AsmaraPojok #UNYu

Tentang Cinta dan Kemelut yang Selanjutnya Disebut Perpisahan

Mengenalmu dan mengakhiri semua sebegitu cepat adalah kejelasan jalan yang sudah ditakdirkan Tuhan tanpa harus bersumpah. Memiliki kisah lain dari sekedar kenal, juga menjadi hal yang lumrah. Menawarkan intensitas yang sempat intim juga bukan menjadi sesuatu yang wah. Saya dan kamu memang pernah saling mengisi hari dengan tujuan yang sampai kini entah. Ah, baiklah. Meski singkat, apa boleh buat? Ya sudahlah.

saat-perpisahan

Saya memang sempat agak kurang ajar memberanikan diri untuk mengenalmu lebih lanjut. Tapi, siapa yang sangka jika kamu malah bak gayung bersambut? Sikap dan lakumu pun saya pahami makin lembut. Tak ada celah kekurangan padamu dan makin membuat perasaan saya bergelayut. Untungnya saya tidak terlalu hanyut. Jika sampai terlanjur hanyut, saya bisa kalangkabut.

Baca Juga  Trik Simpel Manajemen Uang Versi Mahasiswa FE

Baca juga : Ungkapan Cinta Ini untukmu “Yogyakarta”

Beberapa pesan via bbm dan whats-app sempat sangat mengisi hari-hari kita. Candaan, ungkapan kata-kata mesra, dan mengetahui aktivitas sehari-hari, kesemua itu menjadi topik yang biasa. Tawaran jalan darimu pun saya terima. Sebenarnya, saya tidak menyangka bahwa ini adalah awal dari semua. Dan, ya.. Semua memudar dengan pasti pada masing-masing kita. Memudar dengan pekat, bukan malah menjadi berwarna. Karena saya pun akhirnya tau bahwa kamu telah lebih dulu berdua dengannya. Praktis, hati kecil saya berkata, “Saya telah dipercundangi cinta!”

Saya egois, masih belum rela melepasmu begitu saja secepat itu. Spontan, saya bersikap wajar dan seolah baik-baik saja dalam balutan senyum semu. Padahal kenyataan itu sempat sejenak membuat hati ini beku. Saya pertegas di sini padamu. Saya memiliki keegoisan yang terlalu. Apa buktinya bahwa rasa egois saya terlalu? Saya tau, bahumu itu masih miliknya dan lebih sering menjadi penopang hari kekasihmu. Tapi, saya nekat bertahan di bahumu malam itu.

Baca Juga  Inilah, Hal-Hal yang Para Alumnus Lakukan Ketika Ke Kampus

Kepada kekasihmu yang tak saya kenal: Maafkan, saya lancang. Saya telah berani menggeser pintu hubungan kalian yang kencang. Saya yang mengetuknya dan lelakimu yang membuka pintu itu dengan terbentang. Saya masuk meski telah mengerti bahwa ada yang lain yang dia sayang. Tapi tak lama karena saya memilih pulang. Saya memilih kembali menjadi mandiri tanpa kekasihmu tersayang.

Dy Zhisastra

Saya menyayangi mereka yang menyayangi saya | Pegiat Sastra Universitas Negeri Yogyakarta

Related Articles

Back to top button
Close
X