Menyingkap Nilai Filosofi Simbol Macan di Dusun Gembongan Desa Sukoreno Sentolo Kulon Progo | UNY COMMUNITY
Home / PKM / Menyingkap Nilai Filosofi Simbol Macan di Dusun Gembongan Desa Sukoreno Sentolo Kulon Progo

Menyingkap Nilai Filosofi Simbol Macan di Dusun Gembongan Desa Sukoreno Sentolo Kulon Progo

 Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana mereka tinggal tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok suku bangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada di Indonesia. Sedangkan menurut Koenjtaraningrat (1974) menyatakan bahwa kebudayaan terdiri atas tiga wujud: (1) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan. (2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. (3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Dari keadaan bumi Indonesia yang kaya akan keragaman budaya sebagaimana yang telah diutarakan oleh Koenjtaraningrat diatas, maka kami berusaha mengangkat kembali kebudayaan masyarakat Dusun Gembongan mengenai kepercayaannya terhadap simbolisme yang sangat melekat pada daerahnya. Di era modern yang sedang bergulir saat ini, sangat jarang dijumpai masyarakat yang masih mempercayai keberagamaan atau nilai filosofis yang terdapat dalam sebuah simbol, bahkan kepercayaan ini bersifat turun-temurun dan ditularkan hingga ke generasi selanjutnya. Tidak hanya hidup dalam kepercayaan saja, nilai filosofi dari simbol ini melekat pada diri masyarakat Dusun Gembongan sehingga mempengaruhi keadaan sosial masyarakat Dusun Gembongan.

Baca Juga  MILENIUM, Mie Lethek Instan Produk Mahasiswa UNY

Dusun Gembongan terletak di Desa Sukoreno Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulon Progo. Kehidupan masyarakat di dusun ini masih tergolong dalam masyarakat tradisional. Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai leluhurnya dan memegang teguh adat istiadatnya. Pada umumnya masyarakat tradisional berpandangan bahwa cita-cita, harapan, norma dan nilai-nilai hidup merupakan kewajiban, kebutuhan dan kebanggaan. Di Dusun Gembongan sendiri terdapat suatu kepercayaan yang diperoleh dari leluhurnya dan masih berkembang hingga saat ini. Kepercayaan ini berupa kepala seekor macan yang dijadikan simbol di Dusun Gembongan. Terbukti simbol macan tersebut terpampang di gapura Gembongan. Dengan demikian masyarakat bahkan generasi muda pun mengakui keberadaan simbol dusun tersebut. Berdasarkan keunikan sebuah simbol macan di Dusun Gembongan tersebut, kami termotivasi untuk melakukan penelitian dan mengingat bahwa penelitian di Dusun Gembongan mengenai hal ini belum dilakukan sebelumnya. Dengan demikian kami berupaya menggali informasi di balik simbol macam Dusun Gembongan, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo.

Dusun Gembongan mempunyai sejarah panjang mengenai penamaan dusunnya, hal ini berawal dari kisah Mbah Gembong yang menjadi cikal bakal penamaan Dusun ini yakni kata “Gembong” yang berarti macan besar yang dikaitkan dengan kisah Mbah Gembong. Mbah Gembong sendiri dulunya dikisahkan sebagai seorang yang menjadi salah satu prajurit Perang Diponegoro (1825-1830) yang mempunyai ilmu macan.  Selain itu juga dikisahkan Mbah Gembong memiliki sebuah padepokan di Dusun tersebut, hal ini dapat dihubungkan dengan kesaktian yang dimiliki oleh Mbah Gembong yaitu dapat mengubah dirinya menjadi seekor macan di malam hari. Menurut informan dan masayarakat Dusun Gembongan ketika malam satu (1) Syura macan ini mengelilingi perumahan warga Dusun Gembongan untuk meminta minum. Diketahui pula dari salah satu informan bahwa ada suatu tradisi mengenai memenuhi setiap padasan (tempat air) karena warga meyakini sosok macan ini akan mengunjungi setiap rumah untuk meminum air di padasan tersebut.

