AsmaraPojok #UNYu

Episode Melipat Rindu

Rinduku padamu makin menghangat hati setiap hari. Jika diungkapkan terlalu sering, jelas akan menyesakkan hati. Cemas pun bisa terurai seketika jika rindu itu menguap bebas sekali. Bagimu, tak ada sisi kedewasaan jika kata rindu tersampaikan saban hari. Sesekali, kata rindu itu bolehlah terdengar olehmu sebagai alarm diri bahwa ada aku yang sedang menantimu di sini. Tapi, jangan terlalu sering sebab sesungguhnya itu cukup menghantui diri. Baiklah, aku sepakat pada pemikiranmu kali ini.

rindu
pic : kiokarma.com

Apa yang lebih seni selain melipat rindu sehari-hari, sayang? Aku bertahan, tak mudah begitu saja rinduku terlayang. Aku menahan, meski wajahmu di sudut sana-sini membayang. Naifnya, aku tidak keberatan untuk sedikit memikirkan suatu hal hingga waktuku terbuang. Misalnya, ada terlintas di pikiran; seketika sergap hangatmu hadir menjadi penawar rindu dari belakang. Lantas, ada desiran di hati seperti desir jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi sembari memancarkan senyum penuh sayang. Kupikir, jika itu terjadi, tuntas sudah rinduku sekarang. Tidak hanya tuntas, tapi itu kejutan indah yang membuatku tercengang. Belum lagi jika imajinasi diri makin asik membayang. Aku memikirkan bisa menjadi benda mati yang berdiam sejenak ada di saku kemejamu bagian kanan, agar tepat ada di detak jantungmu, sayang. Alasan sederhananya tentu ingin memusnahkan jeda jumpa yang sebegini lamanya hingga membikin hati tak tenang. Ah, episode melipat rindu cukup menggelitik memang.

Kita adalah sepasang manusia dewasa yang sedang ditempa episode rindu. Ragam frekuensi rindu sudah tamat kita rasakan seiring berjalannya waktu. Komunikasi yang kita bangun dari kejauhan demi menjaga hubungan ini juga tidak kalah menarik bagiku. Saat sesekali berucap rindu via aplikasi berbayar terasa malu bagiku dan bahkan bagimu. Terjangan rindu yang tidak diungkapkan dalam kurun waktu tertentu juga malah bisa menjadi perdebatan kecil kekanakan yang menguras waktu. Rasa kesal sesaat yang sedemikian itu ingin segera diselesaikan saja agar berganti suasana baru. Tapi, yang kerap terjadi luput dari prediksi hatiku. Selanjutnya, melayangkan maaf malah terasa tabu. Ah, episode melipat rindu sesekali menimbulkan kesan lucu.

Baca Juga  Merawat ‘Ragam Rupa’ : Potret Pendidikan Seni Rupa UNY

Melipat rindu dan hal-hal lain yang menyertainya. Kita sudah tamat melewati beragam episodenya. Aku dengan sibukku di sini sementara kau dengan sibukmu di sana. Fase rindu yang mendera hanya perlu dihadapi dan dinikmati prosesnya bukan untuk ditanggapi dengan drama.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X