OpiniPojok #UNYu

Jeritan Hati: Mahasiswa Bidikmisi Bagai Awkarin Cabang Jogja. Salah Sasaran?

Mendengar kata Bidikmisi tentu sudah tidak asing lagi di telinga para mahasiswa. Seperti yang diketahui bahwa bidikmisi merupakan beasiswa bagi keluarga kurang mampu dalam bentuk biaya pendidikan dan biaya hidup selama masa kuliah waktu standar 4 tahun studi untuk mahasiswa yang berprestasi. Beasiswa Bidikmisi ini sejatinya menuai banyak pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Masalah-masalah yang timbul cukup membuat para pendengarnya menjadi ‘semakin berpikir jauh ke dalam’.

Salah satu masalah yang kerap timbul tenggelam yakni pada penerima beasiswa Bidikmisi. Dominasi masyarakat tidak mampu memang menghiasi deretan list penerima beasiswa yang menggiurkan ini, namun tidak jarang pula mahasiswa yang dirasa mampu secara finansial juga turut andil menjadi bagian dari beasiswa Bidikmisi. Bagaimana tidak menggiurkan? Uang kuliah sudah bebas biaya, dan mendapat jatah bulanan sebesar Rp 650.000,-. Tentu beasiswa ini menjadi incaran empuk.

Mari kita baca dongeng di suatu Universitas Antah Berantah yang cukup menegangkan tentang beasiswa yang sedikit ‘panas’ ini…….

**********

Menjadi mahasiswa semester (setengah) tua, jiwa-jiwa julid ria mulai timbul dan rasanya ingin menghujat apapun yang ada di kampus saking bosannya. Duduk menunggu kedatangan dosen pembimbing skripsi yang tak kunjung menampakkan tanda-tanda kehadirannya, tiba-tiba mataku tertuju pada salah satu mahasiswa, dengan gayanya menenteng Iphone serta gaya berpakaiannya yang parlente dapat dikatakan bahwa mahasiswa tersebut kalangan kaum “borjuis”.

            “Wahhhhhhhh,” gumamku seketika.

            Tiba-tiba saja, lenganku disenggol temanku seraya berkata lirih,

            “Heh, nggak usah kaget. Cah kui Bidikmisi. Ga percaya? Coba tanya akademik,” ujar temanku.

Kembali lagi. Jiwa-jiwa ingin tahuku semakin merajai. Dengan berbekal nama lengkap dan nomor induk mahasiswa, kujelajahi. Eh weladalaaaaaaaah! Betul saja, ia mahasiswa Bidikmisi. Sebentar, sebentar. Aku mah tarik, tahan, buang napas dulu. Fyuuuuuuh! Kompor meleduk seketika, temanku dengan menggebu-nggebunya mempertontonkan akun media sosial mahasiswa Bidikmisi borjuis tersebut. Kalian tahu apa first imppresion-ku? INI AWKARIN CABANG JOGJA KAH? Jalan-jalan terus. Jajan-jajan mahal. Gaya hidup mentereng. Ah! Tarik napas, nggak boleh iri! Wkwkwkwk.

Baca Juga  Perhatikan Hal Ini Sebelum Memilih Tempat Magang Bagi Mahasiswa

Memang betul, menjadi Bidikmisi tidak harus terlihat dan menampakkan ketidak mampuannya secara ekonomi. Tapi, alangkah lebih baiknya mbok ya o sadar dengan status. Sejatinya, saya malah justru takut apabila si mahasiswa bidikmisi borjuis ini mendapat banyak kecaman dan cemoohan akibat ulahnya sendiri yang terlihat sangat-sangat mampu secara ekonomi namun mengajukan bidikmisi demi kuliah gratis dan biaya bulanan yang lumayan fantastis.

Lantas? Bidikmisi kan melalui proses survey? Bagaimana manusia-manusia ini bisa lolos? Wallahu allam, jawabannya. SAYA TIDAK TAHU KARENA SAYA BUKAN TIM SURVEYNYA, WAHAI NETIJEN.

 Melihat suatu hal yang kontras seperti ini, banyak ketakutan-ketakutan yang dialami mahasiswa Bidikmisi. Contohnya saja, temanku. Sebut saja, Agus. Ia penerima beasiswa bidikmisi sejak semester pertama. Dengan berbekal prestasinya yang segudang dan IPK-nya yang nyaris menyentuh angka sempurna, maka tidak heran ia memperoleh beasiswa ini. Toh, lagipula Agus juga menuturkan bahwa keadaan ekonominya sedang tidak baik-baik saja. Ia tulang punggung keluarga.

