JogjakuWisata

Mereguk Jejak Sejarah Museum HM Soeharto di Kemusuk

Pagi itu, cuaca begitu sejuk, hujan rintik-rintik berlahan turun membasahi salah satu dusun yang menjadi bagian dari kabupaten yang terkenal dengan geplaknya itu. Jalanan aspal di depan sana warnanya mulai menghitam, titik-titik gerimis yang terhampar di atasnya sekilas seperti jutaan permata yang bertebaran. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, mata berkali-kali dimanjakan oleh hamparan sawah luas yang mulai menguning. Hingga tibalah kami di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul.

Memorial ini terletak sekitar 10 km dari arah pusat kota jogja. Lokasi memorial ini bisa diakses dari Jalan Wates maupun Jalan Godean. Lokasi memorial H.M. Soeharto terletak  sekitar 1 km ke utara  dari Jalan Wates km 10 (Perempatan Pedes) mengikuti jalan Pedes-Godean, sebelum perempatan Pasar Menulis ke kanan (timur) sekitar 200 meter. Kalau dari Jalan Godean, lokasi memorial ini dapat di capai dengan menggunakan rute perempatan Pasar Godean ke selatan sekitar 4 km, hingga sampai perempatan Pasar Menulis, kemudian belok kiri (timur) sekitar 300 meter. Bangunan memorial ini sendiri terletak di utara jalan.

1388803732704769751

Setelah memarkirkan kendaraan, mata kami langsung tertuju pada sebuah papan di ujung tiang yang berbentuk bendera yang dicat dengan warna merah putih. Memorial Jenderal H.M. Soeharto,begitu tulisan yang tercetak di papan itu. Memasuki area memorial, kami sedikit kebingungan. Kami tak menemukan loket pembayaran retribusi yang lazim ditemukan disetiap objek wisata. Untunglah, seorang petugas memorial yang mengenakan baju batik menghampiri kami, dan menjelaskan bahwa untuk masuk tempat wisata ini memang tidak dikenakan biaya alias gratis. Itu berarti para pengunjung Memorial Jenderal H.M. Soeharto hanya perlu membayar biaya parkir kendaraan saja.

Baca Juga  Menikmati kesegaran Air terjun kembang soka

Sebuah patung jenderal besar H.M. Soeharto yang terbuat dari perunggu menyapa kami tepat di depan gerbang memorial. Tak jauh dari samping patung terdapat prasasti peresmian memorial. Pada sisi kiri patung, sebuah mushola dengan kubahnya yang berwarna keemasan berdiri dengan cantiknya. Tepat di belakang patung terdapat bangunan pendopo utama yang masih kental mengusung gaya arsitektur jawa, lengkap dengan ukirannya yang terpahat penuh makna. Bersisihan dengan pendopo megah tersebut, gedung memorial jenderal besar H.M. Soeharto berdiri. Menyambung antara bangunan memorial dengan mushola, ada sebuah tembok besar yang bertuliskan Memorial Jenderal Besar H.M. Soeharto. Reliaf H.M. Soeharto dalam posisi sholat terukir pada dinding itu, tepat di depan relief itu terdapat pahatan aksara jawa.

Sebelum memasuki gedung memorial jenderal besar soeharto, kami memilih untuk duduk di pendopo. Menikmati film dokumenter H.M. Soeharto yang tengah diputar dengan mengggunakan proyektor. Setelah itu, kami beranjak menuju gedung memorial H.M. Soeharto. Gedung ini bernama Gedung Atmosudiro. Nama Atmosudiro ditambatkan dari nama eyang H.M. Soeharto. Isi dari gedung ini adalah diorama yang mengisahkan visualisasi tonggak-tonggak penting dalam perjalanan hidup H.M. Soeharto. Dirancang dengan teknologi multimedia dan tata gedung artistik. Pengunjung laksana berjalan mengarungi waktu. Bagian dalam Gedung Atmodusiro ini terbagi menjadi lima selasar, yaitu selasar gedung karya berbentuk gulungan (rol) film, selasar serangan oemoem 1 maret 1949, selasar trikora/operasi mandala, selasar kesaktian pancasila, serta selasar masa pembangunan.

Baca Juga  Camping di pantai Sadranan

Berada di gedung ini membuat kami kagum dengan kemutakhiran teknologi dan keindahan seninya. Peristiwa-peristiwa sejarah dari masa lalu diwujudkan begitu apik. Siluet-siluet indah gambar tokoh dapat ditemui di sini, atau sebuah kaca tegak yang secara bergantian memunculkan gambar para, foto-foto H.M. Soeharto pun dikemas dari akrilik yang disusun tinggi pendek. Untuk sesaat kami seperti tengah berada di sebuah geleri seni. Galeri seni yang memberikan banyak pengatahuan sejarah lebih tepatnya.

Puas menikmati isi gedung mememorial kami segera beranjak keluar. Sekilas ketika melangkah keluar, mata tertuju pada langit-langit pendopo bagian samping. Siapa sangka di atas sana gambar para tokoh pahlawan revolusi tercetak indah. Perhatian kami pun beralih kepada bangunan besar bergaya tradisional jawa yang terdapat di sekitar gedung memorial.

Di belakang pendopo terdapat Gedung Notosudiro. Nama gedung ini ambil dai nama eyang buyut H.M. Soeharto. Bangunan ini merupakan tempat persinggahan, di bagian depan gedung terdapat gedungan cukup luas yang berisikan buku-buku perpustakaan tentang H.M. Soeharto yang bisa dibaca para pengunjung. Di sisi timur Gedung Notosudiro terdapat sumur yang merupakan satu-satunya petilasan H.M. Soeharto.

Puas bekeliling memorial kami beranjak pulang, melewati jajaran penjual oleh-oleh di dekat tempat parkir, meninggalkanmemorial indah yang terletak di dusun yang asri itu. Ada satu pelajaran yang kami petik dari kunjungan ini, bahwa menyelami kehidupan sejarah bangsa pun bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Resti Dhian

Apa yang saya tulis belum tentu saya | Alumni PBSI UNY

Related Articles

Back to top button
Close
X