Pojok #UNYu

Membaca Aksara Menggusur Lupa Melalui Kenangan Manis N.V Boekhandel En Drukkerij Kolff Bunning Van Djokja

Siapa luput belum mengenal  Kota Pelajar Yogyakarta ? Kesyahduannya yang masyhur ternyata telah bergeliat jauh dari masa Raja Mataram bertakhta hingga  Kolonial Hindia Belanda .Bahkan pada masanya ,Yogyakarta memiliki  jantung perekonomian yang banyak terletak di pusaran pusat kota . Sektor bisnis yang berkembang seperti hotel, rumah makan, pasar, apotek hingga kedai dan deretan toko menyebar mengular khusunya di kawasan Malioboro .Bahkan ,pada  titimangsanya di kawasan Malioboro yang akrab pula dengan keberadaan Pasar Beringharjo   pernah menyandang title “Eender Mooiste Passers op Java” sebagai rujukan pengertian ‘ salah satu pasar terindah di Tanah Jawa’.  Malioboro semakin semarak sehingga berkembang menjadi ladang usaha banyak kleermaker (penjahit), schoenmaker (pembuat sepatu), hoorlogmaker (tukang arloji), hingga para cofieuer (tukang cukur).

Yang istimewa , Yogyakarta juga menjadi bagian cikal bakal  gerak dan langkah literasi yang telah bergema jauh pada masanya Sebagai salah satu bagian terpenting dalam sejarah bangsa ,Yogyakarta telah melahirkan berbagai catatan dalam bentuk arsip dan bahan perpustakaan yang memiliki nilai historis tinggi .Bahan perpustakaan yang terkait dengan perjalanan panjang Yogyakarta merupakan kekayaan budaya yang mampu memberikan kontribusi bagi pembentukan jati diri bangsa.

foto : Charles Stephen Tjahjono

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan Cagar Budaya di Jalan Malioboro No. 175 Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Kerangka gerakan literasi ini sekarang berbentuk keberfungsiaan “mantan percetakan buku” bernama N.V. Boekhandel en Drukkerij Kolff-Bunning van Djocja.  Menjadi  kajian yang menarik bagaimana kembali menempatkan jejak literasi dalam kacamata sejarah ,mengingat tidak banyak orang yang mencoba memulai menggali ,memanfaatkan ,dan mengembangkan karya-karya penerbitan sebagai sebuah sumber  guna belajar memahami ,menggambarkan dan menyerap arti kebermaknaan pada rekam kehidupan dimasa lalu.Ini adalah catatan tentang gasing yang berputar dari lintasan zaman yang berbeda . Gasing itu bernama derap langkah literasi dan kenangan manis penerbitan buku .Mari kita mulai !

Baca Juga  Peluang Lolos Lebih Besar, Berikut Ini Jurusan ‘Minim’ Peminat di UNY !

Melalui riset sederhana ,jejak N.V. Boekhandel en Drukkerij Kolff-Bunning van Djocja (selanjutnya akan ditulis singkat sebagai Kolff Bunning)  rupanya mengilhami “alih fungsi” berdirinya Jogja Library Center sebagai bagian dari naungan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Yogyakarta di lokasi yang sama. Pada masanya , pemilik membeli tanah di Malioboro untuk digunakan sebagai usaha percetakan dan toko buku. Perusahaan ini menjadi penyedia buku-buku pendidikan di Hindia Belanda  yang cukup terkemuka pada waktu itu .

Setelah beberapa kali mengalami pergantian nama mulai dari Perpustakaan Negara hingga sekarang secara administratif bernama  BPAD Unit II Malioboro dan tertulis pula dengan nama Jogja Library Center  (JLC) nyatanya konsistensi perawatan dan perjuangan literasinya masih lestari.

Terletak di pusat kota , Jogja Library Center sebagai salah satu unit pelayanan kearsipan hadir sebagai sarana belajar masyarakat yang khusus melayani koleksi perpustakaan tentang budaya lokal ,majalah dan surat kabar ,bahkan sudah dilengkapi dengan pustaka digital.Pecinta wisata heritage ,masyarakat umum hingga para pencinta literasi direkomendasikan mengunjungi bangunan Kolff Bunning untuk belajar , mencari referensi hingga mencicipi nuansa lain manakala beranjangsana ke sudut Malioboro bisa pada Senin sampai hari Sabtu.  Untuk hari Senin sampai dengan hari Kamis dari pukul 08.00-14.00 WIB, dan Jumat-Sabtu dari 08.00-13.00 WIB. Sistem layanan yang digunakan hanyalah membaca di tempat dimana Pengunjung tidak diizinkan meminjam koleksi.

Bekas Kolff Bunning ini menjadi rumah beragam koleksi berupa majalah , surat kabar legendaris semacam Kedaulatan Rakyat (KR),  hingga pojok Yogyasiana dan Kyoto Corner. Pengunjung sendiri dapat memulai perjalanan kemari menggunakan transportasi umum berupa Trans Jogja lalu turun di Halte Malioboro 1 depan Hotel Inna Garuda atau menggunakan kendaraan pribadi lalu dititipkan di Parkiran Abu Bakar Ali.

Baca Juga  Terjebak dalam zona Friendzone? Lakukan Hal Berikut
Gambar 1 : Potret salah satu sudut Kolff Bunning yang sekarang telah berubah menjadi Jogja Library Center .Nampak suasana dan atmosfer khas Bangunan Belanda . (Sumber Dokumentasi Pribadi ,kunjungan 26 Oktober 2019)

Salah satu yang menjadi ciri khusus dari Jogja Library Center ialah layanan Yogyasiana ,dimana para pemustaka dapat menggali sumber-sumber yang sarat muatan berhubungan dengan ‘njogjaisme’.Untuk layanan majalah dan surat kabar ,tersedia dalam bundel-bundel yang telah disatukan dan diurutkan menurut tempo waktu.Pemustaka dapat menemukan surat kabar seperti Sinar Harapan ,Kompas ,Bernas hingga KR. Majalah Panjebar Semangat hingga Djoko Lodang juga tersedia. Pemustaka juga dimudahkan dengan sistem yang telah terintegrasi secara “alih media” pada arah digital sehingga mempermudah apabila memerlukan bahan kajian .Beralih ,pemustaka juga dapat melepas dahaga sumber baca melalui Kyoto Book Corner dengan jumlah  hampir mencapai 900 pustaka koleksi yang diluncurkan sebagai “simbol” seperempat abad hubungan diplomatik Bagian Pustaka koleksi Yogyakarta dengan Pemerintah Negeri Sakura. Guna menghidupkan semangat mencerdaskan , Jogja Library Center tak lupa   menyediakan ruang diskusi dan ruang studi yang masing-masing terletak di lantai dua dengan dilengkapi fasilitas internet yang memadai.

Sesuai amanat Kepala BPAD Daerah Istimewa Yogyakarta ,Bapak Budi Wibowo keberadaan Jogja Library Center diharapkan mampu menjadi rumah informasi yang autentik ,relevan dan dapat dijadikan sebagai sarana belajar masyarakat  untuk lebih mengenal Yogyakarta dan Indonesia .

Jadi kamu dapat menemukan paket lengkap keseruan belajar sejarah hingga menjelajahi salah satu cagar budaya bukan ?Yuk kunjungi dan lestarikan !

Salam Literasi ,Salam Budaya !

Tentrem Restu Werdhani

Belajar menulis untuk mengisi apa yang belum diketahui . Bisa diikuti potret kegiatannya di instagram @pramudhiyawardhani .

Related Articles

Back to top button
Close
X