Prof. Haikal dan Perjumpaan Sesaat | UNY COMMUNITY
Home / Pojok #UNYu / Prof. Haikal dan Perjumpaan Sesaat

Prof. Haikal dan Perjumpaan Sesaat

BELUM tepat pukul 08.00 pagi kabar pilu bertuliskan Lelayu itu datang dari seorang kolega. Prof. Dr. Husain Haikal, M.A., profesor Jurusan Pendidikan Sejarah, UNY, wafat. Membaca secarik warta itu membuatku kaget dan terdiam sejenak.

Ingatan lampau mengenai beliau tiba-tiba muncul, meskipun selama ini baru bertemu sekali dengannya. Tapi perjumpaan itu, kalau tak salah pada siang hari tanggal 17 Desember 2014, di depan Ruang Sidang Utama (RSU) Rektorat, begitu mengesankan. Setelahnya aku berbincang secara imajiner melalui buah penanya di laman staff.uny.ac.id.

Latar belakang akademikku bukan sejarah sebagaimana Prof. Haikal, melainkan bahasa dan sastra Indonesia. Walaupun demikian, bukan berarti aku tak mempelajari semua bidang ilmu, termasuk sejarah, sebab bidang ini membawaku bertamasya ke masa silam.

Pelajaran sejarah menarik hatiku sejak SD. Kegandrungan ini semakin menguat manakala bersemuka dengan buku-buku karya Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, Taufik Abdullah, Ahmad Syafii Maarif, Kuntowijoyo, dan tentunya Husain Haikal. Nama-nama tersebut mulai kukenal semenjak masuk di perguruan tinggi.

Tentu pelajaran sejarah yang kupahami tak mirip seperti persepsi sejarawan pada umumnya. Bagiku sejarah adalah rekonstruksi kehidupan yang akan awet bila dibaca terus-menerus. Pengertian kehidupan di situ menandakan potret peristiwa yang berisi pelajaran bagi generasi baru. Tak dinyana tatkala sejarah mulai dibuka dan dibaca, maka ia akan menimbulkan efek emotif: sedih, gembira, getir, harap, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Jika Gelombang Theta Telah Memasuki Otak Mahasiswa Saat di Kelas

Kenangan berjumpa dengan Prof. Haikal di suatu siang itu menegaskan betapa sejarawan memiliki kemampuan mengikat hanya dengan tatapan mata tajam sekaligus berjabat tangan. Momentum tersebut teringat jelas hingga tulisan ini diketik.

Perjumpaanku dengan Prof. Haikal tak direncanakan sebelumnya. Siang itu aku lewat depan RSU usai mengurus mahasiswa yang membutuhkan advokasi di ruang rektor. Saat menaiki tangga sayap barat, seorang sesepuh dari arah timur tersenyum, dan pelan-pelan mendekati. Ia kemudian menjulurkan tangan dahulu tanda hendak menyalami.

Siapa orang asing itu kok tanpa ada angin mengajak jabat tangan duluan. Pikirku sambil gayung bersambut menjabat tangannya yang telah dipenuhi keriput tanda telah banyak makan garam kehidupan. Tak sepatah kata muncul dari mulut kami. Kecuali hanya ekspresi tatapan tajam dan senyuman.

Aku keluar dari rektorat dan menuju ke Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), FBS. Malamnya berselancar ke jagat maya dengan gawai bututku. Setelah membuka laman jejaring sosial, kusempatkan untuk membuka uny.ac.id.

Di halaman pertama, bagian atas, terdapat berita seremonial bertajuk Purnatugas Prof. Dr. Husain Haikal, M.A. dengan foto resmi seorang sesepuh yang rambutnya telah putih semua. Foto itu mirip seseorang yang kulihat siang sebelumnya. Ternyata persis!

Baca Juga  Hai Anak Kost; 4 Masjid di sekitaran UNY Ini Memberikan Buka Puasa Gratis Loh!

Nama itu kemudian aku cek di kolom daftar dosen-dosen UNY. Tak sampai tiga detik kata kunci yang kuketik tadi mengantarkanku pada profil dengan bejibun keterangan di sana. Yang membuat aku kagum adalah publikasinya, baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris. Karya tulisnya tersebar di belahan negeri. Selain karya ilmiah, Prof. Haikal, ternyata, juga penulis esai yang ciamik.

Karya terlawasnya yang kuunduh dari laman Prof. Haikal—semuanya berjumlah 18 tulisan yang terunggah—ditulis tahun 1973. Artikel ilmiah berjudul Islam & Modernisme: Telaah Ringan Gerakan Tadjid Islam itu publikasikan di Lembaga Penerbitan Ilmiyah (sic!), Fakultas Ushuludin, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga.

Tulisan Prof. Haikal itu barangkali dialamatkan untuk pembaca terbatas, khususnya di kalangan mahasiswa IAIN sebagai pedoman kapita selekta. Tulisan berekstensi pdf tersebut merupakan hasil dari scan naskah asli yang terlihat mulai menguning. Dari situ bisa ditebak ketekunan Prof. Haikal dalam pengarsipan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan terpampang jelas di sini.

Produktivitasnya dalam menulis menandakan betapa usia senja tak menjadi halangan bagi Prof. Haikal untuk terus berkarya. Intelektualitas, menurut Prof. Haikal, harus disemai dengan membaca dan menulis. Tanpa keduanya otak dan kreativitas manusia akan tumpul.

Sejawat dan mahasiswa Prof. Haikal mafhum betapa kehidupan pria kelahiran Semarang ini tak terlepas dari diskusi dan buku. Ipung, salah seorang temanku dari Pendidikan Geografi FIS, pernah diajak Prof. Haikal berburu buku di Toga Mas.

Baca Juga  Akun Instagram yang WAJIB Mahasiswa UNY tau

Ia diminta menemani Prof. Haikal untuk membeli buku-buku sejarah, fisafat, sastra, politik, dan terbitan terbaru lain. Atas kebaikan hati Prof. Haikal, Ipung pernah dibelikan buku. Begitu girang dirinya saat menerima buku itu.

Senada dengan Ipung, Pebri, mahasiswi Pendidikan Geografi, juga mempunyai pengalaman menarik nengenai Prof. Haikal. Pebri pernah mewawancarai Prof. Haikal secara intens dalam rangka menggayung inspirasi. Gelimang ilmu Prof. Haikal seolah-olah mengucur deras bagi mereka yang girang bertanya.

Kedua sahabatku itu juga pernah mengatakan kalau kehidupan Prof. Haikal begitu sederhana. Tiap jam kerja, selain diantar anaknya, Prof. Haikal lebih sering naik bus menuju kampus. Kebersahajaan ini diamini para mahasiswa lain yang beruntung mendapatkan kelas Prof. Haikal. Rekam jejak beliau serupa peribahasa semakin berisi semakin merunduk.

Kini sesepuh lulusan Duquesne University, Pittsburgh (M.A.) dan University of Hawaii at Manoa—dua kampus prestisius di Amerika Serikat—telah mangkat menuju perjalanan nyawa berikutnya. Meski secara fisik dan nyawa telah berpulang, warisan ilmu dan teladannya masih terus mengalir bagi generasi milenial yang masih menjunjung tinggi tradisi membaca sejarah.

About Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY

Check Also

Mi Ayam Ciamik Sekitar UNY

SELAMA studi di UNY kamu jangan hanya kuliah dan organisasi semata, tetapi juga perlu wisata …