Nikah VS Kuliah? Why Not!
Ketika sepasang mahasiswa tengah dibalut cinta, hubungan apa yang selanjutnya disepakati bersama? Bagaimana jika nikah saja? Semoga semesta mengamini dan bukan isapan jempol belaka daripada berbuntut malapetaka? Yes, simak mengapa keputusan nikah saat kuliah jadi keputusan yang tegas berjawab, “Why Not!”

1. Perihal prinsip
Ini tentang prinsip secara umum yang tentu bersebab musabab, gaes. Prinsip tersebut dinilai logis dan bisa diterima hingga berdampak menjadi sebuah hukum tertentu. Menikah itu sunnah bagi mahasiswa yang masih dapat mengendalikan diri. Di sisi lain, menikah menjadi berhukum wajib bagi mahasiswa yang tidak dapat lagi mengendalikan diri. So, back to your self.
2. Memahami konsep umum
Sadar bahwa menikah memiliki potensi kedewasaan yang mesti dijunjung tinggi apalagi di masa kuliah, maka diperlukan pemahaman konsep yang secara umum diketahui, gaes. Menikah saat kuliah memerlukan kesiapan ilmu, harta (nafkah), dan fisik, di samping mensyaratkan tetap adanya kemampuan melaksanakan kewajiban kuliah.
3. Percaya diri bisa membagi waktu
Kendali hidupmu dibatasi waktu tertentu. Artinya, kamu pun harus paham kapan waktu terbagi antara urusan kuliah dan kehidupan rumah tangga. Yes. Secerdas mungkin membagi waktu agar keduanya bisa berjalan secara proporsional.
4. Restu
Yes. Restu. Tanpa restu, jelas kemustahilan sepasang anak manusia menjadi satu ikatan. Restu diperoleh setelah melewati banyak komunikasi dari berbagai pihak. Selanjutnya, menjalin keharmonisan komunikasi dengan pasangan adalah kunci terbaik untuk mengabadikan restu yang telah Tuhan berikan.
Jika sudah sama-sama yakin, apalagi yang ditunggu, gaes? Menikah di masa kuliah bukan sebuah hal yang absurd dijalani kok. Percayalah.




