Mahasiswa BangetPojok #UNYu

Dan Hanya Mahasiswa Aktivis Pers Yang Tahu Rasanya Ini

Mahasiswa dan pers merupakan sepasang yang bernilai positif. Di kampus mana pun, UKM Pers jelas ada dan tentu saja untuk mewadahi minat bakat dari mahasiswa itu sendiri di bidang pers. Mereka yang masih mahasiswa namun juga berkecimpung di dunia pers selanjutnya disebut mahasiswa aktivis pers. Pengalaman meliput, menulis, dan sebangsanya sudah biasa dilakoni. Hal berikut hanya dirasakan oleh mereka, mahasiswa aktivis pers. Simak.

pres

1. Menulis dan Membaca Itu Satu Paket. Keduanya Bak Sisi Mata Uang

Menulis berita setelah meliput merupakan tugas wajib bagi mahasiswa aktivis pers. Kegiatan menulis tentu saja tidak serta merta lahir begitu saja, melainkan harus disokong dengan aktivitas membaca yang tidak kalah hebatnya. Mengapa? Tentu salah satu alasannya agar tulisan yang dihasilkan lebih berkualitas. Semakin sering membaca, praktis, perbendaharaan kata yang dimiliki akan lebih kaya sehingga tulisan yang tercipta tidak asal, murahan, dan jauh dari aksi plagiat. Sejatinya, menulis dan membaca itu satu paket, gaes. Keduanya bak sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

2. Kenal Sini Kenal Sana Sudah Biasa

Kenal sana sini sudah biasa? Tentu ini bukan tentang eksis yang mengarah ke negatif ya, gaes. Sekali lagi, bukan. Menggeluti dunia pers selama menjadi mahasiswa akan mendatangkan manfaat yang tak terduga. Kenal sana sini, baik itu mahasiswa dalam maupun luar kampus, pejabat kampus, bahkan aktivis masyarakat jelas berpotensi besar terjadi. Perkenalan luas yang terjalin, akan membuka pengalaman dan manfaat baru, gaes. Di samping itu, menjadi aktivis pers akan melatih diri untuk tidak lagi canggung bertemu dengan siapa pun dari berbagai kalangan.

Baca Juga  Kegalauan yang Pasti Dirasain Mahasiswa Setelah Wisuda

3. Siap dengan Resiko di Depan

Bergelut di dunia pers berarti berani menyuarakan aspirasi berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada. Beberapa hal terkait kebijakan kampus yang memberatkan mahasiswa atau tentang birokrasi yang abu-abu bahkan kejadian kontroversi lain harus ditulis dengan sebenar-benarnya. Keberanian menyalurkan aspirasi melalui tulisan inilah yang mesti ditanggung oleh mahasiswa aktivis pers. Resiko berupa teguran bahkan ancaman sangat berpotensi muncul.

4. Update, Kritis, dan Cerdas

Seputar hal terbaru tak pernah lepas dari intaian mata untuk dijadikan bahan tulisan. Sebelum dituliskan, tentu mesti melakukan peliputan dengan kritis agar data yang diadapatkan lebih tajam dan terpercaya. Bukan itu saja, mahasiswa aktivis pers pun harus cerdas menuliskannya dalam kemasan bahasa yang menarik dan olahan diksi yang tidak monoton. Update, kritis, dan cerdas. Satu paket, perfect.

Baca Juga  D3, D4, S1, Bedanya apa sih?

5. Kegiatan Menyunting yang Biasa Dilakukan Bisa Jadi Bekal Buat Skripsi

Jangan dikira setelah menulis, selesai perkara ya, gaes. Kegiatan menyunting juga melibatkan ketelitian. Edit dari segi konten, tanda baca, diksi, harus dilakukan agar tulisan layak dipublikasikan. Terbiasa menyunting tulisan ini membawa dampak yang berarti untuk keberlangsungan hidup mahasiswa aktivis pers itu sendiri, khususnya saat penggarapan skripsi, gaes.

6. Posisi? Ayo Ngopi!

Rileks sejenak dan tidak melulu serius meliput atau pun menulis berita juga pasti dilakukan di waktu senggang. Ngopi bareng dan melebur dalam perbincangan ringan kerap dilakukan.

7. Multitasking Setiap Hari

Bagaimana pun, menjadi mahasiswa aktivis pers jelas berperan ganda. Mereka harus multitasking setiap hari karena tanggung jawab yang diemban juga tidak lagi tunggal. Tugas kuliah kelar, liputan juga lancar.

Dan raasa-rasa tersebut, hanya mahasiswa aktivis pers yang memahami rasanya. Salam Pers Mahasiswa.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X