Sastra

Resensi Buku Danarto: Berhala Adalah Simbol

Saat awal perkuliahan, saya diperkenalkan oleh kawan saya pada sastrawan dengan karya-karyanya yang menakjubkan, Danarto. Mendiang Danarto patut membuat siapapun yang membaca karyanya berimaji – imaji tinggi bahkan tertawa heran atas absurdisme miliknya.

Foto: Twitter Samirono_Book

Orang Ini Sudah Siap Dicabut Nyawanya?

Pada buku Berhala, salah satu cerpen Danarto mengatakan bahwa seseorang dapat memdengar kaki tangannya berbicara sendiri dan bersaksi kepada Malaikat.

“Dinding Anak” menceritakan tentang tokoh Bibit yang mengetahui bahwa Malaikat Izrail akan segera mencabut nyawanya.

Penuh ketakutan akan takdirnya, pergilah Bibit ke belahan bumi manapun, hidup di desa terpencil, dan mengganti nama sebagai Sruni agar Izrail tidak mengenali Bibit.

Izrail sang malaikat pencabut nyawa, tentu dengan mudah menemukan Bibit dalam sekejab, tepat di hadapan matanya.

“Apakah orang ini sudah siap dicabut nyawanya?” Tanya Izrail.

Cerpen ini menceritakan tentang bagaimana epiknya kaki, tangan, bahkan rambut yang bisa bersaksi dan berbicara kepada Izrail. Cerita tentang takdir kematian manusia, tetapi ditulis dengan nada jenaka.

Pada sisi menarik lain, Danarto selain sebagai sastrawan juga dikenal sebagai tokoh agamawan. Beliau sering menyelipkan makna-makna religi yang dicampurkan imaji-imaji yang menarik.

Gaya Surealisme Danarto

Danarto dengan mulus menuliskan kisah-kisah keseharian yang banyak terkait dengan setting orde baru, seperti korupsi, pembunuh misterius, gabungan anak liar, dan pembakaran pasar dengan gaya surealismenya.

Baca Juga  Puisi : Nasihat Ibu

Pada karya cerpen “Gemeretak dan Serpihan- Serpihan” banyak menyisakan kepiluan. Atas nama uang, seseorang rela membabat habis kampungnya menggunakan si jago merah. Ia kabur dengan gelak tawa dan kobaran api yang membumbung tinggi. Pada asap tebal kebakaran yang pekat tersebut, tergambar wajah-wajah duka penduduk kampung.

Selain tentang religi, beberapa masalah tentang politik banyak dituangkan Danarto dalam karyanya. Tentu dengan gaya surealismenya.

Berhala Adalah Simbol

Tentang bentuk dari fisik buku, meskipun buku ini diberi judul Berhala dengan gambar cover tangan berlatar merah, tetapi dalam buku yang memuat tiga belas judul cerita pendek ini, tidak ada satupun kata Berhala.

Mengapa diberi judul Berhala tetapi tanpa mencantumkan cerpen Berhala di dalamnya?

Danarto menggunakan judul bukunya dengan simbolik, menurut beberapa ulasan, kurang lebih Berhala yang dimaksudkan dalam di buku ini berkaitan dengan apa-apa yang kita terlalu idolakan atau yang kita cintai berlebihan sehingga membuat kita lupa akan Tuhan.

Esensi dari berhala itu sendiri adalah segala hal yang disembah. padahal yang disembah bukan Tuhan.

Danarto menggambarkan berhala dalam bukunya bukan sebagai patung-patung, tetapi dalam bentuk jabatan, harta, anak, kecerdasan, dan seluruh kehidupan dunia yang dapat mengakibatkan kerakusan manusia.

Umar Kayam: Danarto Punya Dunia Alternatifnya Sendiri

Jika semakin dipikir karya-karya dalam buku ini akan membuat pembaca semakin bingung, merasa tidak masuk akal, bahkan tertawa geli sehingga membuat siapapun yang membaca ingin melanjutkan karena penasaran.

Baca Juga  Menjinjing Takdir

Umar Kayam adalah seorang penulis, budayawan, dan akademisi. Ia berkarya sebagai Guru Besar Fakultas Sastra di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau mengatakan, bahwa Danarto seperti mengajak pembacanya untuk masuk “dunia alternatifnya”. Danarto pemilik pintunya dan sengaja meninggalkan ratusan cerita berwajah “absurd”.

Tentang Danarto

Danarto merupakan darah kelahiran Sragen, Jawa Tengah pada 27 Juni 1940. Seorang maestro sastra Indonesia yang terkenal dan juga seorang yang aktif dalam dunia teater, seni rupa, wartawan, dan aktif menjadi dosen di Institute Seni Jakarta selama 11 tahun (1973-1984) berdasarkan Ensiklopedia Sastra Indonesia.

Kini Danarto telah berpulang pada 2018 lalu. Meninggalkan segudang karya-karya yang luar biasa menakjubkan. Seorang Danarto yang syarat akan cerpennya tentang kematian telah menyusun strategi kepulangannya sendiri. Beliau akhirnya bertemu Malaikat Izrail seperti dalam cerpennya “Dinding Anak”.

Danarto menjadi satu penulis yang jeli menangkap perkara sosial dan agama dalam karya tulisnya. Mengemasnya dan menghadirkannya untuk pembaca dalam bentuk tanda tanya sekaligus jawaban. Banyak imaji-imaji yang epik dan tak terpikirkan.

Bagi yang ingin lebih dalam menyelami sastra, serta tau bagaimana sesuatu yang surealis itu bisa menggelikan, buku Berhala karya Danarto menjadi salah satu yang wajib dibaca!

Related Articles

Back to top button
X