Untukmu; Laki-laki yang Terang-terangan Menepikanku demi Dia | UNY COMMUNITY
Friday , 21 September 2018
Home / Asmara / Untukmu; Laki-laki yang Terang-terangan Menepikanku demi Dia

Untukmu; Laki-laki yang Terang-terangan Menepikanku demi Dia

           Hai, Selamat pagi! Iya, kamu. Laki-laki tampan yang memang dianugerahi wajah rupawan oleh Tuhan. Kamu menyapa hidupku dengan teramat manis. Kita berkenalan saat hujan rintik lembut menyapa bumi. Jabat tangan yang bersahaja menjadi awal perkenalan. Tak seromantis adegan dalam drama korea memang, namun tatap matamu mampu membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

            Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan hatiku. Hati wanita mana yang tak melayang ketika diperlakukan bak seorang putri. Aku pun juga demikian. Ada rasa hangat  yang perlahan merambat di hati ketika sanjungmu mampu membuatku tersipu malu. Aku pun mengangguk ketika kamu mengutarakan cinta. Aku terdiam bahagia, menikmati sensasi ribuan kupu-kupu yang seperti tengah beterbangan memenuhi seisi rongga perut.

Baca Juga  5 Kebahagiaan Sederhana yang Diharapkan Wanita saat Menjalani LDR

            Bahagia. Itu satu kata yang tepat  untuk mewakili apa yang aku rasakan. Kamu memberiku banyak cinta dan kasih sayang. Kamu telah lebih dari mencukupkanku. Tak pernah terpikir sedikit pun di pikiranku bahwa kamu akan meninggalkanku.

            Hingga suatu hari, prahara itu datang begitu saja tanpa permulaan. Aku tidak bisa lagi mengakses akun sosial mediamu. Dengan tergagap aku mencoba meminta penjelasan padamu, ada firasat tak enak yang terus mengetuk dasar hatiku. Seribu alasan kamu berikan padaku, seolah-olah kamu juga tak mau hal ini terjadi.

            Aku termangu. Seorang teman berbaik hati memberiku akses untuk melihat sosial mediamu. Aku kelu, tak percaya dengan apa yang ku lihat. Kamu kerap kali berbalas komentar dengan seorang wanita cantik yang ku tahu itu bukan keluargamu. Bukan kedekatan dengan seorang teman, karena kamu memanggilnya dengan sebutan yang kelewat mesra.

Baca Juga  Ini Alasan Mengapa Sebagian Besar Wanita Terkadang Mencari Momen Untuk Menangis

            Aku tergugu. Langitku seakan kehilangan mataharinya. Ini bukan seperti kamu yang aku kenal. Bukan kamu  yang sempat aku kagumi kematangan sikapnya. Keyakinanku beradu sengit dengan realita. Mungkin dulu aku memang pernah terbutakan oleh cintamu. Namun seiring waktu akal sehatku kian tergugah.

            Curang! Itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan perilakumu. Kamu menepikanku dengan segenap sadarmu. Melanggar batas-batas komitmen dan janji kesetiaan yang kamu ucapkan dengan penuh kesadaran. Entah apa yang sedang berkecamuk di benakmu.

            Aku tersadar. Ini bukan waktu untuk berdiam diri dan pasrah terhadap keadaan. Kebahagiaan menjadi hal yang harus tetep diperjuangkan, sesulit dan sesakit apa pun itu kondisinya. Ketika kamu bisa seenak hati melanggar batas kesetiaan bukan berarti aku hanya bisa diam dan berharap pada keajaiban.

Baca Juga  7 Keuntungan pacaran dengan seorang guru

            Maaf dan terima kasih mungkin adalah dua hal yang akan ku ucapkan secara bersamaan sekarang ini. Kamu pernah memberiku kebahagiaan sekaligus luka. Ada saatnya aku harus memperjuangkan kebahagiaan sendiri. Tentu saja hidupku sangat tidak layak bila harus bersanding dengan laki-laki yang telah sengaja menepikanku. Ada saatnya aku memilih pergi. Karena aku pantas  untuk mendapatkan cinta yang utuh.

About Resti Dhian

Apa yang saya tulis belum tentu saya | Alumni PBSI UNY

Check Also

Dear Maba, Berikut Daftar Barang Dan Perlengkapan Mahasiswa Yang Sebaiknya Kamu Miliki

Selamat untuk kamu yang resmi menjadi mahasiswa tahun ini. Bagaimana perasaanmu? Senang sekaligus was-was? Kamu …