Kesadaran Futuristik di Kuliah Hari Pertama | UNY COMMUNITY
Home / Opini / Kesadaran Futuristik di Kuliah Hari Pertama

Kesadaran Futuristik di Kuliah Hari Pertama

HARI monumental yang telah lama dinanti akhirnya tiba. Setelah persiapan cukup lama, dari proses pascalulus sekolah menengah hingga ujian masuk universitas, kita berada di depan daun pintu perdana dengan mengenakan identitas bernama “mahasiswa” dan seperangkat tujuan jangka panjang untuk menggeluti disiplin ilmu sesuai pilihan.

Euforia Ospek beberapa pekan lalu barangkali masih tersisa: apa benar kita berkomitmen penuh di sini dengan konsekuensi totalitas belajar, baik di dalam maupun luar kelas? Dengan kata lain, kontribusi atau tidak sama sekali.

pic : instagram.com/pkkmbfbsuny/

Kini bukan lagi memikirkan kesalahan masa lampau seperti salah jurusan karena tak diterima di pilihan pertama. Bila masih meratapi kegundahan itu berarti kita perlu reorientasi niat. Ketimbang memikirkan masalah sepele semacam itu sudah sepantasnya kita memprioritaskan apa yang telah tersedia di depan mata, yakni sejumlah SKS dengan deretan materi kuliah.

Baca Juga  Mengenal 5 UKM Bidang Penalaran di UNY, Sudah Menelurkan Banyak Prestasi Loh!

Ia mendesak untuk dihadapi dan dinikmati sebagai sebuah proses pendidikan di universitas. Ia dikonstruksi sedemikian rupa untuk memberikan peta elementer sebuah ilmu pengetahuan kepada mahasiswa. Tanpa dorongan internal (antusiasme) meneroka tiap materi di sana boleh jadi mata kuliah itu tak akan berarti apa pun.

Karenanya, tugas kita adalah mengartikannya dengan sistematis dan komprehensif. Sebelum melakukan perjalanan ilmu ke tahap sistematis dan komprehensif, kita perlu menunaikan kerangka elementer darinya di tahap pertama: memahami materi melalui peta konsep.

Momentum paling pas tiada lain dan tiada bukan adalah saat kuliah pertama. Hari itu dianggap menentukan perjalanan akademik mahasiswa selama proses pembelajaran di universitas. Ada yang mengatakan, “Jika pertemuan perdana disepelekan, maka dampak negatif jangka panjang akan dirasakan. Cepat atau lambat.”

Pernyataan demikian sekonyong-konyong menandakan betapa pentingnya pertemuan pertama. Kendatipun pertemuan itu sekadar perkenalan atau presentasi silabus, namun di satu sisi ia mengajarkan kepekaan horizontal dan vertikal. Pertama, bagaimanapun, perkenalan antarteman itu akan menguatkan batin mahasiswa dalam membangun lingkungan akademik. Karena itu, pertemanan adalah instrumen penting dari proses pendidikan di pelbagai institusi mana pun. Bisa dibayangkan bila kita abai terhadapnya. Seperti pepatah arkais: seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

Baca Juga  Semalam Bersama Bu Sumirah

Kedua, silabus mata kuliah membantu kita dalam menyusun jadwal belajar di luar kelas. Ini penting sekali karena banyak mahasiswa salah mengartikan kuliah sebagaimana sekolah. Di bangku universitas diskusi dan presentasi makalah sedemikian ditekankan dalam rangka menemukan “apa yang benar” bukan “siapa yang benar”.

Berbeda dengan di sekolah yang pola belajar cenderung menggayung ilmu dari satu sumber semata, yaitu guru mata pelajaran; di perguruan tinggi sangat kontras karena ia diajak berpikir independen dan etos pencarian ilmu meluas hingga buku serta jurnal ilmiah.

Dampak kemandirian belajar itu terasa di kelas. Mereka yang mempunyai pustaka ilmu akan lebih cerdas dalam menanggapi topik diskusi melalui beragam perspektif. Sementara itu, bagi mahasiswa yang malas membaca dan hanya menggantungkan penjelasan verbal dosen akan berada di titik kemandekan berpikir. Bukankah batas wawasan manusia terletak pada bahan bacaan yang dikonsumsinya?

Baca Juga  Tentang Cinta dan Kemelut yang Selanjutnya Disebut Perpisahan

Kesadaran belajar di perguruan tinggi harus direnungi sejak di pertemuan pertama. Dari silabus kita mendapatkan daftar bacaan wajib yang harus diselesaikan selama satu semester. Tak heran jika banyak mahasiswa mengeluh karena terbebani bejibun tugas membaca literatur. Mereka yang mengeluh itu sebetulnya masih mengimajinasikan sekolah di universitas. Ia masih terjebak di ruang nostalgia masa abu-abu putih.

About Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Check Also

Prof. Haikal dan Perjumpaan Sesaat

BELUM tepat pukul 08.00 pagi kabar pilu bertuliskan Lelayu itu datang dari seorang kolega. Prof. …