CerpenSastra

Menjadi Sephia Lelaki A

Yang kutahu, kamu baru saja bergetar saat menerima kecupan. Pelan. Kulakukan dengan sangat hati-hati. Aku takut wajahku cedera lewat kumis tipismu. “Bahwa kamu tidak seperti wanita lain yang hanya datang dan pergi. Kamu adalah wanita yang layak dinanti seperti mentari yang tanpa pamrih bersumringah di tata surya.”

Tuturnya sangat lembut menyapu wajahku malam itu. Namun, tak dapat dipungkiri kalau aku sering ragu-ragu. Jangan-jangan kalimat itu ia ucapkan kepada mentari lainnya, kepada wanita yang lainnya juga. Ya, aku meragunya, sungguh. Selalu begitu dan mungkin akan seterusnya begitu. Tetapi terus saja ada desakan ingin memiliki. Walaupun teman-teman sudah sering memperingati, “Hati-hati dengannya. Ia sudah berkekasih.”

Tiba-tiba telepon berdering memecah hening. Aku tahu itu dari kekasihmu dan kamu tak mencoba untuk menutupinya. Dan aku tidak ingin mendengarnya, mendengarmu berbicara dengannya. Aku berlalu.

“Aku segera pulang, Ris. Tunggu aku di rumah. Jangan keluar, ini hujan. Ok.”

“I’m waiting for you, Angga.”

“Selamat tidur kekasih gelapku, Sephia.”Sembari mengecupku panjang dan kamu pun melengang.

Begitulah minggu pertamaku terlalui dengan sangat laknat bersama kekasih wanita lain. Berada di pelukanmu, di beberapa penghujung tengah malam, dan akan berakhir ketika kekasih utamanya menelepon. Dan aku bisa apa? Hanya bisa diam, tanpa berkutik apalagi menjerit sengit. Sebenarnya kuinginkan terus bersama menghabiskan malam bersamamu, Angga. Tapi kekasihmu begitu manja, meminta perhatianmu yang jelas sudah terpecah olehku.

Malam temaram kamu datang dengan wajah amat lelah. Kudiamkan kamu memasuki kamarku. Kamu bergegas melepas sepatu dan dasimu lantas mengenakan kaos oblong Jogja yang aku diam-diam menyukai jika kamu mengenakannya. Aku masih dengan beberapa naskah yang harus selesai edit malam itu.

“Sibuk ya? Untuk sekedar menciumku sebentar saja, tidak mampukah kamu, Sephia?”

Kamu masih terheran-heran melihatku yang mendadak dingin seolah tak ada siapa-siapa di situ. “Untuk mengulang segala gerakan yang akan membuat bibir kita mengeluarkan desahan dan getaran, tak bisakah Sephia? Untuk sama-sama melenguh dan menggelepar? Aku milikmu malam ini sepenuhnya, Sephia.”

Di sisi lain, naskah ini nyaris membuatku gila. Isinya menggugah kenyataan hidupku. Seolah akulah pemilik cerita dalam naskah itu. Akulah sepenuhnya yang berada pada naskah itu. Bedanya adalah bahwa dalam naskah itu, si aku memilih untuk mengakhiri kehidupan dengan sebuah kematian laknat. Kematian seorang aku yang selama dua tahun lebih menjadi simpanan lelaki baik hati. Yang aku tak habis mengerti, apa yang bisa kubandingkan antara kamu dan lelaki baik hati itu sementara aku baru saja seminggu menjalin ini semua. Crazy!

Baca Juga  Puisi : Tanggalan Biru

Si aku telah habis kesabaran menjalani kodratnya sebagai simpanan. Lelaki baik hati itu tidak tegas mengambil keputusan. Meskipun dalam naskah itu dilukiskan bahwa si aku menjadi prioritas daripada kekasih utamanya, tapi tetap saja si aku menginginkan kejelasan hubungan yang indah pada waktunya. Tapi, apa yang disebut indah pada waktunya itu berakhir dengan lelucon kematian. Sungguh mengerikan.

Apakah aku akan seperti itu nantinya? Saat ini saja aku merasakan kecemburuan luar biasa acapkali dia meneleponmu dengan ragam pinta kehangatan. Aku bahkan ingin membanting ponselmu lantas membanting tubuhmu ke ranjang dan kita lakukan pelukan terpanjang di tata surya. Bertatapan mata, bergenggaman, dan sesekali bertukar kecupan. Aku tahu kamu binal dan aku lebih suka menjadi penyeimbang dari setiap laku yang kamu lemparkan. Dan tanpa ampun, malam yang katamu kamu milikku seutuhnya itu terlewati begitu saja. Tanpa aku mempedulikanmu, meskipun semerbak tubuhmu menyebar di tiap sudut kamarku dan tak bisa kuhentikan.

“Selamat pagi, Sephia. Naskahmu sudah beres?”

“Sudah, Angga. Aku ketiduran di meja kerjaku dan melewatkan tubuhmu semalam tadi.”

“Aku minta maaf, ya. Datang di waktu yang tidak tepat saat kamu harus berorgasme pikiran dengan garapan edit naskah. Sephia, sudah kusiapkan sarapan roti bakar kesukaanmu. Sudah kusiapkan cintaku juga untukmu. Selalu dan bahkan sejak di awal kita bertemu.”

“Kamu itu makhluk eksak, Angga. Tapi begitu mudah melemparkan rayuan dengan ragam bahasa lisan hingga bahasa tubuh yang membuatku lumpuh. Sudah berapa wanita yang berhasil kamu lumpuhkan dengan kekuatan jeratmu itu selain aku dan dia?”

“Percayalah, Sephia. Berkali kukatakan padamu bahwa kamu menjadi prioritasku meskipun kekasih utamaku itu yang berhasil lebih dulu menaklukan hatiku. Dan itu hanya masalah waktu perkenalan yang berbeda. Dia lebih dulu, baru kamu.”

“Prioritas? Bahkan setelah meniduriku, kamu beberapa kali mengiyakan pintanya untuk menghabiskan sisa penghujung malam. Siapa yang menjadi prioritas kalau begitu, Angga?”

“Bahwa kamu tidak seperti wanita lain yang hanya datang dan pergi. Kamu adalah wanita yang layak dinanti seperti mentari yang tanpa pamrih bersumringah di tata surya. Makanya aku yang selalu mendatangimu tanpa kamu pinta. Tapi berbeda dengannya yang harus memohon dulu baru aku mengamini pintanya. Karena kamu prioritasku, makanya aku setiap hari mengunjungimu meskipun pekerjaanku kadang tanpa ampun. Sephia, akan ada sesuatu itu, indah pada waktunya. Beri aku waktu dan jangan pergi dulu. Ya?”

Baca Juga  Apa Itu Fajar Dan Siapa Itu Senja

“Siapa yang mau pergi? Tapi aku ini juga wanita yang berat juga melepasmu dan sama berat berbagi dengannya. Angga, cepatlah ke kantor. Jangan malas. Hari ini aku mau ke luar kota selama seminggu. Mendadak sekali memang. Ini baru kubaca pesan dari si bos.”

“Baiklah. Aku sangat menghargai duniamu, Sephia. Aku pasti akan merindukanmu. Jangan lupa jika kamu ada waktu luang, hubungi aku. Mau kuantar ke studiomu?”

“Boleh. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa tentang akan berkirim kabar itu. Lebih baik kamu saja yang menghubungiku jika kamu memerlukannya. Aku mandi dulu.”

Aku dan kamu telah berada dalam mobil mewahmu. Kamu benar dengan rela menghantar kepergianku dinas ke luar kota selama seminggu. Sepanjang jalan, lagu “Says Something” melantun baik, yang seolah memberi isyarat bahwa memang harus ada dari kita yang mengucapkan sesuatu itu. Dan ternyata kamulah yang akan membuka perbincangan kala itu.

“Kamu mencintaiku, Sephia? Aku sangat mencintaimu lebih dari apa pun. Seandainya aku diizinkan ikut dalam tugas seminggumu ini, maka akan kutanggalkan pekerjaanku sejenak untuk menemanimu. Tapi cintaku ini tidak berbanding lurus dengan kesetiaan keprofesionalitasanmu dalam bekerja. Sephia, maaf untuk pengorbanan rasa yang harus kamu lalui selama menjadi simpananku. Bukan aku takut pada dia yang lebih dulu berstatus menjadi kekasihku, tapi…”

“Tapi kamu hanya butuh waktu yang tepat agar semua indah pada waktunya. Begitu?”

Kamu mengangguk dan mobil berhenti. Kamu menciumku entah untuk kali ke berapa. Ciuman kali ini kurasakan begitu syahdu dan jujur. Entah ada apa dengan fenomena hari waktu itu. Kamu menangis tersedu saat menciumku, namun tetap lembut. Semuanya lembut. Air matamu membasahi beberapa sudut wajahku. Pagutan bibirku dan bibirmu begitu sakral di balik hujan yang saat itu mulai malu-malu rontok ke bumi.

“Mengapa kamu menangis, Angga? Kamu berat melepasku? Hei, ini hanya untuk seminggu. Begitulah resiko memiliki simpanan seorang editor sepertiku yang memiliki jam terbang tinggi. Jangan melo. Kamu bahkan tidak ingin membela diri akan apa yang sudah kuucapkan? Hmm? Kita kan masih bisa bertukar kabar lewat berbagai cara.”

Seminggu berlalu. Pagi ini, aku meyeruput kopi hitam dan membaca surat cintamu, Angga. Orang-orang akan segera memulai aktivitasnya, menyambut pagi hari dengan sibuk dan gembira. Dan aku menjadi orang yang dirundung malang sepanjang mengenangmu, Angga. Kita memang bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X