Liyan yang Terabaikan di Ospek FBS | UNY COMMUNITY
Home / Opini / Liyan yang Terabaikan di Ospek FBS

Liyan yang Terabaikan di Ospek FBS

EMPAT tahun terakhir saya mendapatkan ceritera yang sama persis soal kenapa acap terjadi kesurupan di kampus ungu. Momen kejadian itu berulang tiap tahun selama perhelatan akbar mahasiswa baru (Maba) digelar.

Peristiwa ini menuai tanda tanya bagi saya karena dimulai sejak tahun 2013. Dua tahun sebelum itu, terlepas dari limitasi pengetahuan saya, pada 2011 dan 2012, saya tak menyaksikan kesurupan di depan mata.

poladata.co.id

Tahun 2013 memang beda. Pada pertengahan acara di Stage Tari—kini telah diratakan—terdapat satu atau dua Maba yang mengalami simtom psikologis di luar nalar. Mereka tiba-tiba tak sadarkan diri dan beberapa saat kemudian menuturkan kata-kata asing.

Suaranya mirip orang tua berusia 80-an. Agak serak dan sesekali berdeham. Teman gugusnya yakin bahwa itu bukan teman yang dikenalinya. Ada semacam energi supranatural yang merasuki sahabatnya itu.

Panitia lekas mengamankan Maba itu di ruang P3K. Tindakan demikian ia lakukan semata-mata demi keselamatan diri sang anak. Terutama juga agar acara Ospek tetap berjalan kondusif tanpa gangguan verbal yang ditimbulkan Maba tersebut. Namun, dugaan itu meleset.

Baca Juga  RENUNGAN BERSAMA: Urgensinya Memberi Ruang Untuk Diri Sendiri

Salah seorang Maba di gugus lain yang semula tenang karena menyimak paparan materi tiba-tiba berteriak dengan gestur aneh: menunjuk pada suatu sudut selatan di ruangan Stage Tari. Tubuhnya kaku manakala panitia memboyongnya. Tak luput pula tendangan keras mendarat di muka panitia.

Menjelang magrib problem kesurupan semakin tak terbendung. Panitia pernah menangani sepuluh Maba kesurupan dengan tingkat anomali yang berlainan. Terkadang anak yang kesurupan itu melagukan syair Jawa kuna, menari, bermonolog, bahkan meraung. Sebagai anak yang tumbuh di lingkungan Jawa saya tak kaget dengan tontonan seperti itu.

Saya percaya bahwa “penduduk lain” yang telah lama tinggal di kompleks FBS ingin melakukan komunikasi dengan beragam cara. Hal tersebut lazim di tengah peta sosoiologi jin dan manusia. Keduanya sama-sama makhluk yang ditetapkan Tuhan untuk tinggal di bumi berabad-abad lampau.

Tapi kenapa tradisi kesurupan itu dimulai sejak tahun 2013 dan berlangsung terus-menerus hingga tahun 2017? Tak ada jawaban pasti. Tiap orang yang melihat dan mengalami secara empiris di sana hanya berasumsi menurut konstruksi pengetahuan masing-masing.

Baca Juga  Angkringan Paling Hits Di Sekitar UNY

Baik beragama maupun ateis menyimpulkan hal sama: terdapat dimensi lain di luar manusia yang eksis, bahkan mampu hilir mudik di lingkungan manusia. Demikian pula sebaliknya.

Ajang Silaturahmi

FENOMENA apakah kesurupan itu sehingga mampu mengendalikan kesadaran manusia secara sesaat? Jawaban ini sedemikian relatif, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Masing-masing individu juga mempunyai jawaban yang niscaya berbeda. Karenanya, tak ada jawaban absolut.

Ketimbang mempersoalkan kausalitas peristiwa lebih baik kita memaknai kejadian kesurupan sebagai nasihat gratis dari liyan kepada manusia. Bila kita jeli melihat realitas kesurupan di kampus ungu, maka kita akan mendapatkan pesan implisit. Jamak Maba yang kesurupan itu menuturkan sejumlah pesan yang padat bagi panitia.

Sebagai contoh tindakan panitia yang dianggap serampangan: membanting benda di depan Maba agar terkesan heroik. Pantas jika “sesepuh” yang menguasai sementara Maba itu mengujarkan petuah agar tak seharusnya melakukan demikian karena bukan tindakan etis—alih-alih sekadar gertakan yang diskenariokan.

Baca Juga  Renungan Masal: Sudah adakah PW buat Wisuda Besok?

Sikap “tegur-sapa” tersebut sangat baik dalam konteks keluarga. Bagaimanapun mereka juga saudara kita sesama makhluk Tuhan yang telah berada di FBS berpuluh-puluh tahun lamanya. Kendatipun cara yang mereka pilih cenderung (dianggap) irasional karena menggunakan pendekatan metafisika.

Metode demikian sebetulnya lazim dan dapat diterima nalar. Hanya saja kebanyakan generasi milenial kurang familer dengan “jagat liyan” yang mempertautkan yang gaib dan yang galib.

Ini, salah satunya, diakibatkan oleh dampak pendidikan modern yang terlalu membebankan rasio di atas segalanya. Oleh sebab itu, jika terdapat realitas imajiner seperti kesurupan di atas akan ditampik sebagai delusi yang mengada-ada.

Betapapun, kesurupan di FBS tak selayaknya dihindari, apalagi diusir secara tak terhormat oleh mereka yang mengaku pawang jin. Sikap demikian alih-alih direspons baik, malah justru akan semakin menggejala dan menunjukan pemberontakannya.

Lantas bagaimana kita menyikapinya? Barangkali, menurut saya, perlu dilakukan rapat bersama antara jin dan manusia. Bukan aktivis mahasiswa saja yang doyan rapat, melainkan juga jin beserta para stafnya.

About Rony K. Pratama

Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY