Pojok #UNYu

Dear, Mbakku yang tangguh lahir batin…

Sebelumnya, selamat ya mbak, telah berhasil melukis senyum di wajah kami menjadi nyata dengan penuh bangga dan haru. Pencapaian lulus dengan simbolan selempang cumlaude sudah kau persembahkan pada ayah, ibu, dan aku. Mati-matian kau berusaha, terpampang nyata juga hasil itu. Dua jempol untukmu, dariku, adik semata wayangmu.

kartun wisuda
pic : unygara.blogspot.co.id

Mbak, kulihat kau sedang mulai belajar mandiri selepas wisudamu beberapa hari lalu. Sudah berhasilkah caramu? Berada di Kota Jogja, jauh dari keluarga dan memutuskan menetap di sana, apa kau masih waras mbak? Aku tau sifatmu yang keras kepala dan tidak mudah menyerah begitu saja. Tapi, tak bisakah kau mengubah keputusanmu untuk kembali saja bersama kami di kampung halaman kita? Jogja sudah terlalu padat, mbak. Lukamu di kota itu juga teramat pekat dan kau hadapi sendiri. Persaingan di sana terlalu ketat. Apa kau masih tetap ingin memeluk Jogja erat?

Aku ingin membuat pengakuan padamu, mbak. Aku kagum dan sangat menyayangimu. Kagum pada perjuanganmu melakukan pertahanan hidup di Jogja. Katamu, “Aku hanya tidak ingin 100% menjadi tanggungan orang tua.” Lantas kau bekerja sebagai guru les juga freelance di tengah kesibukan kuliahmu. Kau juga pernah menjadi kasir meski hanya tiga hari.

Setauku, kau baru satu kali mengulang mata kuliah karena nilai C. Kau juga mencintai sastra, mbak. Mungkin itulah alasan mengapa kau sangat fleksibel, penyayang, dan perasa. Tapi dari ke semua kisahmu, entah mengapa, aku lebih tertarik pada perjalanan cintamu yang belum pernah berujung di kata manis meskipun sebenarnya kau sangat berpotensi memikat hati banyak pria. Mungkin ada yang salah saat kau mengucapkan mantra cinta, mbak. Sabar ya.

Tentang seorang lelaki yang membuatmu takluk tak terbantahkan. Tentang dia yang mengubah pendirianmu dari yang tadinya mudah cinta menjadi tidak mudah, lantas banyak pria yang kau patahkan perjuangannya karena sebuah penolakan darimu. Berusaha menurut versimu untuk memenangkan hatinya. Ketika gagal, kau bangkit lagi dan merenung sendiri, tapi perasaan itu malah tumbuh setiap hari. Perihnya, dia tidak gayung bersambut. Dan akhirnya kau menyerah. Katamu, ini tak berbalas, ini bukan kisah yang indah dan kau memutuskan pasrah. Meski begitu, kau tetap keras kepala menjalin komunikasi dengannya meskipun aku sangat melarangnya. Tapi entahlah, kau memang terlampau keras kepala.

Baca Juga  Penasaran dengan Laboratorium PAUD UNY ? Berjelajah Bisa Jadi Solusimu

Ketangguhanmu yang lain adalah kau sangat meramahi alam. Kau mencintai traveling dan muncak. Pernah satu waktu, kau dilarang ibu muncak ke Merapi di tengah kondisimu yang belum sehat padahal kau sudah mempersiapkan segalanya. Kau memang sempat kesal, tapi kemudian ceria lagi dan menuruti pinta ibu. Kau pernah setengah disakiti oleh kawan muncakmu yang kode minta ditikung. Lantas, kau tinggalkan dia dengan keadaan yang entah. Pernah juga kau dicemburui oleh kekasih sahabatmu karena suatu sebab. Ah, mbak. Kau luar biasa. Pesonamu menyebar ke kalangan pria yang sudah berkekasih juga.

Beberapa waktu lalu ibu bercerita. Saat kau di dalam kandungan, kau sudah dibawa dalam kisah yang berat. Ibu sering menimba dan mengangkat ember berisi air. Urusan rumah tangga yang tak selesai-selesai dan perekonomian yang melemah pun mendera. Berat. Kau pun terpaksa lahir prematur dan sering sakit-sakitan sewaktu kecil. Meski begitu, kau sangat petakilan. Patah tangan karena naik pohon, kaki yang kena ruji sepeda, dicubit dan dimarahi ibu setiap hari karena main lumpur dan hujan atau tidak mau makan dan tidur siang. Ah, mengapa kau sekriminal itu, mbak? Tapi kini, aku pun tidak menyangka dan percaya bahwa kau menjadi sosok yang tangguh dan luar biasa.

Baca Juga  Inilah Cara Mengetahui dan Mengolah Potensi Diri

Dan sekarang aku hanya mulai menyadari bahwa kau memang tangguh sejak dalam kandungan. Persoalan hidup dan rentetan lain yang menyesakkan sudah fasih kau lalui. Terserahmu sajalah mbak akan memilih hidup yang seperti apa. Aku cuma mau bilang, I love You, cuma itu.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X