JogjakuWisata

Kotagede, Dari Pusat Pemerintahan Hingga Pusat Wisata

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sekaligus menjadi ibu kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau kita lihat sekilas di dalam peta atau google maps, Yogyakarta terletak di tengah-tengah 4 kabupaten. Menjadi satu-satunya kota di DIY, maka istilah dan peraturannya pun juga berbeda, salah satunya adalah penyebutan kecamatan. Di kabupaten, kecamatan di sebut dengan kapanewon. Sementara di kota, kecamatan disebut dengan istilah kemantren. Nah, sebagai sobat #UNYu yang tinggal di Jogja, kita perlu mengetahui bahwa Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kemantren dan 45 kelurahan. Empat belas kemantren tersebut adalah Danurejan, Gedongtengen, Gondokusuman, Gondomanan, Jetis, Kraton, Mantrijeron, Mergangsan, Ngampilan, Pakualaman, Tegalrejo, Umbulharjo, Wirobrajan, dan Kotagede.

Kotagede Sebagai Pusat Pemerintahan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, terdapat satu kemantren bernama Kotagede. Kotagede merupakan salah satu kemantren yang seharusnya tidak asing di telinga orang Jogja. Kotagede ini menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Pada masa kerajaan Mataram Islam, tepatnya pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, Kotagede ditetapkan sebagai ibukotanya. Hal inilah yang menjadikan pusat pemerintahan kerajaan Mataram Islam terletak di Kotagede. Singkatnya, pada zaman dahulu, Kotagede menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal tersebut mungkin masih bisa kita rasakan mengingat hiruk pikuk di Kotagede masih terasa hingga saat ini.

Kotagede Sebagai Pusat Wisata

Banyaknya peninggalan sejarah yang masih bisa kita lihat di wilayah Kotagede memaksa warga Jogja, khususnya yang berada di Kotagede untuk tidak melupakan sejarah kerajaan Mataram Islam. Mulai dari watu gilang, mainan Pangeran Ronggo pada saat itu; Makam Raja-Raja Mataram yang terletak di sebelah Kompleks Masjid Gede Mataram; Pasar Legi Kotagede yang menjadi pasar tertua di Yogyakarta; dll. Adanya peninggalan sejarah yang sarat makna ini menjadikan Kotagede yang awalnya merupakan pusat pemerintahan, kini beralih menjadi pusat wisata

Baca Juga  5 Singkatan Nama Jalan Yang Cuma Ada Di Jogja , Perantau Wajib Tahu !

Tidak sedikit wisatawan yang memilih Kotagede sebagai salah satu destinasi wisata saat berlibur ke Yogyakarta. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Kotagede memiliki banyak sekali peninggalan sejarah kerajaan Mataram Islam. Menariknya lagi, masing-masing peninggalan sejarah tersebut memiliki cerita yang unik. Selain unik, peninggalan-peninggalan tersebut juga dijaga dengan baik bahkan terdapat juru kunci dan abdi dalem yang bertugas sebagai penjaga dan pelaksana operasional di wilayah kompleks Masjid Gede Mataram dan Makam Raja-Raja Mataram. Hal tersebut menjadikan Kotagede masih memiliki budaya yang kental dan nilai keestetikan di dalamnya juga tidak luntur.

Kalau sobat #UNYu termasuk orang yang hobi hunting foto, Kotagede adalah salah satu tempat yang cocok untuk dijadikan tujuan. Kompleks Masjid Gede Mataram, Gang Soka, Omah Kalang, Tembok Ijo, yang tidak jauh dari Kompleks Masjid Gede Mataram adalah beberapa tempat yang cocok untuk dijadikan sebagai spot foto atau istilah zaman now-nya adalah instragamable. Bangunan dan rumah bergaya Jawa dengan campuran arsitektur Belanda atau Indis menjadi salah satu alasan mengapa Kotagede memiliki begitu banyak tempat yang instagramable.

Selain itu, sobat #UNYu juga bisa berburu pernak-pernik kerajinan perak dan kuliner khas Kotagede. Untuk urusan kerajinan pun, Kotagede ini punya cerita sejarahnya sendiri. Singkatnya, kerajinan perak ini bisa ada karena andil warga Kotagede dalam membuat kerajinan emas dan perak yang dibawa oleh wong Kalang – salah satu kelompok pendatang baru.

Baca Juga  Canting Mas Puncak Dipowono, Surga Kecil di Bukit Menoreh

Kuliner khasnya pun juga memiliki cerita sejarah sendiri, salah satunya kipo. Kipo ini merupakan jajanan pasar berupa kue basah yang mungkin hanya bisa dijumpai di Kotagede. Istilah kipo ini merupakan singkatan dari kata “iki opo?” atau “ini apa?” dalam bahasa Indonesia. Kalimat tersebut diucapkan oleh Sultan Agung saat disuguhkan hidangan asing yang kini bernama kipo. Selain kipo, ada juga Pabrik dan Toko Cokelat Monggo yang menjadi ciri khas cokelat dari Yogyakarta.

Dari banyaknya peninggalan sejarah dan cerita di Kotagede ini, kita bisa mengetahui bahwa pelestarian sejarah dan budaya memang diperlukan. Seperti di Kotagede, sejarah bisa menjadi hal yang menarik, jika dikemas secara menarik pula. Zaman memang semakin modern dan kita tidak bisa menutup diri dari perkembangan tersebut. Akan tetapi, sejarahnya masih tetap bisa kita jaga tanpa merusak nilai-nilai kebudayaan di dalamnya, yaitu dengan menjadikannya sebagai pusat wisata.

Zahra Radhiyya M

Mahasiswi S1 Pendidikan Teknik Boga

Related Articles

Back to top button
X