Baca Juga  APIK ; Terobosan Baru Alat Proteksi Kebakaran

Pada saat Perang Diponegoro terdapat banyak korban perang yang meninggal dan semua korban dimakamkan secara massal di suatu pekarangan di Dusun Gembongan termasuk salah satunya adalah Mbah Gembong, dikarenakan Mbah Gembong mempunyai suatu kesaktian yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya, maka makam Mbah Gembong beserta istrinya diberikan suatu perlakuan khusus yakni berupa tanda dari batu agar generasi selanjutnya mengetahui letak makam Mbah Gembong yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Dusun Gembongan. Namun berjalannya waktu makam ini kemudian di bangun atap oleh generasi selanjutnya agar makam ini mempunyai tanda yang jelas.

Hingga saat ini makam Mbah Gembong sendiri masih di uri-uri oleh warga, hal ini dibuktikan dengan masih selalu dibersihkannya makam ini oleh salah satu warga dan pada malam satu syura sebagian warga dari Dusun Gembongan melakukan tradisi rutin satu tahunan yang dibiasanya oleh masyarakat di Dusun itu diberi nama “lek-lek-an” atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai aktivitas tidak tidur di malam itu , selain itu makam Mbah Gembong masih dikunjungi oleh warga dari luar Desa Sukoreno, hal ini dapat dilihat dari bekas kulit kelapa atau yang dikenal oleh masyarakat Jawa dengan sebutan sepet yang saat itu bekas pembakaran, selain bekas sepet yang dibakar, peneliti juga menemukan taburan bunga yang berada di atas makam Mbah Gembong.

Baca Juga  Tim PKMM Gamelan Literasi UNY Ciptakan Inovasi Baru Berantas Buta Aksara

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya Mbah Gembong merupakan seseorang yang mempunyai kesaktian mengubah dirinya menjadi seekor macan, karena kesaktian ini, kemudian nama Mbah Gembong menjadi cikal bakal penamaan dusun tersebut sehingga simbol macan tersebut diletakkan pada gapura Dusun Gembongan yang dibangun pada tahun 2015, namun sebelum dibangunnya gapura tersebut  masyarakat Dusun Gembongan telah mempercayai cerita mengenai keberadaan Mbah Gembong yang mengubah dirinya menjadi seekor macan.

Salah satu informan mengatakan keinginannya bahwa suatu saat Dusun Gembongan bisa dijadikan sebagai desa wisata. Karena sebentar lagi Kulon Progo sendiri akan menjadi icon baru dengan dibangunnya bandara internasional. Hal ini bisa dijadikan kesempatan untuk mengenalkan Gembongan terutama tentang sejarahnya, yaitu asal mula penamaan Dusun Gembongan. Harapannya dengan dikenalnya sejarah Gembongan bisa membuat Dusun Gembongan lebih maju dan dikenal lagi. Terutama para pemuda Gembongan untuk terus bergerak dan dibantu dorongan untuk memajukan Gembongan.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dibalik adanya simbol terdapat makna terbesar yang ada, yakni ada sejarah yang melatarbelakangi lahirnya simbol tersebut. Simbol tersebut mengandung sesuatu yang adikodrati, dimana pada simbol macan terdapat sejarah dimana ada seseorang yang dapat mengubah dirinya menjadi seekor macan. Hal tersebut tentunya di luar akal rasional manusia dan merupakan sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Pada saat ini simbol macan masih diakui masyarakat Dusun Gembongan sebagai sesuatu yang mempunyai makna penting dan kemudian diabadikan sebagai simbol dan cikal bakal penamaan Dusun Gembongan. (ayu sekar rini)

About admin

UNY COMMUNITY - Komunitas Mahasiswa dan Alumni UNY - kirim artikel menarik kalian ke redaksi@unycommunity.com, syarat dan ketentuan baca  Disini 

Check Also

Giveaway PPKMB UNY 2018

EUFORIA SEMESTER BARU SEMANGAT BARU! 🎇 . Menjelang semester baru dan menyambut mahasiswa baru, kali …