan akhirnya menurunkan pemuda yang kehilangan dompet tadi.

Tak jauh dari tempat menurunkan pemuda tersebut, ia berteriak lagi “Ayo… ayo… masih muat Ayoo… masuk.!!” Kali ini benar-benar parah, bukannya hanya satu yang naik, melainkan rombongan. Sekitar 4 atau 5 orang naik.

Suasana bus sudah tidak memperlihatkan suasana bus. Lebih mirip truk pengangkut ayam potong. Hanya kepala dan bola mata yang masih bisa bergerak. Anak dan ibu yang semula duduk berdampingan, sekarang disuruh untuk berpangku-pangku oleh kondektur.

Ibu tersebut tidak terima, ia memprotes kepada kondektur “Saya udah bayar Pak!! Masa harus pangku-pangkuan, ini tidak adil!!”

Namun si kondektur hanya menjawab, “Yang lain juga membayar kok Bu!! Masih untung ibu mendapat kursi, liat yang lain!! Dari tadi bergelantungan tangan karena tidak dapat kursi!!” tutur kondektur.

Ibu tersebut masih saja mengelak, “Loh salah sendiri tidak dapat kursi Pak!! Aku dan anakku kan sudah dapat kursi dari tadi. Masa sekarang harus pangku-pangkuan?!!” bela si ibu.

Suasana bus yang semakin panas ditambah adanya asap kendaraan yang masuk ke dalam bus lantaran jalanan macet. Kondisi ini membuat si kondektur naik pitam dan langsung berkata “Kalo ibu tidak mau pangku-pangkuan dengan anak ibu yang masih SD ini. Silahkan ibu turun saja.!!!” Ibu yang dari tadi mengelak, terpaksa mengalah dan harus rela berpangku-pangkuan dengan anaknya. “Udah Bu, silahkan duduk di situ” ucap ibu tersebut sambil merengut dan memepersilahkan ibu ynag lain duduk di sampingnya.

Baca Juga  Puisi : BERJUANG  

Suasana yang semakin panas dan AC bus yang sudah mati serta penumpang yang sudah membludak membuat suasana bus sangat pengap dan sumpek. Di depan Parno, seorang nenek-nenek terlihat seperti kehabisan oksigen. Ia terhimpit oleh penumpang lainnya. Parno tidak tega melihat nenek tersebut yang harus berdesak-desakan. Ia berpikir bagaimana bisa membantu nenek tersebut.

Dengan kondisi bus yang sudah mirip dengan truk pengangkut ayam potong. Sang kondektur tetap saja berteriak mencari penumpang.

“Ayo… ayo…, kurang satu lagi penuh, ayoo naik!!”

Mendengar teriakan sang kondektor tersebut Parno merasa sangat marah karena sang kondektur masih saja mencari penumpang. Sang kondektur tidak melihat ada seorang nenek yang hampir mati karena kehabisan udara. Parno mulai gelisah dan bimbang bagaimana menolong nenek tersebut. Ia harus menolong nenek tersebut sesegara mungkin. Dalam pikirannya, mungkin nenek tersebut tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Mukanya sudah pucat pasi. Tangan dan kakinya yang sudah gemetar sedemikian hebatnya, membuat Parno berpikir keras. Akhirnya Parno membuka tasnya. Mencari-cari barang yang sekiranya bisa menolong nenek tersebut. Lama. Akhirnya Parno mengambil sebuah palu dari dalam tasnya. Hatinya bergejolak. Pikirannya mengambang, beranikah aku melakukan ini semua?

Namun hatinya teguh ketika melihat nenek di depanya yang semakin lama semakin pucat karena kehabisan oksigen.

Tak lama kemudian terdengar suara kaca pecah. “Pyaaakkkkkkkkkkkkk”

Suasana bus berubah menjadi panik. Sang kondektur langsung menuju sumber suara. Sang sopir langsung memberhentikan bus di pemberhentian terdekat.

“WOYYY, kamu apakan kaca itu hah?!!!” teriak kondektur.

Sang sopir langsung menuju sumber keributan setelah memberhentikan bus di pinggir jalan. Seluruh penumpang berhamburan keluar dari dalam bus. Geger. Sang nenek langsung tersungkur ke kursi sampingnya, setelah penumpang berbondong-bondong keluar. Ia tidak ikut berjalan keluar lantaran sudah tidak bisa bergerak lagi.

“Mmmm… ma.. maaf, Pak,” Jawab Parno dengan gelagapan.

“Bbbbbaaajingaaaannnnn kau” umpat sang kondektur sambil menjatuhkan pukulannya ke muka Parno. Sang sopir pun ikut memukuli Parno.

Penumpang yang lain tidak ada yang membantu. Mereka telah pergi menggunakan bus yang lain. Ia kecewa terhadap bus yang ditumpanginya tadi dan memilih untuk berganti bus dan meninggalkan bus tersebut.

Parno terus menjadi bulan-bulan sang sopir dan kondektur.

Semua bagian tubuh Parno tak ada yang luput dari amukan mereka. Namun yang paling parah adalah mata Parno.

Setelah terlihat tak berdaya. Mereka membuang Parno ke samping jalan.

Parno terbangun ketika samar-samar mendengar suara adzan asar dari sebuah masjid. Dan ketika ia membuka matanya. Semua gelap.

About Andan Prayoga

Kutu Buku yang suka makan makanan pedas|

Check Also

Yuk Mengenal Lebih Dekat BEM dan DPM, Biar Kamu Tahu Bedanya Nih

Awal kuliah, pasti kalian mendengar kata BEM dan DPM. Mendengar kata BEM pastinya sudah familiar …