Suatu waktu, keinginan Agus untuk dapat membeli smartphone hampir saja terwujud. Ia membeli dengan uang hasil jerih payah sisa beasiswa dan bekerja paruh waktunya menjadi asisten dosen. Ia sudah membulatkan tekad. Pokoknya harus beli supaya tidak ketinggalan informasi kampus.

TADAAA! Akhirnya terbelilah smartphone Sumsang keluaran lama namun spesifikasinya masih mumpuni. Bagi Agus ini sudah lebih dari cukup untuk menunjang informasinya. Namun eh namun, banyak juga mulut-mulut jahil yang hobi mengomentari apapun yang manusia lain lakukan.

            “Wah, Agus. Beasiswa Bidikmisi keluar langsung beli HP baru! Mantap Gus!”

            “Edaaaan! HP ne langsung anyar rekkkk!!!”

Sebetulnya ucapan tersebut terdengar biasa saja. Namun, tidak bagi Agus. Ia memikirkannya berhari-hari sampai ia berniat menjual kembali handphone yang telah ia beli. Karena apa? Karena stigma mahasiswa pada umumnya menganggap mahasiswa bidikmisi adalah untuk mahasiswa kurang mampu dalam ekonomi. Beli apa saja sedikit sudah jadi bahan pembicaraan. Jajan es kopi mahal, jadi bahan gunjingan, makan Mc Donalds jadi bahan gosipan katanya Crazy Rich Bidikmisi. Ahhhhh, memang serba salah!

Baca Juga  Hai Anak Kost; 4 Masjid di sekitaran UNY Ini Memberikan Buka Puasa Gratis Loh!

Dengan berbagai ketakutan yang menyerang, Agus seringkali tidak membawa smartphone ke kampus. Ia takut menjadi bahan omongan akibat statusnya sebagai anak bidikmisi. SETAKUT ITU DAN SE GAK ENAK ITU! Kata Agus, ia tak enak pada teman-teman lainnya meskipun smartphone kini menjadi kebutuhan primer. Ia tak ingin muncul kecemburuan-kecemburuan yang menimbulkan perpecahan. Huhuhuhuhu!!!!!!

Tapi, berbeda cerita dengan mahasiswa borjuis bidikmisi tadi. Dengan tak tanggung-tanggung ia menenteng Iphone serta menampilkan style a la a la mahasiswa kekinian yang banyak duit. Eleuh-eleeeeeuuuuuh! Gemes rasanya! Bukannya iri atau dengki, karena pun aku juga beasiswa penuh kok. Beasiswa orang tua, hehehe. Tapi, kesadaran diri itu perlu. Boleh saja menurutku tidak menampilkan ketidak mampuan secara ekonomi. Enak dipandang manusia itu suatu keharusan kok. Namun, jangan berlebihan dong! Kan sedih aku lihatnyaaaaaa L

Kadang, lihat teman reguler yang tiap hari bawa bekal nasi, pulang pergi kuliah naik angkutan umum, bercerita tentang orang tuanya yang bekerja siang malam demi kuliah… kok rasa hati ingin menghujat mahasiswa bidikmisi borjuis. INI YANG SEBENARNYA SALAH SIAPA SIHHHHHH???????

 Akhir dari jeritan hati ini…. ah sudah tak sanggup. Biarkanlah mahasiswa bidikmisi borjuis ala awkarin cabang Jogja tadi bahagia dengan caranya. Semoga manusia-manusia yang berjuang keras juga selalu sukses di jalannya masing-masing. Penulis sih berharap, semoga lain waktu, seleksi diperketat lagi untuk bidikmisi. Jangan kecolongan! OH YA! KEPO INSTAGRAM CALON PENERIMA BIDIKMISI ITU JUGA PENTING! Besok, kalau penulis ini jadi menteri, beneran deh! Instagram ataupun media sosial selalu terpantau untuk kelayakan penerima beasiswa! Jangan sampai ngaku-ngaku dan salah sasaran!

Banyak manusia yang kehilangan hak-nya, karena manusia-manusia lain yang gila materi jua demi menaikkan kehidupannya. Ah, semoga semakin ke depan lebih baik~

Diah Ayu KW

Mahasiswa tingkat empat jurusan Manajemen Pendidikan yang mencoba peruntungan menjadi seorang penulis.

Related Articles

Back to top button
Close
X