Penerapan Visi Taqwa, Mandiri dan Cendekia | UNY COMMUNITY
Home / Opini / Penerapan Visi Taqwa, Mandiri dan Cendekia

Penerapan Visi Taqwa, Mandiri dan Cendekia

Sebagian besar manusia atau kumpulan manusia terikat dalam suatu tujuan yang ingin selalu dicapai dalam hidup masing-masing. Tujuan tersebut lalu direfleksikan oleh manusia ke dalam wadah yang dinamai sebagai visi. Melalui visi tersebut manusia akan berjalan agar sesuai dengan alur yang dikehendaki. Namun banyak pula manusia yang tidak mempunyai visi dan berjalan layaknya “kembang tebu sek kebur keno angin”, seolah tidak tau apa yang menjadi tujuan hidupnya, sehingga tidak ada tumpuan adalah yang sering kita temui. Adapula manusia yang memiliki visi ataupun diberikan hak milik atas visi itu sendiri namun tidak dapat memaknai visi, akibatnya ia tidak mampu mengimplementasikan visi tersebut sebagai sarana pencapaian tujuan.

visi
pic : jasminezaras.tumblr.com

Dalam hal ini yang dapat dicontohkan adalah bagaimana kita memaknai dari apa itu Taqwa, Mandiri dan Cendekia. Bagi sebagian orang, tiga kata tersebut jika diartikan bahwa taqwa itu ya sebatas menurut dengan Tuhan, mandiri itu ya berdiri sendiri dan cendekia itu ya pintar dan intelek. Jika kata tersebut dipisah memang hanya akan menghasilkan tafsir yang tunggal. Berbeda jika ketiga kata tersebut berdiri sejajar beriringan maka akan mengandung tafsir yang jamak meskipun ketiga kata itu dibolak-balik letaknya. Dalam visi ini taqwa memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ketiganya, sedangkan mandiri dan cendekia adalah jalan yang menjembatani manusia menuju taqwa itu sendiri.

Baca Juga  Sebab Hidup Adalah Perjuangan, Kuliah Di Jurusan Kurang Populer Pun Bisa Membuatmu Jadi Orang Hebat

Taqwa dapat dimaknai sebagai bentuk cinta kasih yang tertinggi dari manusia terhadap Tuhannya. Taqwa diwujudkan dalam sikap-sikap yang dipaparkan manusia dalam rangka menjalankan perintah-Nya serta menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Taqwa juga merupakan bentuk dari segala cinta dan romantisme manusia yang tujuan akhirnya bermuara kepada Tuhan. Untuk mencapai level paling atas dari hubungan antara manusia dan Tuhannya dibutuhkan tahap dan sikap-sikap tertentu. Maka dari itu mandiri dan cendekia itu berdiri sebagai penghantar ke muara tersebut.

Untuk mencapai tingkat ketaqwaan yang sebenarnya manusia harus dapat membebaskan dirinya dari segala macam bentuk “kemudharatan” sikap dan perilaku yang akan menjurus pada penghianatan kepada Tuhan. Selain itu manusia juga seharusnya mampu meninggalkan berbagai rayuan gombal setan yang selalu menggunakan topeng dunia sebagai alat penariknya. Bahwa kekuasaan, kekayaan, derajat, pangkat dan kedudukan manusia di dunia selalu mengalihkan pandangan agar tidak menuju ke arah ketaqwaan. Oleh sebab itu mandiri digunakan agar manusia mampu menanggalkan segala bentuk perilaku yang mengarah kepada “kemudharatan” tersebut untuk kemudian berdiri sendiri tanpa pengaruh negatif dari dunia dan seisinya.

Baca Juga  Pendidikan Luar Biasa UNY Memang Bukan Jurusan Biasa, Berikut Ulasannya

Setelah dapat terlepas dari segala bentuk “kemudharatan” manusia akan mengalami level atau taraf yang lebih tinggi dimana pada saat itu akan menggunakan akal dan pikirannya untuk menalarkan apa saja yang ditemuinya di kehidupann, yang kemudian direfleksikan ke dalam sebuah sikap dan wujud dari cintanya kepada Tuhan. Atau dapat dikatakan bahwa makna dari cendekia dalam visi diatas adalah sebuah gambaran dari penggunaan kekayaan intelektual manusia dalam rangka mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Artinya manusia menggunakan otak dan akal sehatnya untuk berfikir bagaimana caranya untuk membuat Tuhan juga jatuh cinta. Dengan pemahaman yang demikian maka manusia akan mengerahkan segala pemikirannya bagaimana caranya agar tetap selalu berada dalam romantisme bersama Tuhan. Ia akan berusaha melakukan apa saja yang disukai oleh Tuhan yang bisa diwujudkan lewat cara beribadah. Tanpa mengesampingkan perasaan, bahwa nantinya kecendekiaan manusia itulah juga yang akan menuntun agar dapat membedakan mana yang disukai dan tidak disukai oleh Tuhan.

Baca Juga  Tentang Hotspot Yang Bernama YSU

Dari ketiga pemaknaan kata dalam visi tersebut dapat disimpulkan bahwasannya taqwa adalah bentuk cinta kasih tertinggi manusia kepada Tuhannya yang dicerminkan dengan tindakan-tindakan tertentu. Dimana tidakan tersebut berupa pendekatan diri yang dilambangkan melalui kecendekiaan. Sedangkan sikap yang selanjutnya adalah menjauhkan diri dari kemudharatan dan apa saja yang tidak disukai oleh Tuhan melalui pembebasan yang mandiri. Dengan cara demikian diharapkan terciptanya manusia yang bertaqwa kepada Tuhan.

Penulis : Rizki Nur Arifman

About admin

UNY COMMUNITY - Komunitas Mahasiswa dan Alumni UNY - kirim artikel menarik kalian ke redaksi@unycommunity.com, syarat dan ketentuan baca  Disini 

Check Also

Menikmati Sunset Di Ratu Boko

Sebuah gapura batu nan megah tampak menawan ketika sinar matahari sore memantul di sela-sela bangunannya. …