Mahasiswa BangetPojok #UNYu

Hanya Mahasiswa Asal LAMPUNG yang Merasakan Hal Ini

Lampung. Salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang letaknya paling selatan berdekatan dengan Pulau Jawa. Kekhasan Lampung salah satunya adalah Taman Nasional Way Kambas. Terkait masyarakat, tidak sedikit juga yang bukan penduduk asli Lampung alias pendatang. Karena suatu sebab, ikut transmigrasi misalnya, maka menetaplah di Lampung. Tidak jarang juga orang mengira bahwa Lampung masih berupa hutan dan banyak lahan kosong. Seperti itukah?

Menara-Siger
pic : anekatempatwisata.com

Baiklah, akan lebih menarik jika menilik sisi lain dari kehidupan mahasiswa asal Lampung yang justru malah merantau ke Pulau Jawa untuk kuliah. Kejadian unik yang akhirnya malah menjadi lumrah kerap terjadi. Kamu mahasiswa asal Lampung? Pasti merasakan hal ini. Simak.

Beberapa Orang Masih Belum Memahami Provinsi Lampung

A: Asli mana, Mbak?

B: Saya dari Lampung, Mbak.

A: Oh, yang di Pulau Sumatera itu ya? Kalau pulang, titip mpek-mpek ya, Mbak.

B: Iya Sumatera paling selatan, Mbak. Bukan Palembang.

Nah loh, yang bingung siapa kalau begini?

Mereka Bilang: “Saya Kira, Kamu Keturunan Tionghoa”

A: Asli mana, Mas?

B: Saya asli Lampung, Mas.

A: Matanya sipit kayak keturunan Tionghoa.

Kerap disangka keturunan Tionghoa. Yes. Perawakan suku Lampung memang sepintas seperti keturunan Tionghoa. Bermata sipit, kulit kuning langsat, rambut lurus. Baiklah, mereka hanya belum tahu saja.

Baca Juga  Fakta Tentang PLAZA UNY yang Harus Kamu Tahu!

Menjadi Rahasia Umum Kalau Lampung Jadi Sarangnya Begal

Belakangan, di media mana pun, membooming kasus pembegalan yang selanjutnya di Lampung sendiri juga tak kalah booming aksi pembegalan di berbagai tempat. Famous deh akhirnya. Saking famousnya, tak jarang malah sering menjadi bahan ledekan teman-teman bahkan bahan gombalan.

A: Lampung sarangnya begal ya, Neng?

B: Iya, Bang. Serem kan?

A: Kalau Abang yang begal hati Eneng, kira-kira masih serem gak?

#Eeeeaaaaaa. Tamat. Happy Ending!

Momentum Mudik, Momentum Kopi Lampung dan Kripik Pisang

Cek, test, mahasiswa Lampung. Selalu ada titipan kopi lampung dan kripik pisang dari teman-teman gak  kalau pas wayahnya mudik? Sebagian besar pasti akan menjawab, YA. Jelas saja ya, gaes. Dua makanan tersebut emang udah jadi kekhasan dari Lampung kok.

Baca juga : Seputar Pertanyaan “Nyeleneh” yang Berpotensi Diajukan Dosen Saat Sidang Skripsi

Inilah Ekspektasi Awal: Lagi Ngomong Biasa, tapi Dikira Marah-marah

Beberapa adat di Indonesia memang khas, gaes. Salah satunya dari segi pembawaan saja. Begitu juga dengan orang Lampung. Umumnya, orang Lampung memang memiliki timbre suara keras dan penuh keyakinan saat sedang berbicara. Maka, wajarlah jika yang belum mengenal akan muncul ekspektasi, “Ini orang lagi ngomong apa lagi marah?”

Baca Juga  Ingin Matriks KKN-mu Terlaksana dan Lancar Jaya, Berikut Tipsnya

Plat BE, Sekelik ikam (Saudara Saya)

Ciri yang tak terduga-duga di waktu yang tak terduga dan menemukan satu kesamaan, yaitu sama-sama orang Lampung. Situasi lagi di jalan, naik motor, trus gak sengaja liat motor berplat BE. Nyeletuk deh, “Anakidah, sekelik ikam! (Astaga, saudara saya!).

Beberapa Miskomunikasi yang Sering Terjadi

Kecenderungan miskomunikasi berpotensi terjadi antara mahasiswa Lampung dan bukan ya, gaes. Misal antara mahasiswa Jawa dan Lampung waktu sedang ngobrol. Begini nih  contoh kasusnya.

A (Mahasiswa Jawa)        : Mau nongkrong di mana ntar malem, gan?

B (Mahasiswa Lampung): Basing kamu oranglah, saya ngikut.

A (Mahasiswa Jawa)        : Basing tuh di sebelah mana? Baru denger.

B (Mahasiswa Lampung): Maksud saya, terserah aja mau nongkrong di mana.

  Saya ngikut.

Kalau sudah miskomunikasi gitu, level aman, gunakan bahasa pemersatu saja, gaes. Yes. Bahasa Indonesia.

So? Rasa-rasa yang semacam itu pasti dirasakan oleh mahasiswa Lampung yang merantau kuliah di Jawa. Wajar ya, semua tinggal penyesuaian saja, maka kesalahan-kesalahan teknis bisa mangkir dengan sendirinya. Salam Budaya.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X