AsmaraMotivasiPojok #UNYu

Surat Cinta Teruntuk BAPAK

Bapak..

Lelaki pertama yang menatapku dengan penuh bangga, sekriminal apa pun laku masa kecilku dulu. Bapak tidak pernah terlalu ambil pusing melihatku berkembang dengan kenakalan ini itu. Hanya sesekali tertawa kecil dengan nada pembelaan setiap Ibu memarahiku. Lantas aku berlari meminta perlindungan sembari menangis untuk bisa segera lepas dari omelan.

Hari-Ayah
pic : ciricara.com

Bapak..

Seingatku, Bapak hanya pernah sekali mengambilkan raportku waktu kelas 1SD dulu, tapi lebih sering menandatangani saja. Ah, bagiku itu tak terlalu masalah. Seberapa pun nilai raportku, Bapak tidak pernah marah karena telah sangat paham proses yang sudah kujalani. Bapak juga selalu bersukacita mengirimkan berkas nilai ke perusahaan untuk menambah uang sakuku. Tak pernah keberatan rasanya saat SMA, berkas nilai raport itu menjadi jauh dari harapan nilainya. Intinya, Bapak tetap memandangku sebagai anak yang cerdas dan manja.

Baca Juga  Renungan Mahasiswa Tingkat Atas : Saya Pernah dan Akan Menjadi “MABA” yang Memiliki Masa Depan

Bapak..

Meski jarang ngomel, tapi bentuk murka Bapak jauh lebih menakutkan daripada Ibu. Meski tidak pernah main tangan bahkan melantunkan nada kasar, beberapa kata-kata menukik jelas lebih menampar. Atau bentuk bahasa mata yang melotot misalnya, cukup mendebarkan ketakutan. Hanya menyadari, laku itu adalah bagian dari proses pendidikan dan pembelajaran. Tapi setelah itu, Bapak kembali seperti biasa lagi padaku. Bercanda lagi, main gitar lagi, dan duduk bersisian untuk berdiskusi. Diskusi tentang apa itu? Salah satunya tentang masa depan.

baca juga : Dear, Mbakku yang tangguh lahir batin…

Bapak..

Anakmu ini sekarang sudah beranjak besar. Pikiran tentang masa depan jelas memerlukan arahan dan diskusi serius. Bapak hanya berpesan, “Lakoni apa yang kamu cintai.” Mengerjakan hal atas dasar cinta biasanya akan lebih memuaskan dan berharga daripada dicampuri dengan keengganan yang berujung pada keterpaksaan. Pun tentang masa depan. Itu makanya untuk urusan penentuan jurusan kuliah dan pekerjaan, Bapak tak pernah memaksakan. Tapi pernah Bapak berkata bahwa masa depan bukan melulu soal penghidupan yang berbasis kerja, tapi juga tentang hati yang perlu hidup berdampingan alias pasangan.

Baca Juga  Sukses Bisnis Desain ala Kang Kikur Founder "Inipagi"

Bapak..

Meski tidak secara langsung kuceritakan tentang perjalanan cintaku, tapi pada akhirnya Bapak mendengarnya dari Ibu. Kali ini, beberapa penggal kisah cinta belum sukses terselesaikan. Ada yang kandas di tengah jalan karena pengkhianatan, ada juga cinta yang tak kesampaian. Ah Bapak, harus kuakui. Belum ada bahu senyaman milikmu untuk menjadi tempat sandaran saat putus cinta. Tapi aku ingat pesanmu, “Yang meremukkan hati anak Bapak, akan diganjar oleh Tuhan.”

Bapak. I love you!

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X